Deadline – Ancaman bencana banjir dan tanah longsor kembali menghantui Sumatera Utara (Sumut). Setelah sebelumnya menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kini sejumlah wilayah di provinsi tersebut dilanda hujan deras yang memicu banjir dan longsor.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Bencana yang terjadi di tujuh kabupaten/kota itu menyebabkan ratusan rumah terendam, akses jalan terganggu, serta ratusan warga terpaksa meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang lebih aman.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut per Kamis (29/10) pukul 09.00 WIB, lima daerah mengalami banjir, sedangkan dua daerah lainnya dilanda tanah longsor.
Wilayah terdampak meliputi Kabupaten Deli Serdang, Langkat, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padang Lawas Utara (Paluta), Kota Medan, dan Kota Binjai.
Dampak pengungsian terbesar tercatat di Kota Medan. Sebanyak 603 warga harus dievakuasi ke sejumlah tempat penampungan sementara. Sementara itu, banjir di Kabupaten Langkat berdampak terhadap 694 jiwa.
Kepala BPBD Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, mengatakan pemerintah daerah bersama BPBD kabupaten/kota masih melakukan penanganan dan pendataan di lokasi bencana.
Petugas terus memantau perkembangan kondisi, menghitung kerusakan, serta mengidentifikasi kebutuhan masyarakat yang terdampak.
Banjir Medan Capai 1,5 Meter, 603 Warga Dievakuasi
Banjir di Kota Medan terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Rabu (28/10) malam.
Genangan air melanda sejumlah kawasan di Kecamatan Medan Tuntungan, Medan Maimun, Medan Johor, dan Medan Helvetia.
Beberapa wilayah terdampak meliputi Kelurahan Tanjung Selamat, Sei Mati, Kampung Baru, Hamdan, Aur, Gedung Johor, Kwala Bekala, dan Tanjung Gusta.
Ketinggian air bervariasi antara 20 sentimeter hingga 150 sentimeter. Genangan tertinggi terjadi di kawasan Sei Mati dan sekitar Jembatan Sigra-sigra, dengan ketinggian mencapai 100–150 sentimeter.
Sementara itu, kawasan Gedung Johor dan Kwala Bekala mengalami genangan setinggi 60–100 sentimeter.
Sebanyak 603 warga kemudian dievakuasi ke sejumlah lokasi yang lebih aman. Tempat pengungsian sementara antara lain Kantor Lurah Sei Mati, Masjid Abidin, Musala Al Amin, Masjid Muttaqin, Masjid Al Hasanah, dan Masjid Ubudiyah.
Pemerintah Kota Medan bersama BPBD terus memantau kondisi banjir, terutama perkembangan genangan dan aliran sungai.
Warga yang tinggal di kawasan rawan banjir juga diminta segera menyelamatkan diri apabila permukaan air kembali naik dan mengancam keselamatan.
Langkat, 694 Jiwa Terdampak Banjir
Banjir juga melanda Kecamatan Serapit dan Besitang, Kabupaten Langkat, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut pada Rabu (28/10).
Empat desa terdampak, yakni Desa Gunung Tinggi, Suka Pulung, Tanjung, dan Sekoci.
BPBD Sumut mencatat sebanyak 694 jiwa terdampak bencana tersebut. Sebagian warga mengungsi ke sejumlah posko yang disiapkan di Desa Sekoci, Kecamatan Besitang.
Posko I menampung 195 jiwa atau 30 kepala keluarga (KK) dari Dusun Sejambu. Posko yang sama juga menampung 70 jiwa atau 17 KK dari Dusun Sekoci.
Posko II menampung 240 jiwa dari Dusun Sidodadi dan 75 jiwa dari Dusun Pantai Pulau.
Sementara itu, Posko III menampung 114 jiwa dari Dusun Suka Ramai.
Pemerintah Kabupaten Langkat bersama BPBD setempat telah meninjau lokasi terdampak dan melakukan koordinasi untuk memastikan kebutuhan para pengungsi terpenuhi.
Pendataan serta pemantauan masih berlangsung hingga Kamis pagi untuk mengetahui perkembangan banjir dan kondisi masyarakat.
Luapan Sungai Rendam Rumah di Deli Serdang
Kabupaten Deli Serdang juga mengalami banjir di lima kecamatan, yaitu Bangun Purba, Sunggal, Delitua, Tanjung Morawa, dan Hamparan Perak.
Di Desa Mabar, Kecamatan Bangun Purba, sebanyak lima rumah terdampak banjir. Warga yang rumahnya terendam memilih mengungsi ke rumah kerabat dan masjid.
Di Desa Sunggal Kanan, Kecamatan Sunggal, ketinggian air mencapai sekitar 30 sentimeter. Sementara itu, sekitar 35 rumah di Desa Lalang dilaporkan terendam.
Banjir juga merendam delapan rumah di Kelurahan Delitua Barat, Kecamatan Delitua, dengan ketinggian air sekitar 40 sentimeter.
Dampak cukup besar terjadi di Desa Punden Rejo, Kecamatan Tanjung Morawa. Banjir dipicu luapan Sungai Sei Putih yang disertai kerusakan tanggul sejak Selasa (27/10).
Di Dusun I, dampak banjir tercatat sebanyak tujuh KK atau 31 jiwa. Sementara di Dusun II, sebanyak 81 KK atau 327 jiwa terdampak.
Tanggul Sungai Sei Putih di Dusun II dilaporkan mengalami kerusakan dengan lebar sekitar lima meter. Meski demikian, genangan di Desa Punden Rejo telah surut sepenuhnya hingga Kamis pagi.
Banjir juga terjadi di Desa Lama, Kecamatan Hamparan Perak. Luapan Sungai Sei Belawan menyebabkan air menggenangi Dusun I dengan ketinggian 50–70 sentimeter.
Sebanyak 70 rumah yang dihuni 70 KK atau 263 jiwa terdampak banjir tersebut.
Pemerintah Kabupaten Deli Serdang bersama BPBD melakukan pendataan dan pemantauan. Pemerintah kecamatan dan Dinas Sosial juga menyiapkan dapur umum serta bantuan sembako bagi masyarakat yang terdampak.
Binjai dan Mandailing Natal Ikut Dilanda Banjir
Kota Binjai menjadi salah satu wilayah yang turut mengalami banjir akibat hujan deras pada Rabu (28/10).
Hingga Kamis pagi, pendataan mengenai jumlah rumah terdampak, korban, serta warga yang harus mengungsi masih berlangsung.
Pemerintah Kota Binjai bersama BPBD telah meninjau lokasi dan berkoordinasi untuk melakukan penanganan.
Banjir juga melanda Kabupaten Mandailing Natal pada Rabu malam sekitar pukul 23.00 WIB.
Dua wilayah yang terdampak adalah Desa Binanga, Kecamatan Huta Bargot, dan Desa Rumbio, Kecamatan Panyabungan Utara.
Di Desa Binanga, sekitar 30 rumah dan satu fasilitas umum berupa sekolah terendam air setinggi kurang lebih 60 sentimeter.
Sementara di Desa Rumbio, banjir merendam dua rumah dan satu fasilitas umum berupa rumah ibadah. Ketinggian air di wilayah tersebut juga mencapai sekitar 60 sentimeter.
BPBD Mandailing Natal telah meninjau lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Pendataan terhadap dampak banjir, termasuk kemungkinan adanya warga yang mengungsi, masih dilakukan.
Longsor Ganggu Jalan di Tapanuli Selatan dan Paluta
Selain banjir, hujan deras juga memicu tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Padang Lawas Utara.
Di Kabupaten Tapanuli Selatan, longsor terjadi di Desa Luat Lombang, Kecamatan Sipirok, pada Rabu (28/10).
Material longsor berdampak terhadap Jalan Lintas Sipirok–Tarutung sehingga membutuhkan penanganan dari pemerintah daerah.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan bersama BPBD telah meninjau lokasi dan melakukan koordinasi untuk menangani dampak kejadian tersebut.
Sementara itu, longsor di Kabupaten Padang Lawas Utara terjadi di Desa Sipaho Simpang Barumun, Kecamatan Halongonan, pada Rabu sekitar pukul 11.00 WIB.
Peristiwa tersebut merusak jalan penghubung desa. Kondisi ini berpotensi menghambat aktivitas dan mobilitas masyarakat, baik pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat.
BPBD Paluta telah melakukan asesmen atau penilaian dampak bencana serta berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk penanganan lebih lanjut.
Berdasarkan laporan sementara, tidak terdapat korban jiwa, korban luka-luka, maupun warga yang mengungsi akibat longsor tersebut.
BPBD Minta Warga Waspadai Banjir dan Longsor Susulan
Kepala BPBD Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, menegaskan koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota terus dilakukan untuk memantau perkembangan situasi di seluruh wilayah terdampak.
Ia mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama hujan berintensitas tinggi masih berpotensi terjadi.
Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai diminta mengantisipasi kenaikan debit air secara tiba-tiba. Sementara masyarakat yang berada di kawasan perbukitan perlu mewaspadai pergerakan tanah dan kemungkinan longsor susulan.
Menurut Tuahta, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi kondisi cuaca yang berpotensi memicu bencana.
Warga yang melihat kondisi lingkungan mulai membahayakan diharapkan segera mencari tempat yang lebih aman dan mengikuti arahan petugas di lapangan.
Sumut Hadapi Ancaman Bencana Beruntun
Bencana banjir dan tanah longsor ini menambah tantangan bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Sebelumnya, pemerintah daerah masih berupaya mengantisipasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti sejumlah wilayah.
Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution sebelumnya menyatakan akan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau kondisi atmosfer.
Pemerintah provinsi juga mempertimbangkan kembali pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari langkah antisipasi terhadap kondisi kabut asap.
Kini, ketika penanganan dampak karhutla masih menjadi perhatian, Sumut kembali menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor.
Dengan tujuh kabupaten/kota terdampak, ratusan rumah terendam, dan ratusan warga mengungsi, penanganan darurat serta kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem menjadi hal penting.
Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan tanda-tanda bahaya, terutama kenaikan air sungai, genangan yang semakin tinggi, dan pergerakan tanah di kawasan perbukitan.




