Monday, March 4, 2024
HomeDAERAHSAMARINDASerapan Bantuan Keuangan Kurang Maksimal di Kaltim

Serapan Bantuan Keuangan Kurang Maksimal di Kaltim

DEADLINE.CO.ID, SAMARINDA – Wakil Ketua DPRD Kaltim Muhammad Samsun menyebut, serapan Bantuan Keuangan (Bankeu) ke 10 kabupaten/kota di Kaltim berjalan lamban. Penyebabnya adalah Pergub Nomor 49 tahun 2021 terkait dengan regulasi penyaluran Bankeu ke kabupaten/kota.

Dikatakannya, pihaknya menerima pengaduan yang disampaikan oleh seluruh kabupaten/kota di Kaltim mengenai permasalahan serta kendala yang dihadapi oleh kabupaten/kota untuk merealisasikan anggaran yang terbentur oleh Pergub tersebut.

“Ada bermacam-macam kendala masing-masing Kabupaten/Kota. Ada yang berkendala pada nomenklatur kegiatan yang berbeda dengan provinsi, ada yang tidak digabungkan sesuai arahan provinsi, ada yang sudah dilaksanakan tapi belum bisa dicairkan karena ada kekurangan dokumen-dokumen dan lain sebagainya,” ujarnya pada awak media dalam kesempatan wawancara di Gedung E lantai 1 DPRD Kaltim, pada Senin 27 Desember 2021.

Serapan anggaran keuangan di kabupaten/kota belum seluruhnya mencapai 100 persen. Justru kata Samsun, di 4 kabupaten/kota serapan anggaran rata-rata kurang dari 40 persen.

“Yang disampaikan oleh BPKAD, 90 persen terserap. Tapi ada kabupaten/kota yang minim serapan, seperti Bontang, Kutim dan Balikpapan baru 25 persen. Kukar 65 persen. Bontang ini sudah jelas tidak sanggup lagi melaksanakan karena sudah dicoba beberapa kali lelang dan selalu gagal, termasuk Kutim. Kukar ini masih bisa diupayakan karena kita lihat pekerjaan sudah hampir selesai, hanya masalah penagihan saja terlambat jadi tidak bisa dicairkan. Nominal seluruhnya itu Rp 159 miliar,” terangnya.

“Tetapi ada juga yang sudah 100%, seperti Samarinda, Kubar, Mahulu, Paser dan PPU,” tambahnya.

Kendala lain disebutkan Samsun adalah karena berkas-berkas yang kurang lengkap dan tidak tepat waktu sesuai jadwal yang ditentukan, sehingga mengakibatkan keterlambatan pada Badan Pemeriksa Anggaran (BPA).

“Jadi, 100 persen dari provinsi ke kabupaten. Di kabupaten itu belum semuanya tersalurkan, karena masih ada yang belum terselesaikan kewajiban dan sebagainya. Itu rata-rata sudah 80 persen tersalurkan ke kontraktor,” katanya.

DPRD Kaltim sepakat untuk terus mendorong agar Bankeu tersebut dapat dicairkan tahun ini juga.

“Batas akhir dari pusat tanggal 31. Kebetulan Gubernur berikan batas waktu tanggal 20. Ini hanya masalah administratif, kami minta untuk tetap diselesaikan,” tegasnya.

Timbulnya persoalan saat ini diakui Samsun adalah sebagai akibat dari Pergub Kaltim Nomor 49 tahun 2020. Pasalnya, setelah Pergub tersebut diteken Gubernur, regulasi penyaluran Bankeu ke kabupaten/kota menjadi berubah.

“Karena Pergub 49. Karena membatasi bantuan keuangan yang disalurkan. Kalau dari awal, saya yakin tidak ada masalah, tapi ini berproses. Pergub ini muncul setelah pengesahan, pembahasan sudah dipuncak. Sehingga bantuan keuangan yang tadinya kecil-kecil, harus digabungkan. Proses itu yang memakan waktu. Sehingga kami mengusulkan untuk di revisi,” tutupnya.

Penulis : Erick

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments