Jeritan Driver Ojol: Potongan 8 Persen Hanya Omong Kosong, Hidup Tetap Sulit

Deadline – Bagi pengemudi ojek online (ojol), sore hari seharusnya menjadi waktu untuk menghitung hasil kerja seharian. Namun, ketika pesanan tak kunjung masuk, layar ponsel yang terus menyala justru menjadi pengingat bahwa kebutuhan hidup tidak bisa menunggu.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Bensin harus dibeli, makanan harus tersedia, dan keluarga tetap membutuhkan biaya. Di tengah tuntutan itu, kebijakan pembatasan potongan aplikasi maksimal 8 persen yang diharapkan membawa perubahan justru belum sepenuhnya dirasakan oleh para pengemudi.

Bagi sebagian mitra pengemudi, aturan tersebut terasa jauh dari kenyataan. Angka 8 persen terdengar menjanjikan, tetapi pendapatan bersih yang mereka bawa pulang belum tentu bertambah.

Kekecewaan itu bukan semata-mata soal persentase. Di balik keluhan para pengemudi ojol, ada persoalan yang lebih mendasar: bagaimana mereka bisa memperoleh penghasilan yang cukup ketika biaya, tarif, bonus, dan jumlah pesanan terus memengaruhi pendapatan harian?

Potongan 8 Persen yang Dipertanyakan

Perpres Nomor 27 Tahun 2026 disebut menjadi dasar pembatasan biaya sewa aplikasi maksimal 8 persen sejak Juli 2026. Kebijakan ini diharapkan mengurangi beban potongan yang selama ini dirasakan pengemudi.

Iklan

Namun, penerapan batas tersebut tidak otomatis membuat pendapatan bersih meningkat.

Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) mengungkapkan adanya sejumlah biaya tambahan di luar komisi utama aplikasi. Biaya tersebut antara lain biaya penanganan aplikasi, asuransi tambahan, serta potongan untuk fasilitas peta dan sistem keuangan.

Akibatnya, pengemudi mempertanyakan apakah pembatasan komisi benar-benar memberikan manfaat apabila berbagai biaya lain masih harus mereka tanggung.

Menurut keluhan yang disampaikan, jika seluruh biaya tambahan dijumlahkan, total potongan dalam sejumlah kasus masih dapat melampaui 20 persen. Angka itu dinilai tidak jauh berbeda dari beban yang mereka rasakan sebelum aturan baru diberlakukan.

Bagi pengemudi, persoalannya sederhana. Mereka ingin mengetahui berapa uang yang benar-benar menjadi hak mereka setelah menyelesaikan satu perjalanan.

Sebab, angka komisi dalam aturan tidak selalu menggambarkan jumlah pendapatan yang akhirnya diterima.

Tarif Turun, Penghasilan Ikut Tergerus

Persoalan tidak berhenti pada biaya tambahan. Perubahan tarif dasar perjalanan juga menjadi sumber keluhan.

Aplikator disebut menyesuaikan tarif agar harga layanan tetap kompetitif atau mengikuti perubahan skema layanan. Namun, ketika tarif dasar yang dibayarkan penumpang turun, penghasilan pengemudi ikut berpotensi berkurang.

Secara hitungan, pengemudi mungkin menerima 92 persen dari nilai perjalanan setelah komisi aplikasi dibatasi 8 persen. Akan tetapi, persentase tersebut tidak menjamin jumlah uang yang diterima lebih besar apabila nilai dasar perjalanan lebih rendah.

Sebagai gambaran, 92 persen dari tarif Rp10.000 menghasilkan Rp9.200. Sementara itu, 92 persen dari tarif Rp8.000 hanya menghasilkan Rp7.360. Perhitungan ini belum memasukkan biaya lain yang mungkin dibebankan kepada pengemudi.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa persentase bagi hasil harus dilihat bersama nilai tarif dan seluruh biaya yang dikenakan.

Bagi pengemudi yang mengandalkan banyak perjalanan setiap hari, selisih pendapatan dalam satu pesanan dapat memengaruhi jumlah uang yang terkumpul pada akhir hari.

Layanan Hemat Membuat Hitungan Makin Rumit

Layanan berbiaya rendah, seperti GrabHemat atau layanan sejenis, juga menjadi perhatian sejumlah pengemudi.

Sebelum perubahan skema, potongan pada layanan hemat disebut berkisar 5–10 persen. Ketika skema bagi hasil persentase baru diterapkan, para pengemudi mengkhawatirkan perubahan tersebut membuat perhitungan pendapatan bersih menjadi kurang pasti.

Kekhawatiran mereka berkaitan dengan kemungkinan berkurangnya pendapatan minimum yang bisa diperoleh dari setiap pesanan.

Bagi pelanggan, layanan hemat menawarkan pilihan perjalanan dengan harga lebih terjangkau. Namun, bagi pengemudi, tarif yang lebih rendah harus tetap memberikan penghasilan yang layak setelah memperhitungkan berbagai potongan.

Jika keseimbangan itu tidak terjaga, pengemudi berisiko menerima uang yang semakin sedikit meskipun tetap harus mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya operasional.

Karena itu, kejelasan skema tarif dan potongan menjadi penting agar pengemudi dapat memperkirakan pendapatan mereka sebelum menerima pesanan.

Bonus Makin Sulit, Pesanan Terasa Sepi

Harapan memperoleh tambahan penghasilan juga semakin sulit ketika bonus atau insentif harian berubah.

Sejumlah pengemudi mengeluhkan target bonus yang makin sulit dicapai atau insentif yang dipangkas perusahaan. Pada saat yang sama, persaingan di lapangan membuat sebagian dari mereka merasa jumlah pesanan semakin sepi.

Kondisi tersebut menempatkan pengemudi dalam situasi yang serba sulit. Mereka harus bekerja lebih lama untuk mengejar jumlah pesanan, tetapi tidak selalu memperoleh kepastian bahwa usaha tambahan itu akan menghasilkan pendapatan yang memadai.

Bonus yang sebelumnya dapat menjadi penopang penghasilan kini tidak selalu bisa diandalkan.

Pendapatan harian pun sangat bergantung pada kondisi akun masing-masing pengemudi, jumlah pesanan yang masuk, tarif perjalanan, dan skema yang berlaku pada aplikasi yang digunakan.

Tidak semua pengemudi mengalami keadaan yang sama. Namun, ketidakpastian tersebut membuat sebagian mitra kesulitan memperkirakan berapa uang yang akan mereka bawa pulang setiap hari.

Ketika Senja Datang, Pesanan Tak Kunjung Berbunyi

Bagi pengemudi ojol, tekanan hidup tidak selalu hadir dalam bentuk persoalan besar yang mudah terlihat. Terkadang, tekanan itu muncul dalam kesunyian ketika mereka menunggu pesanan di pinggir jalan.

Mereka tidak selalu memiliki kesempatan untuk memikirkan perdebatan panjang tentang kebijakan negara atau membaca angka-angka statistik mengenai tingkat stres masyarakat.

Yang mereka hadapi adalah kebutuhan sehari-hari yang nyata. Ketika sore berganti malam dan aplikasi di ponsel tidak menunjukkan pesanan baru, waktu terus berjalan tanpa jaminan penghasilan.

Sementara itu, kebutuhan hidup tidak ikut berhenti. Uang untuk makan, bahan bakar, dan keperluan keluarga tetap harus tersedia, terlepas dari ramai atau sepinya pesanan.

Dalam keadaan seperti itu, stres bukan lagi sekadar istilah psikologis. Tekanan itu terasa ketika tenaga sudah terkuras, waktu sudah banyak terpakai, tetapi uang yang terkumpul belum cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Gambaran inilah yang membuat keluhan pengemudi tidak bisa dipandang hanya sebagai perdebatan mengenai angka potongan aplikasi.

Di balik setiap perjalanan, ada waktu dan tenaga yang dipertaruhkan. Ada pula harapan agar pekerjaan yang dilakukan sepanjang hari mampu memberikan penghasilan yang cukup untuk melanjutkan hidup.

Ketika harapan itu berulang kali tidak terpenuhi, rasa kecewa terhadap kebijakan dan pihak yang dianggap bertanggung jawab pun dapat semakin besar.

Kepercayaan kepada Pemerintah Ikut Diuji

Kekecewaan terhadap penghasilan membuat sebagian pengemudi merasa semakin sulit menggantungkan harapan pada pemerintah.

Bagi mereka, kebijakan yang diumumkan seharusnya membawa perubahan yang dapat dirasakan secara langsung. Jika angka potongan sudah dibatasi, tetapi pendapatan bersih tidak kunjung membaik, mereka membutuhkan penjelasan mengenai bagaimana aturan tersebut diterapkan dan diawasi.

Pertanyaan yang muncul bukan hanya apakah batas 8 persen sudah tercantum dalam regulasi, melainkan juga apakah seluruh komponen biaya telah diperhitungkan secara transparan.

Pengemudi membutuhkan kejelasan tentang komisi utama, biaya tambahan, tarif dasar, serta skema bonus. Informasi tersebut penting agar mereka dapat memahami perhitungan pendapatan dan mengetahui alasan jumlah uang yang diterima bisa berbeda dari perkiraan.

Tanpa penjelasan yang mudah dipahami, kebijakan yang seharusnya memberikan kepastian justru berpotensi menambah kebingungan.

Bagi para pengemudi, keadilan bukan sekadar angka yang tertulis dalam peraturan. Keadilan juga berarti memperoleh penghasilan yang masuk akal dari pekerjaan yang mereka lakukan.

Bansos Dinilai Belum Menjangkau Semua yang Membutuhkan

Selain membicarakan pendapatan dan potongan aplikasi, para pengemudi juga menyampaikan pandangan mengenai bantuan sosial (bansos) pemerintah.

Mereka menilai penyaluran bantuan belum selalu tepat sasaran. Dalam keluhan yang disampaikan, ada kekhawatiran bahwa orang yang relatif mampu terkadang menerima bantuan, sedangkan mereka yang benar-benar membutuhkan justru tidak terjangkau.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesejahteraan tidak hanya berkaitan dengan besarnya bantuan, tetapi juga ketepatan penerima dan kejelasan proses penyalurannya.

Bagi masyarakat yang penghasilannya tidak menentu, bantuan yang tepat sasaran dapat menjadi penopang ketika pendapatan sedang menurun. Sebaliknya, apabila orang yang membutuhkan terlewat, tujuan bantuan untuk meringankan beban hidup menjadi sulit tercapai.

Meski demikian, keluhan tersebut merupakan pandangan yang disampaikan para pengemudi dan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya ketidaktepatan dalam seluruh program bansos.

Evaluasi berdasarkan data penerima dan kondisi nyata di lapangan diperlukan untuk mengetahui apakah bantuan sudah menjangkau kelompok yang semestinya menerima.

Yang Mereka Minta Bukan Sekadar Janji

Keluhan para pengemudi ojol pada akhirnya mengarah pada satu persoalan utama: kepastian penghasilan.

Pembatasan potongan aplikasi maksimal 8 persen diharapkan menjadi langkah untuk memperbaiki kesejahteraan mitra pengemudi. Namun, manfaat kebijakan itu perlu dinilai berdasarkan pendapatan bersih yang benar-benar diterima, bukan hanya angka komisi yang tercantum dalam aturan.

Transparansi seluruh biaya, kejelasan tarif perjalanan, skema bonus yang dapat dipahami, serta pengawasan terhadap pelaksanaan regulasi menjadi bagian penting dalam menjawab keluhan tersebut.

Di sisi lain, evaluasi penyaluran bansos juga dibutuhkan agar bantuan pemerintah benar-benar menjangkau masyarakat yang memenuhi kriteria dan membutuhkan dukungan.

Bagi pengemudi yang setiap hari menunggu pesanan, perubahan tidak harus dimulai dengan janji besar. Mereka membutuhkan aturan yang dijalankan secara konsisten, perhitungan pendapatan yang terbuka, dan kesempatan memperoleh penghasilan yang layak.

Sebab, ketika hari mulai gelap dan pesanan belum juga datang, yang mereka tunggu bukan sekadar bunyi notifikasi dari ponsel.

Mereka sedang menunggu kesempatan untuk pulang membawa cukup uang bagi keluarga, membayar kebutuhan hari itu, dan kembali bekerja esok pagi dengan harapan yang belum padam.

Artikel Teratas

spot_img

TERPOPULER

Â