Heboh Insiden Ledakan di Gereja Intan Jaya, Koops Habema Tegaskan Granat Bukan Milik TNI

Deadline – Insiden ledakan di Gereja Stasi Santo Paulus, Mbamogo, Intan Jaya, Papua Tengah memicu perhatian publik. Ledakan terjadi saat warga sedang melaksanakan ibadah di dalam gereja pada Minggu, 17 Mei 2026.

Komando Operasi TNI Habema memastikan granat yang ditemukan di lokasi ledakan bukan milik TNI. Pernyataan itu disampaikan langsung Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Infanteri M. Wirya Arthadiguna, Selasa 19 Mei 2026

Menurut Wirya, pihaknya menyesalkan munculnya narasi di media sosial yang langsung menuding TNI-Polri sebagai pelaku ledakan di gereja tersebut. Ia menegaskan TNI tidak terlibat dalam insiden itu.

“Di sini kami tegaskan bahwa TNI bukan pelaku pengeboman tersebut,” ujar Wirya.

Ledakan Gereja Intan Jaya kini masih dalam proses penyelidikan Tim Gabungan. Aparat melakukan pendalaman dan verifikasi lapangan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.

Koops Habema menyebut hasil temuan awal menunjukkan granat yang ditemukan memiliki karakteristik berbeda dari granat standar milik TNI. Karena itu, TNI memastikan bahan peledak tersebut bukan berasal dari institusi mereka.

Selain itu, Wirya juga membantah tudingan penggunaan drone bersenjata dalam serangan tersebut. Ia menegaskan TNI tidak pernah menggunakan drone bersenjata untuk menyerang warga sipil, terlebih di area rumah ibadah.

“Granat yang ditemukan di lokasi memiliki karakteristik yang tidak sesuai dengan granat standar yang digunakan TNI. TNI tidak menggunakan drone bersenjata untuk menyerang warga sipil, apalagi di area ibadah,” tegasnya.

Baca Juga  Tragis! Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Timur Tewaskan 7 Orang, Puluhan Luka-Luka

Pasca ledakan di Gereja Stasi Santo Paulus, aparat Koops TNI Habema langsung meningkatkan patroli dan pengamanan di wilayah Intan Jaya. Langkah itu dilakukan untuk mencegah insiden serupa kembali terjadi.

Koops Habema juga mengaku telah berkoordinasi dengan pihak gereja dan tokoh masyarakat setempat guna membantu para korban terdampak ledakan.

Wirya menambahkan, aparat keamanan di Papua menjalankan tugas dengan pendekatan humanis dan tetap mengutamakan perlindungan terhadap warga sipil.

Ia memastikan perkembangan hasil penyelidikan akan disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. TNI juga meminta publik tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.

Menurutnya, penyebaran informasi yang belum jelas justru dapat memperkeruh situasi keamanan di Intan Jaya.

“Insiden ini sangat mungkin merupakan aksi provokasi pihak-pihak yang ingin memecah belah TNI dengan masyarakat Papua,” katanya.

Koops TNI Habema turut menyampaikan rasa prihatin atas ledakan yang terjadi saat jemaat sedang beribadah di Gereja Stasi Santo Paulus. Insiden itu disebut berdampak langsung terhadap warga yang berada di dalam gereja saat ledakan terjadi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Teratas

spot_img

TERPOPULER