Rupiah Anjlok, Peternak Menjerit! Harga Pakan Naik Tiga Kali, Plastik Tembus 100 Persen

Deadline – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan langsung oleh masyarakat desa. Dampak paling berat kini menghantam petani dan peternak di Kota Batu, Jawa Timur.

Kenaikan dolar membuat harga pakan ternak, bahan pertanian impor, hingga kemasan plastik melonjak tajam. Kondisi ini memicu biaya produksi naik di tengah harga hasil panen dan komoditas peternakan yang justru melemah.

Penasehat Kelompok Peternak Ayam Petelur Kota Batu, Ludi Tanarto, mengatakan sektor pertanian dan peternakan menjadi bidang yang paling rentan terhadap gejolak kurs dolar.

Menurut Ludi, sekitar 60 persen bahan pakan ternak masih bergantung pada impor dan transaksi pembeliannya menggunakan dolar Amerika Serikat.

“Ketika nilai dolar naik seperti sekarang, dampaknya langsung terasa pada harga pakan,” kata Ludi, Selasa (19/5/2026).

Ludi menjelaskan, dampak pelemahan rupiah sudah dirasakan petani dan peternak dalam dua bulan terakhir. Selama periode tersebut, harga pakan ternak telah naik sebanyak tiga kali.

Setiap kenaikan mencapai Rp200 per kilogram. Total kenaikan kini mencapai Rp600 per kilogram.

“Harga pakan sebelumnya sekitar Rp7.400 per kilogram, sekarang sudah menyentuh Rp8.000 per kilogram atau hampir naik 10 persen,” jelasnya.

Tak hanya pakan ternak, harga plastik untuk kebutuhan kemasan produk pertanian dan peternakan juga ikut melonjak tajam. Bahkan kenaikannya disebut mencapai 100 persen.

Ludi menyebut kenaikan itu dipicu bahan baku plastik yang masih bergantung pada impor.

Baca Juga  Dana Desa Dipotong untuk KDMP, Bupati Ingatkan Risiko Jalan Rusak dan Harga Pangan Anjlok

“Harga botol plastik bahkan naik sampai 100 persen. Memang untuk plastik kemasan naiknya cukup tinggi,” ujarnya.

Selain itu, bahan aktif obat pertanian juga masih berasal dari impor dan pembayarannya menggunakan dolar. Akibatnya, harga sarana produksi pertanian ikut terdorong naik.

Ludi memperkirakan rata-rata kenaikan produk penunjang pertanian kini sudah mencapai sekitar 15 persen.

Kondisi pasar yang tidak stabil juga membuat supplier kesulitan memberikan kepastian harga.

“Supplier sekarang tidak berani memberi jaminan harga untuk satu bulan ke depan. Jadi setiap transaksi harus negosiasi ulang karena harga terus berubah mengikuti fluktuasi kurs,” terangnya.

Di sisi lain, tingginya biaya produksi tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual hasil panen maupun produk peternakan.

Harga telur, daging, dan sejumlah hasil pertanian justru mengalami penurunan di pasaran.

Menurut Ludi, kondisi ini juga dipengaruhi menurunnya aktivitas hajatan masyarakat saat memasuki bulan Dzulqa’dah atau bulan Selo dalam penanggalan Jawa.

Saat hajatan berkurang, kebutuhan konsumsi masyarakat ikut turun sehingga permintaan komoditas pangan melemah.

“Kondisi sekarang ini biaya produksi naik, tetapi harga panen tidak ikut naik. Bahkan telur dan beberapa hasil pertanian cenderung turun,” bebernya.

Petani dan peternak berharap kondisi pasar akan membaik saat memasuki bulan Dzulhijjah atau bulan Besar. Mereka berharap meningkatnya aktivitas hajatan masyarakat bisa kembali mendongkrak kebutuhan konsumsi dan harga komoditas.

Baca Juga  Potongan Ojol Dipangkas 8 Persen, Driver Tetap Waswas: Janji Prabowo Tak Sesuai Realita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Teratas

spot_img

TERPOPULER