Tuesday, July 23, 2024
HomeDAERAHSAMARINDAMusim Penghujan Produksi Sawit di Kembang Janggut Merosot 4.000 Ton

Musim Penghujan Produksi Sawit di Kembang Janggut Merosot 4.000 Ton

DEADLINE.CO.ID, SAMARINDA- Sepanjang bulan Januari tahun 2023 hingga bulan Februari tahun 2023, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) di sebagian wilayahnya memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Curah hujan ini tidak hanya menyebabkan banjir yang kian pasang surut, tetapi hingga menghambat produksi berbagai usaha perkebunan.

Curah hujan yang tinggi ini pula dialami wilayah Desa Muai Kecamatan Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara. Wilayah Kecamatan Kembang Janggut, diketahui sebagai wilayah perkebunan kelapa sawit. Curah hujan ini mempengaruhi kualitas panen dari perkebunan kelapa sawit.

Ketua Asosiasi Koperasi Belayan Bersatu (AKBB) Jamaluddin menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit menyerap air dalam kuantitas yang tinggi. Namun, penyerapan air ini juga menurutnya harus dalam ukuran yang sesuai.

“Pada dasarnya tanaman kelapa sawit membutuhkan curah hujan pada titik tertentu untuk memperoleh produksi yang tinggi. Namun, curah hujan yang berlebihan juga dapat berdampak negatif pada produktifitas kelapa sawit,” bebernya kepada deadline.co.id, pada Selasa 7 Februari 2023.

Pria yang akrab disapa Jamal ini menyampaikan, tingginya curah hujan tidak hanya berdampak pada kualitas tanaman kelapa sawit. Namun, dapat menimbulkan banjir yang menghambat infrastruktur di wilayahnya.

“Di sisi lain, curah hujan yang berlebih, juga membuat kondisi jalan sering banjir dan rusak. Dampaknya operasional petani terganggu dan proses tumbuh kembang sawit juga tidak maksimal,” katanya dalam wawancara via telepon.

Jamal kembali melanjutkan bahwa penurunan yang terjadi akibat tingginya curah hujan, membuat adanyanya penurunan yang cukup drastis pada perkebunan kelapa sawit di Desa Muai.

“Pengaruhnya ada pada penurunan produksi, atau biasa disebut trek, dimana dalam masa tertentu, TBS mengalami penurunan produksi. Berdasarkan data yang saya miliki, produksi semua koperasi yang tergabung di AKBB, turun tidak kurang dari 4 ribu ton dari rata-rata produksi 14.000 ton, bulan Januari 2023 ini, hanya 10.000 ton. Atau di koperasi belayan sejahtera yang rata-rata produksi perbulannya 4.200 ton, bulan januari hanya 3.600 ton,”

Ketua AKBB ini juga menyampaikan bahwa, pengaruh penurunan produski ini juga tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya curah hujan. Namun, memiliki faktor lainnnya.

“Penurunan produksi ini, kami duga tidak hanya faktor curah hujan. Agar di ketahui, data yang saya sebutkan di atas, adalah data produksi koperasi yang dikirimkan kepada PT. Rea Kaltim Plantations & Grup. Saya menduga, kebijakan perusahaan yang menurunkan harga TBS belakangan ini, mengakibatkan petani mengirimkan TBS-nya keluar REA Kaltim,” katanya.

Untuk mengahdapi situasi ini pihaknya mempersiapkan pemahaman tata kelola kebun agar dapat bertahan dalam situasi yang tidak dapat diprediksi ini dan dapat memaksimalkan kualitas perkebunan kelapa sawit.

“Saat ini koperasi kami berupaya untuk memperkuat pemahaman petani tentang tata kelola kebun yang baik dan benar untuk meminimalisir potensi penurunan produksi akibat curah hujan. Salah satu yang kami terus lakukan adalah dengan mendorong pelatihan best manajemen praktis. Saat ini setidaknya sudah lebih dari 1.000 petani yang ikut pelatihan dan akan terus diluaskan. Koperasi juga terus berupaya mengerahkan alat berat yang kami miliki untuk memastikan jalan petani tidak terkendala,” ujarnya.

Ia berharap bahwa langkah yang pihaknya ambil dapat menjadi solusi untuk dapat bertahan ditengah tingginya curah hujan di Kaltim saat ini.

“Harapannya lewat semua upaya itu, kendala curah hujan tidak terlalu menjadi kendala bagi produktifitas dan operasional petani sawit. Selain itu, saya harap perusahaan dapat lebih manusiawi dalam menentukan harga untuk petani swadaya,” tandasnya.

Penulis: Erick

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments