spot_img
spot_img

Arab Saudi dan UEA Kian Memanas,Timur Tengah Pecah

Deadline – Krisis Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjadi sorotan baru di Timur Tengah. Dua negara Teluk yang dulu sekutu kini terlibat persaingan terbuka. Ketegangan ini memicu konflik proksi dan mengancam stabilitas kawasan.

Arab Saudi dan UEA sebelumnya bekerja sama dalam intervensi militer di Yaman. Kerja sama itu kini retak. Perbedaan visi soal kepemimpinan regional menjadi pemicu utama. Arab Saudi mendorong keutuhan Yaman sebagai satu negara. UEA justru mendukung kelompok separatis di wilayah tersebut.

Konflik Timur Tengah kian memanas karena pembentukan blok kekuatan baru. Direktur Program Timur Tengah CSIS, Mona Yacoubian, menyebut dua blok mulai terlihat jelas. Blok Arab Saudi beranggotakan Qatar, Oman, Mesir, Turki, dan Pakistan. Blok UEA melibatkan Israel dan India.

“Aliansi masih fleksibel, tetapi garis besarnya sudah terlihat,” ujar Mona Yacoubian, dikutip dari SCMP, Senin (26/1/2026).

Menurut Mona, konflik Arab Saudi dan UEA memicu kekhawatiran perang yang lebih luas. Situasi di Yaman, Sudan, dan Suriah semakin rapuh. Risiko konflik nuklir antara India dan Pakistan juga meningkat seiring mengerasnya blok politik regional.

Media Saudi Serang UEA

Provokasi media Arab Saudi memperkeruh hubungan kedua negara Teluk. Laporan Dawn, Senin (26/1/2026), menyebut kampanye media Saudi secara terbuka menargetkan UEA dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini dinilai berisiko bagi stabilitas ekonomi Timur Tengah.

Media pemerintah Saudi menuding UEA melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan pengkhianatan politik. Tuduhan ini muncul setelah konflik singkat di Yaman. Serangan udara Saudi menghentikan serangan separatis yang didukung UEA.

TV Al-Ekhbariya menuduh UEA berperan dalam kekacauan regional. Tuduhan itu mencakup dukungan terhadap separatis di Libya, Yaman, dan kawasan Tanduk Afrika.

Ketegangan Terburuk Sejak Krisis Qatar

Kecaman terbuka ini jarang terjadi di Teluk. Situasi mengingatkan pada krisis blokade Qatar pada 2017. Saat itu, Arab Saudi dan UEA memimpin pemutusan hubungan diplomatik dan perdagangan selama lebih dari tiga tahun.

Analis keamanan Teluk, Anna Jacobs, menilai ketegangan ini tidak lazim. Ia menyebut situasinya mirip keretakan Teluk sebelumnya. UEA memilih sikap diam. Profesor Abdulkhaleq Abdulla mengatakan UEA tidak terbiasa memprovokasi negara sahabat.

“Saling tuding di media sosial mengingatkan krisis Teluk sebelumnya. Kini Riyadh menyoroti kebijakan regional Abu Dhabi dan belum menunjukkan tanda mereda,” ujarnya.

Krisis Arab Saudi dan UEA kini menjadi faktor kunci dalam perubahan peta kekuatan Timur Tengah. Dampaknya berpotensi meluas ke konflik regional lain dalam waktu dekat.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Puaskah Anda dengan Kinerja Presiden Prabowo?

Related news