Dentuman Misterius Danau Maninjau & Status Gunung Marapi Masih Waspada

Deadline – Dentuman misterius Danau Maninjau dan aktivitas Gunung Marapi menjadi dua isu utama yang menyita perhatian publik Sumatera Barat. Kedua peristiwa ini ramai dibahas warga sejak dini hari dan memicu banyak pertanyaan.

Dentuman Misterius Danau Maninjau Bikin Warga Terkejut

Dentuman misterius Danau Maninjau terdengar sekitar pukul 04.00 WIB. Suara keras itu memecah keheningan subuh di kawasan salingka Danau Maninjau, Kabupaten Agam.

Sejumlah nagari di sekitar danau melaporkan suara yang sama. Warga terbangun dari tidur dan merasa panik karena suara terdengar jelas saat kondisi masih gelap dan sepi.

Wali Nagari Sungai Batang, Ahsin, mengaku mendengar langsung dentuman tersebut dari dalam rumah. Ia menyebut bunyi itu berbeda dari suara alam yang biasa terjadi di wilayah Danau Maninjau.

“Bunyinya khas dan baru pertama kali saya dengar. Saya terbangun sebelum azan subuh, tapi tidak tahu sumbernya,” kata Ahsin.

Kesaksian serupa disampaikan Rita Muliyani, warga setempat. Ia menyebut dentuman terdengar sangat kuat karena tidak ada aktivitas warga saat itu.

“Kami sempat mengira ada reruntuhan tebing. Wilayah ini pernah mengalami galodo, jadi warga langsung waspada,” ujarnya.

Informasi dentuman misterius Danau Maninjau cepat menyebar melalui grup WhatsApp dan media sosial. Beragam spekulasi muncul, mulai dari meteor jatuh hingga patahan di dasar danau.

BMKG Bandara Internasional Minangkabau memberikan penjelasan awal. BMKG menyebut suara keras umumnya bisa berasal dari awan cumulonimbus yang memicu petir.

Baca  Kisah Heroik Praka Farizal, Penjaga Perdamaian Dunia yang Gugur di Lebanon Pulang dalam Kehormatan

Namun, BMKG memastikan saat kejadian tidak terpantau adanya awan hujan di wilayah Danau Maninjau. Hingga kini, belum ada data yang mengonfirmasi adanya meteor jatuh.

BMKG masih melakukan pemantauan lanjutan untuk memastikan penyebab dentuman misterius tersebut.

Aktivitas Gunung Marapi Masih Level II Waspada

Selain dentuman misterius Danau Maninjau, aktivitas Gunung Marapi juga menjadi sorotan. Gunung api aktif ini hingga pertengahan Januari 2026 masih berstatus Level II atau Waspada.

Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan aktivitas Gunung Marapi menunjukkan dinamika fluktuatif. Secara umum, aktivitas kegempaan cenderung menurun dibandingkan periode sebelumnya.

Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan hasil evaluasi periode 1–15 Januari 2026. Secara visual, Gunung Marapi masih mengalami erupsi dari kawah utama.

Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu. Tinggi asap berkisar 50 sampai 250 meter dari puncak. Kolom erupsi tertinggi tercatat mencapai 1.600 meter dari puncak.

Pemantauan instrumental mencatat aktivitas kegempaan didominasi gempa hembusan. Selain itu, terekam gempa letusan, tremor non-harmonik, gempa vulkanik dangkal dan dalam, serta gempa tektonik lokal dan jauh.

Lana menyebut tren penurunan terlihat pada gempa hembusan, tremor non-harmonik, dan gempa vulkanik dangkal. Gempa vulkanik dalam relatif stabil dan tidak menunjukkan tanda intrusi magma baru.

Data deformasi dari tiltmeter menunjukkan kecenderungan deflasi sejak November 2025 hingga pertengahan Januari 2026. Kondisi ini menandakan tidak ada pengisian magma baru yang signifikan.

Baca  ChatGPT Tumbang: 89 Persen Pengguna Terdampak, Layanan Sempat Lumpuh dan Bikin Panik

Meski begitu, sistem dangkal Gunung Marapi dinilai masih terganggu pascaerupsi. Potensi erupsi mendadak skala kecil hingga menengah masih ada, terutama di sekitar kawah.

Ancaman bahaya meliputi lontaran material vulkanik dalam radius 3 kilometer dari Kawah Verbeek. Bahaya lain mencakup hujan abu, gas beracun seperti CO₂, CO, SO₂, dan H₂S, serta potensi lahar saat hujan deras.

Badan Geologi menegaskan masyarakat, pendaki, dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Marapi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER