Deadline – DEMAM keracunan MBG mengguncang Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Lebih dari 50 santri harus dirawat setelah mengalami gejala serius usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa ini terjadi pada Ahad, 19 April 2026 pagi. Para santri mendadak mengalami mual, muntah, pusing, dan diare. Kondisi itu membuat tenaga kesehatan bergerak cepat melakukan evakuasi ke fasilitas medis.
KERACUNAN MBG diduga berasal dari makanan yang dikonsumsi sehari sebelumnya, Sabtu, 18 April 2026. Menu yang disajikan saat itu terdiri dari nasi goreng, telur, acar, dan buah jeruk. Semua makanan tersebut dipasok dari satu penyedia yang sama, yaitu SPPG.
Kepala Dinas Kesehatan Demak, Ali Maimun, menjelaskan bahwa gejala muncul hampir bersamaan pada pagi hari. Para santri sebelumnya menjalani aktivitas sekolah di MTs, lalu kembali ke pondok pesantren tempat mereka tinggal.
PULUHAN SANTRI DIRAWAT tersebar di beberapa fasilitas kesehatan. Mereka ditangani di tiga rumah sakit dan satu puskesmas. Tim medis juga membuka layanan kesehatan darurat di Desa Pilangwetan untuk mempercepat penanganan.
Petugas menyiagakan dokter di lokasi tersebut. Santri dengan gejala ringan ditangani langsung di desa. Sementara yang menunjukkan kondisi lebih berat segera dirujuk ke rumah sakit.
DATA KORBAN MASIH BERKEMBANG. Hingga saat ini, jumlah pasti santri yang terdampak masih dalam proses pendataan. Namun angka sementara menunjukkan lebih dari 50 orang membutuhkan perawatan medis.
Dinas Kesehatan juga mencatat korban berasal dari tiga hingga lima pesantren di wilayah yang sama. Hal ini memperkuat dugaan bahwa sumber masalah berasal dari distribusi makanan yang terpusat.
INSPEKSI SPPG DIMULAI. Dinas Kesehatan Demak memastikan akan melakukan pemeriksaan langsung ke penyedia MBG pada Senin, 20 April 2026. Pemeriksaan mencakup standar operasional prosedur, kebersihan, serta pengambilan sampel makanan untuk uji laboratorium.
Langkah ini diambil untuk memastikan penyebab pasti keracunan dan mencegah kejadian serupa terulang.
Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan ketat dalam penyediaan makanan massal, terutama bagi kelompok rentan seperti santri yang mengandalkan konsumsi harian dari satu sumber.



