Deadline – Semen Padang kembali jatuh. Di kandang sendiri, Stadion Haji Agus Salim, Rabu 29 April 2026, tim berjuluk Kabau Sirah kalah 0-1 dari Madura United. Hasil ini bukan sekadar kekalahan. Ini pukulan keras yang membawa mereka makin dekat ke jurang degradasi.
Sejak awal laga, Semen Padang tampil menekan. Serangan cepat langsung mengalir. Kianz Froese membuka ancaman di menit awal. Ravy Tsouka ikut mencoba. Namun, semua peluang kandas di tangan kiper Dicky Indrayana yang tampil sigap di bawah mistar.
Saat tuan rumah sibuk menyerang, Madura United justru mencuri momen. Menit ke-15 jadi titik balik. Umpan silang Sandro disambut sundulan tajam Junior Brandao. Bola meluncur tanpa bisa dihentikan. Skor berubah 0-1.
Gol itu mengubah arah pertandingan.
Semen Padang sempat mencetak gol balasan pada menit ke-29 lewat Guillermo. Namun, wasit menganulir gol tersebut setelah mengecek VAR. Posisi offside membuat harapan itu hilang seketika.
Memasuki babak kedua, tekanan terus dilakukan. Serangan datang bertubi-tubi. Firman Juliansyah sempat melepaskan tembakan terukur. Namun, lagi-lagi Dicky Indrayana menjadi penghalang.
Di sisi lain, lini belakang Madura United bermain disiplin. Mereka menutup ruang. Mereka mematahkan alur serangan. Setiap peluang Semen Padang berakhir sia-sia.
Masalah makin berat saat kiper Arthur Augusto mengalami cedera. Ia dipaksa keluar di awal babak kedua. Rendy Oscario masuk menggantikan. Pergantian ini tidak mengubah keadaan.
Hingga peluit panjang berbunyi, skor tetap 0-1.
Kekalahan ini memperpanjang catatan buruk Semen Padang menjadi lima kekalahan beruntun. Dari 30 pertandingan, mereka hanya mengumpulkan 20 poin. Posisi mereka tertahan di peringkat ke-17.
Jarak dengan zona aman makin jauh. Persis Solo di peringkat ke-16 sudah mengoleksi 27 poin. Sementara Madura United naik ke posisi ke-15 dengan 29 poin. Selisih ini sulit dikejar, apalagi kompetisi hanya menyisakan beberapa laga.
Di tengah tekanan itu, suasana stadion terasa berbeda. Tribun utara dan selatan kosong tanpa suara. Tiga kelompok suporter memilih tidak hadir. Dukungan hanya datang dari tribun barat dan timur. Atmosfer terasa dingin.
Pelatih Imran Nahumarury tidak menghindar. Ia langsung meminta maaf.
“Semua tanggung jawab ada pada saya. Kami sudah berusaha, tapi hasilnya tetap kalah,” ujarnya usai laga.
Ia menilai masalah utama ada pada mentalitas tim. Secara teknis, ia mengklaim sudah melakukan perbaikan.
“Attacking, defending, transisi sudah kami benahi. Tapi mental yang akhirnya menentukan,” katanya.
Meski situasi sulit, Imran menegaskan timnya belum menyerah.
“Saya akan terus berjuang sampai akhir,” tegasnya.
Namun realita di lapangan berkata lain. Dengan sisa pertandingan yang sedikit, peluang bertahan di Super League semakin tipis.
Semen Padang kini berada di titik paling genting. Satu gol di menit ke-15 telah mengubah segalanya. Bukan hanya hasil pertandingan, tapi juga masa depan mereka di kasta tertinggi.



