Deadline – Perlintasan kereta api Jalan Ampera di Kota Bekasi menjadi sorotan setelah kecelakaan besar yang menewaskan 14 orang. Lokasi ini ternyata jalur padat tanpa palang pintu resmi. Kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun.
Perlintasan kereta api ini hanya berjarak sekitar 50 meter dari Stasiun Bekasi Timur. Lebarnya sekitar 5 meter. Setiap hari, truk, mobil, dan motor melintas tanpa henti.
Namun, tidak ada palang otomatis. Tidak ada sistem pengaman standar. Yang ada hanya bambu sebagai palang darurat.
Dijaga Warga, Bukan Sistem
Perlintasan kereta api ini dijaga warga secara manual. Saat kereta akan lewat, penjaga berteriak memberi peringatan. Ia menurunkan bambu untuk menghalangi kendaraan.
Masalahnya, palang bambu hanya ada di satu sisi. Sisi lain terbuka. Pengendara dari arah berbeda sering tidak melihat peringatan.
Situasi ini membuat risiko tabrakan sangat tinggi.
Kecelakaan Terjadi Berulang
Warga sekitar, Tasmin (80), menyebut kecelakaan bukan hal baru.
“Dulu sering. Sebulan sekali ada,” kata Tasmin.
Ia sudah 50 tahun berjualan bakso di sekitar lokasi. Ia melihat sendiri banyak pengendara nekat menerobos.
Sebagian kendaraan mogok di tengah rel. Sebagian lainnya tetap melaju meski sudah diperingatkan.
Akibatnya, tabrakan dengan kereta sering terjadi sejak lima tahun terakhir.
Palang Bambu Bertahan Puluhan Tahun
Perlintasan kereta api ini tidak pernah memiliki palang resmi. Warga membeli bambu secara swadaya. Jika rusak, mereka menggantinya sendiri.
Sistem ini sudah berjalan puluhan tahun.
Warga juga membuat jadwal jaga. Ada empat shift setiap hari. Bahkan pukul 01.00 dini hari tetap ada satu orang berjaga.
Tidak Hanya Kecelakaan
Tasmin menyebut lokasi ini juga sering menjadi tempat percobaan bunuh diri.
Beberapa kejadian berhasil digagalkan warga. Namun, fakta ini menambah daftar risiko di perlintasan tersebut.
Janji yang Tak Pernah Tuntas
Perlintasan kereta api Jalan Ampera sudah lama dijanjikan perbaikan. Banyak pejabat datang. Mereka menjanjikan solusi.
Terakhir, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, disebut berencana membangun flyover.
Namun, rencana itu bukan hal baru. Tasmin menyebut janji sudah ada sejak era Soeharto.
Hingga kini, tidak ada realisasi.
Kronologi Kecelakaan Maut
Kecelakaan terjadi pada Senin malam, 27 April. Awalnya, sebuah taksi tertemper kereta di perlintasan ini.
Akibat kejadian itu, satu KRL berhenti di Stasiun Bekasi Timur.
Tidak lama kemudian, kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek menabrak KRL tersebut dari belakang.
Benturan keras merobek gerbong khusus wanita.
Total korban mencapai 98 orang. Sebanyak 14 orang meninggal. Sebanyak 84 orang mengalami luka.
Evakuasi Korban Perempuan
Kepala Basarnas, M Syafii, memastikan proses evakuasi selesai pukul 08.00 WIB.
Seluruh korban yang dievakuasi adalah perempuan. Tim SAR telah ditarik dari lokasi.
Jika ditemukan bagian tubuh korban saat pembersihan, tim akan menangani sesuai prosedur.
Harapan Warga: Hentikan Siklus Kematian
Perlintasan kereta api ini terus memakan korban karena minim pengamanan. Warga berharap pembangunan flyover segera dilakukan.
Mereka ingin sistem pengamanan yang jelas. Bukan lagi bambu dan teriakan.
Selama kondisi ini tidak berubah, risiko kecelakaan tetap tinggi.



