Deadline – Gelombang boikot terhadap Raffi Ahmad mulai berdampak serius pada penyelenggaraan RANS Carnival di Sleman, Yogyakarta. Festival yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 itu ditinggalkan sejumlah musisi ternama dan belasan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Bahkan, berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, sekitar 95 persen tenant UMKM dikabarkan memilih mundur dari acara tersebut.
Keputusan itu diduga berkaitan dengan seruan boikot terhadap Raffi Ahmad yang ramai disuarakan warganet setelah dirinya menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran HI, Jakarta.
Situasi tersebut membuat pelaksanaan RANS Carnival di area parkir Stadion Maguwoharjo menjadi sorotan publik.
Tiga Musisi Batalkan Penampilan
Dampak polemik tersebut terlihat dari keputusan tiga musisi yang sebelumnya dijadwalkan menjadi pengisi acara RANS Carnival.
Mereka adalah OM Wawes, Guyon Waton, dan Masdddho. Ketiganya memutuskan membatalkan penampilan masing-masing.
Manajemen para musisi menyampaikan pembatalan dengan sejumlah pertimbangan, mulai dari menjaga situasi tetap kondusif, memperhatikan faktor keamanan, hingga menghormati aspirasi masyarakat.
Mundurnya tiga penampil utama tersebut turut menimbulkan ketidakpastian mengenai jumlah pengunjung yang akan datang.
Kondisi ini kemudian menjadi pertimbangan bagi para pedagang yang telah mempersiapkan produk dan mengeluarkan modal untuk mengikuti festival.
Belasan UMKM Pilih Angkat Kaki
Tidak hanya musisi, sejumlah pelaku usaha kuliner dan UMKM lokal juga memutuskan membatalkan keikutsertaan mereka.
Dari pantauan di media sosial Threads, beberapa tenant bahkan terlihat melakukan loading out atau membongkar stan yang sebelumnya sudah didirikan.
Sejumlah usaha yang mengumumkan keputusan mundur antara lain Kalapaa.id, Cuann.king, Donutsbun.co, Jimny Coffee, dan Mochi Oleebe.
Akun Kalapaa.id mengungkapkan bahwa mereka sudah membatalkan keikutsertaan dan membawa pulang perlengkapan dagangan.
Padahal, proses persiapan stan baru selesai sekitar pukul 01.00 WIB. Mereka mengaku mengambil keputusan tersebut setelah mempertimbangkan situasi yang berkembang.
Melalui unggahannya, Kalapaa.id juga meminta dukungan masyarakat untuk membeli produk yang sudah telanjur disiapkan.
Pemilik usaha tersebut mengungkapkan bahwa stok dagangan telah tersedia dalam jumlah cukup banyak. Mereka berharap penjualan bisa membantu mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan.
Bahkan, hasil penjualan tersebut awalnya direncanakan untuk menambah biaya persiapan kelahiran anak.
95 Persen Tenant Dikabarkan Mundur
Besarnya dampak pembatalan keikutsertaan UMKM juga disampaikan akun Instagram @respons.media.
Dalam keterangannya, diperkirakan sekitar 95 persen tenant UMKM memilih mundur dari RANS Carnival. Sementara itu, hanya satu atau dua peserta yang disebut masih bertahan.
Jika informasi tersebut sesuai dengan kondisi di lapangan, situasi ini menjadi pukulan bagi pelaku usaha yang telah mengeluarkan biaya persiapan.
Para pedagang menghadapi dilema karena bahan baku, stok produk, dan kebutuhan operasional sudah telanjur disiapkan.
Pembatalan keikutsertaan berpotensi menimbulkan kerugian, terutama bagi usaha kecil yang mengandalkan hasil penjualan selama festival untuk menutup biaya produksi dan operasional.
Warganet Galang Dukungan untuk Pedagang
Di tengah seruan boikot yang berkembang, warganet justru ramai memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM yang terdampak.
Sejumlah pengguna Threads membagikan akun media sosial dan informasi lokasi usaha para tenant yang memutuskan mundur.
Masyarakat Yogyakarta diajak membeli produk mereka secara langsung maupun melalui pemesanan daring.
Dukungan tersebut menjadi bentuk solidaritas agar para pedagang tetap bisa menjual stok yang sudah dipersiapkan dan mengurangi potensi kerugian.
Dengan cara tersebut, masyarakat diharapkan dapat membantu pelaku usaha lokal yang ikut terdampak polemik RANS Carnival.
Raffi Ahmad Berikan Klarifikasi
Sementara itu, Raffi Ahmad akhirnya angkat bicara mengenai kontroversi kehadirannya dalam Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026.
Melalui akun media sosialnya, suami Nagita Slavina tersebut menjelaskan bahwa dirinya datang sebagai undangan. Ia mengaku baru menerima informasi mengenai kegiatan tersebut pada malam sebelum acara berlangsung.
Raffi juga menegaskan tidak terlibat dalam proses perencanaan maupun penyusunan rangkaian kegiatan.
“Saya hadir dalam kegiatan deklarasi Sumpah Pemuda kemarin sebagai undangan yang informasinya baru saya terima pada malam sebelum acara. Saya tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara, serta tidak mengetahui detail susunan acara dan pihak-pihak yang hadir,” tulis Raffi.
Ia juga membantah tudingan mengenai dugaan pengaturan kemunculan salah satu merek dalam kegiatan tersebut.
Menurut Raffi, gapura dan pembatas jalan yang menampilkan merek tersebut sudah terpasang jauh sebelum acara berlangsung.
“Saya juga ingin menegaskan bahwa tuduhan mengatur kemunculan salah satu merek tidak benar. Gapura dan pembatas jalan yang menampilkan merek tersebut sudah berdiri jauh sebelum acara dan tidak berkaitan dengan kehadiran saya,” jelasnya.
Raffi Hormati Aspirasi Mahasiswa
Dalam klarifikasinya, Raffi turut menyampaikan penghormatan kepada masyarakat, khususnya mahasiswa, yang menyampaikan aspirasi pada 28 Oktober 2026.
Ia menilai penyampaian pendapat merupakan hak masyarakat yang harus dihargai.
“Saya menghormati teman-teman yang menyampaikan aspirasi pada 28 Oktober 2026. Menyampaikan pendapat adalah hak, dan suara mahasiswa itu penting,” tulisnya.
Raffi juga mengaku terbuka terhadap kritik dan masukan. Namun, ia berharap masyarakat menyampaikan kritik berdasarkan fakta, bukan tuduhan yang belum terbukti kebenarannya.
“Saya selalu terbuka terhadap kritik dan masukan, tentunya kritik yang didasarkan pada fakta, bukan tuduhan atau fitnah dari dugaan yang tidak benar, terlebih jika menyangkut keluarga,” tuturnya.
Awal Mula Kontroversi Raffi Ahmad
Kontroversi yang menyeret nama Raffi Ahmad bermula dari kehadirannya dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran HI, Jakarta, pada 29 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut diinisiasi Polda Metro Jaya untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98.
Mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, acara tersebut diikuti sekitar 100 mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat.
Sejumlah tokoh dan figur publik turut menghadiri kegiatan tersebut, termasuk Raffi Ahmad dan kreator konten Willie Salim.
Dalam kesempatan itu, Raffi menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak mudah terprovokasi informasi bohong, ujaran kebencian, maupun konten yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Namun, kegiatan yang mengusung semangat persatuan tersebut kemudian menuai polemik.
Persoalan muncul setelah adanya kritik mengenai identitas sejumlah peserta yang mengenakan atribut perguruan tinggi. Hal tersebut memicu perdebatan di media sosial dan berujung pada seruan boikot terhadap sejumlah pihak yang hadir, termasuk Raffi Ahmad.
Dampaknya kini mulai terasa pada penyelenggaraan RANS Carnival di Sleman.
Pembatalan penampilan tiga musisi dan mundurnya sejumlah tenant UMKM membuat festival tersebut menghadapi tantangan sebelum berlangsung.
Di tengah polemik yang masih berkembang, nasib RANS Carnival menjadi perhatian publik. Sementara itu, dukungan warganet terhadap pedagang lokal menunjukkan bahwa pelaku UMKM juga menjadi pihak yang ikut merasakan dampak dari kontroversi tersebut.




