Deadline – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Rupiah dibuka melemah 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.738 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan bervariasi mata uang Asia dan Eropa terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya produksi, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja atau PHK di berbagai sektor industri.
Data perdagangan menunjukkan yen Jepang menguat 0,02 persen. Sementara dolar Hong Kong melemah 0,01 persen dan dolar Taiwan turun 0,07 persen. Won Korea Selatan juga melemah 0,01 persen.
Di kawasan Asia Tenggara, ringgit Malaysia turun 0,09 persen dan baht Thailand melemah 0,08 persen. Peso Filipina justru menguat tipis 0,01 persen.
Dari Eropa, euro dan pound sterling sama-sama menguat 0,04 persen terhadap dolar AS. Sebaliknya, franc Swiss melemah 0,09 persen.
Ekonom dari Center of Reform on Economics Indonesia atau Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai hampir seluruh sektor di Indonesia terdampak pelemahan rupiah. Penyebab utamanya karena industri nasional masih bergantung pada bahan baku impor.
Menurut Yusuf, masyarakat desa tetap terkena dampak meski tidak pernah bertransaksi memakai dolar AS. Ia mencontohkan petani masih memakai pupuk berbahan impor seperti kalium dan fosfat yang dibeli menggunakan dolar.
Akibat pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir, harga pupuk non-subsidi ikut naik sehingga keuntungan petani makin menipis.
Tekanan juga dirasakan peternak rakyat. Pakan ternak seperti bungkil kedelai dan jagung masih memiliki ketergantungan impor sehingga biaya produksi ikut meningkat saat dolar menguat.
Selain itu, gandum yang seluruhnya masih diimpor membuat harga mi instan dan roti berpotensi naik. Padahal produk tersebut menjadi alternatif makanan masyarakat berpenghasilan rendah ketika harga beras meningkat.
Yusuf menegaskan anggapan bahwa masyarakat desa tidak terdampak dolar merupakan pandangan yang keliru. Dampak pelemahan rupiah justru dirasakan secara tidak langsung melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Ia juga menilai pasar tidak hanya memperhatikan faktor global seperti penguatan dolar AS dan geopolitik dunia. Investor disebut ikut mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah serta kredibilitas pengelolaan anggaran negara.
Menurut Yusuf, pasar membutuhkan sinyal kuat bahwa pemerintah memahami dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi pangan dan daya beli masyarakat.
Ia meminta pemerintah dan Bank Indonesia memperbaiki komunikasi kebijakan serta mempercepat langkah pengurangan ketergantungan impor, terutama untuk komoditas strategis.
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, M Rizal Taufikurahman, menyebut pelemahan rupiah menjadi bentuk inflasi tidak langsung bagi masyarakat bawah.
Kenaikan kurs dolar membuat harga pupuk, pestisida, BBM, gula, minyak goreng, kedelai, hingga bahan pangan lain ikut terdorong naik.
Rizal mengatakan biaya hidup masyarakat kini meningkat lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan. Kondisi itu membuat daya beli warga semakin tertekan.
Menurut dia, petani dan nelayan menghadapi kenaikan biaya operasional. Di sisi lain, pelaku UMKM kesulitan menjaga harga jual di tengah konsumsi masyarakat yang melemah.
Rizal mengingatkan dampak jangka panjang pelemahan rupiah bisa memicu perlambatan produksi hingga PHK massal di sektor industri yang bergantung pada impor.
Industri makanan dan minuman, farmasi, tekstil, elektronik, hingga otomotif disebut paling rentan terkena tekanan biaya produksi akibat pelemahan rupiah berkepanjangan.
Perusahaan dinilai dapat menahan ekspansi, mengurangi jam kerja, hingga melakukan efisiensi tenaga kerja jika tekanan biaya terus terjadi.
Pengamat mata uang Lukman Leong juga menilai pelemahan rupiah akan langsung terasa dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Ia menjelaskan harga pupuk, gula, kedelai untuk tahu dan tempe, gandum, pakan ternak, hingga BBM sangat dipengaruhi harga internasional yang menggunakan dolar AS.
Kenaikan biaya energi dan bahan baku juga mendorong ongkos distribusi serta logistik menjadi lebih mahal. Dampaknya, harga kebutuhan pokok di pasar ikut meningkat.
Meski demikian, Lukman menyebut ada sektor yang diuntungkan dari pelemahan rupiah. Perusahaan berbasis ekspor seperti batu bara dan crude palm oil atau CPO memperoleh pendapatan dalam dolar AS sehingga nilai penerimaan mereka meningkat.
Namun, jika pelemahan rupiah berlangsung tajam dan lama, perusahaan tetap menghadapi tekanan margin keuntungan akibat biaya produksi yang melonjak. Situasi itu dapat memicu penundaan perekrutan tenaga kerja hingga PHK.



