Deadline – Rudal Iran menghantam pesawat militer Amerika Serikat di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi, Jumat (27/3), memicu kerusakan besar dan korban luka di pihak militer AS. Serangan ini menjadi salah satu insiden paling serius yang menimpa aset strategis udara Amerika dalam beberapa waktu terakhir.
Rudal Iran menghancurkan Boeing E-3 Sentry, pesawat Sistem Peringatan dan Kontrol Udara milik Amerika Serikat, saat sedang melakukan pengisian bahan bakar. Pesawat tersebut merupakan komponen penting dalam operasi militer karena berfungsi sebagai pusat komando dan pengawasan di udara.
Serangan itu tidak hanya menghantam satu titik. Rudal dan pesawat tak berawak (drone) Iran dilaporkan menyerang area pangkalan secara bersamaan, memperbesar dampak kerusakan. Pejabat Amerika Serikat dan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa E-3 Sentry termasuk di antara pesawat yang rusak parah dalam insiden tersebut.
Bukti visual memperlihatkan kerusakan ekstrem. Foto yang beredar menunjukkan badan pesawat E-3 Sentry terbelah menjadi dua bagian. Gambar tersebut telah diverifikasi dan diyakini diambil di lokasi kejadian, dengan ciri-ciri seperti tiang, unit penyimpanan, dan penanda landasan yang sesuai dengan citra satelit Pangkalan Udara Pangeran Sultan.
Lokasi pangkalan ini berada sekitar 100 kilometer di tenggara Riyadh. Dalam analisis citra satelit, terlihat pula adanya kebakaran di apron pangkalan udara, sekitar 1.600 meter dari posisi pesawat. Namun, belum dapat dipastikan apakah kebakaran tersebut berasal dari serangan yang sama.
Data pelacakan penerbangan memperkuat temuan. Nomor ekor pesawat yang terlihat pada foto cocok dengan data dari Flightradar24, yang mencatat pesawat tersebut sempat terbang di sekitar pangkalan pada 18 Maret. Selain itu, citra satelit sebelumnya pada 11 Maret juga menunjukkan keberadaan pesawat E-3 di lokasi tersebut.
Korban jiwa menjadi perhatian serius. Seorang pejabat Amerika Serikat kepada Reuters menyebutkan bahwa 12 personel militer AS mengalami luka-luka akibat serangan ini. Dari jumlah tersebut, dua orang dilaporkan dalam kondisi luka serius.
Kerugian akibat serangan ini ditaksir mencapai Rp4,59 triliun. Nilai tersebut mencerminkan pentingnya pesawat E-3 Sentry dalam armada militer AS. Sebelum insiden ini, Amerika Serikat hanya memiliki sekitar 16 unit pesawat jenis tersebut yang masih beroperasi.
Kehilangan E-3 Sentry menjadi pukulan strategis. Armada ini dikenal tidak memiliki pengganti yang mudah dan siap digunakan dalam waktu singkat. Dengan peran vitalnya dalam sistem pertahanan udara, kerusakan satu unit saja dapat berdampak besar terhadap kemampuan operasi militer.
Insiden ini kembali menegaskan meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Serangan terhadap aset bernilai tinggi seperti E-3 Sentry menunjukkan eskalasi yang tidak bisa dianggap ringan.


