Ucapan Prabowo Kabur Saja ke Yaman Picu Amarah, Publik Ingat Jejak Kabur ke Yordania

Deadline – PRABOWO kembali jadi sorotan. Ucapannya soal “kabur saja” memicu reaksi luas di media sosial. Kalimat itu keluar saat groundbreaking proyek hilirisasi di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu 29 April 2026.

PRABOWO menyindir narasi “Indonesia gelap”. Ia meminta pihak yang tidak nyaman untuk pergi. Bahkan ia menyebut Yaman sebagai tujuan sindiran.
“Indonesia terang. Ada yang mau kabur? Kabur aja… Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman ya? Silakan,” ucapnya di depan publik.

Ucapan ini langsung menyebar. Banyak warganet menilai gaya komunikasi tersebut tajam dan menyinggung. Di sejumlah grup diskusi, termasuk komunitas alumni organisasi, kalimat itu disebut berisiko secara etika dan diplomatik.

PRABOWO dinilai membawa negara lain ke dalam kritik domestik. Yaman disebut memiliki hubungan sejarah kuat dengan Indonesia. Ribuan pelajar Indonesia belajar di sana. Karena itu, penyebutan Yaman sebagai bahan sindiran dianggap tidak tepat.

Kritik lain muncul soal konsistensi. Publik mengingat kembali masa lalu PRABOWO. Ia pernah tinggal di luar negeri, tepatnya di Yordania, setelah krisis politik 1998.

Jejak Lama yang Kembali Dibuka

PRABOWO meninggalkan Indonesia pada September 1998. Ia diberhentikan dari dinas militer setelah keputusan Dewan Kehormatan Perwira terkait kasus penculikan aktivis. Panglima ABRI saat itu mengumumkan keputusan tersebut.

Dalam pernyataannya di media sosial tahun 2014, PRABOWO mengakui memilih pergi ke Yordania. Ia menyebut banyak tuduhan yang diarahkan kepadanya saat itu.

Baca Juga  ChatGPT Tumbang: 89 Persen Pengguna Terdampak, Layanan Sempat Lumpuh dan Bikin Panik

Masa di Yordania tidak mudah. Status kewarganegaraannya sempat tidak jelas. Kondisi ini bahkan memicu perhatian tokoh politik nasional.

Megawati Soekarnoputri pernah mengungkap kemarahannya saat mengetahui situasi tersebut. Dalam sebuah acara resmi tahun 2019, ia menilai tidak adil jika seorang warga negara dibiarkan tanpa kepastian status.

Ia menegaskan nilai kemanusiaan harus diutamakan. Bahkan terhadap lawan politik sekalipun.

“Indonesia Gelap” dan Gelombang Ketidakpercayaan

PRABOWO dalam pidatonya juga menekankan perjalanan panjang bangsa. Ia menyebut Indonesia telah melalui berbagai pemberontakan dan konflik sejak masa awal kemerdekaan.

Menurutnya, kondisi saat ini lebih stabil. Ia bahkan mengklaim Indonesia termasuk negara aman di dunia. Karena itu, ia heran dengan munculnya narasi pesimistis.

Namun di sisi lain, muncul gerakan #KaburAjaDulu. Tagar ini ramai di media sosial. Banyak orang mengaku cemas dengan kondisi politik dan hukum.

Gerakan ini mencerminkan rasa frustrasi sebagian masyarakat. Mereka melihat polarisasi yang tajam dan ketidakpastian hukum sebagai ancaman.

Kritik Tajam dari Publik

PRABOWO juga dikritik soal pernyataan lain. Ia menyebut tidak ada dalam sejarah pembukaan ribuan koperasi dalam satu tahun. Pernyataan ini diperdebatkan.

Sebagian warganet membalas dengan contoh lain. Mereka menyinggung nilai tukar rupiah yang pernah melemah dan kondisi kesejahteraan profesi tertentu.

Respons ini menunjukkan satu hal. Kepercayaan publik tidak seragam. Sebagian menerima optimisme pemerintah, sebagian lain meragukan.

Baca Juga  Sejarah Jakarta: Dari Pelabuhan Dagang ke Kota Malam Penuh Jejak

Antara Retorika dan Realita

PRABOWO menutup pidatonya dengan ajakan kepada kalangan intelektual untuk lebih objektif melihat dunia. Ia meminta masyarakat membaca data global dan tidak mudah terpengaruh narasi negatif.

Namun reaksi publik menunjukkan bahwa komunikasi pemimpin memiliki dampak besar. Kata-kata bisa membangun kepercayaan. Bisa juga memicu jarak.

Kasus ini membuka kembali memori lama. Tentang krisis 1998. Tentang pengasingan di Yordania. Dan tentang bagaimana sejarah sering kembali hadir saat masa kini memanas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER