Deadline – Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga mendekati Rp17.800 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan akhir Mei 2026. Situasi ini langsung memicu kecemasan publik. Banyak orang kembali mengingat krisis moneter 1998 yang pernah mengguncang Indonesia.
Kurs dolar kini kembali menjadi simbol ketakutan. Di media sosial, muncul kekhawatiran tentang potensi krisis ekonomi baru, lonjakan harga, PHK massal, hingga ancaman terhadap stabilitas nasional. Namun kondisi ekonomi Indonesia saat ini dinilai berbeda dibanding era krisis Asia 1998.
Pelemahan ini sebenarnya tidak bisa dilihat hanya dari angka nominal semata. Dalam ekonomi internasional, ada konsep purchasing power parity atau PPP yang digunakan untuk mengukur kewajaran nilai tukar berdasarkan perbedaan inflasi antarnegara.
Konsep PPP menjelaskan bahwa jika inflasi Indonesia lebih tinggi dibanding Amerika Serikat selama puluhan tahun, maka rupiah memang secara alami akan melemah terhadap dolar dalam jangka panjang. Artinya, tidak semua pelemahan kurs berarti ekonomi sedang runtuh.
Jika dihitung menggunakan pendekatan PPP sejak 1990, nilai teoritis rupiah saat ini diperkirakan berada di kisaran Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per dolar AS. Sementara kurs aktual pada 2025 hingga 2026 bergerak di rentang Rp16.500 sampai Rp17.500 per dolar AS.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa posisi rupiah saat ini masih relatif dekat dengan jalur fundamental inflasi jangka panjang. Kondisi ini berbeda dengan krisis 1998 ketika rupiah jatuh jauh di bawah nilai fundamental akibat kepanikan besar di pasar.
Pada masa itu, keruntuhan perbankan, pelarian modal asing, dan krisis politik membuat pasar kehilangan kepercayaan terhadap Indonesia. Dalam teori moneter, situasi tersebut disebut overshooting, yaitu kondisi ketika pelemahan mata uang bergerak jauh melampaui fundamental ekonomi akibat kepanikan massal.
Karena itu, banyak ekonom menilai pelemahan rupiah saat ini belum menunjukkan pola seperti 1998. Inflasi Indonesia masih relatif terkendali, sektor perbankan lebih kuat, dan cadangan devisa nasional masih cukup besar.
Meski begitu, tekanan terhadap mata uang Indonesia ini tetap memunculkan persoalan lain yang lebih dalam. Masalah utamanya bukan hanya soal kurs, tetapi tentang produktivitas dan transformasi ekonomi Indonesia yang dinilai berjalan lambat.
Thailand dan Vietnam menjadi contoh berbeda di kawasan Asia Tenggara. Thailand berhasil menjaga stabilitas mata uang baht setelah krisis 1997. Namun pertumbuhan ekonominya kemudian mengalami stagnasi dan terjebak middle income trap.
Sementara Vietnam justru mengalami pelemahan mata uang dong dalam jangka panjang, tetapi di saat bersamaan mampu membangun industri manufaktur ekspor secara agresif. Vietnam berhasil masuk ke rantai pasok global dan menikmati relokasi industri dari Tiongkok.
Indonesia berada di tengah dua kondisi tersebut. Rupiah terus melemah secara bertahap dalam jangka panjang, tetapi transformasi industri nasional dinilai belum secepat Vietnam. Ekonomi Indonesia masih bergantung pada komoditas, konsumsi domestik, dan arus modal asing.
Akibatnya, pelemahan rupiah dianggap sebagai depresiasi struktural. Rupiah melemah perlahan karena pertumbuhan produktivitas nasional kalah cepat dibanding negara pesaing.
Tekanan terhadap rupiah kembali meningkat sepanjang Januari hingga Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level Rp17.858 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi, 28 Mei 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah saat ini tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Menurut dia, kondisi ekonomi domestik masih cukup kuat.
Purbaya mengatakan pemerintah bersama sejumlah pihak melakukan langkah di pasar surat berharga negara atau SBN untuk menjaga imbal hasil obligasi tetap terkendali. Langkah itu dilakukan agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Ia juga menyebut mulai ada aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia. Karena itu, menurut Purbaya, tekanan terhadap rupiah saat ini dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi nasional.
Namun ekonom Yanuar Rizky memiliki pandangan berbeda. Ia menilai intervensi di pasar obligasi justru bisa menambah tekanan terhadap rupiah jika ketergantungan terhadap dana asing masih tinggi.
Menurut Yanuar, ketika pemerintah mencoba menjaga yield obligasi di tengah tekanan global, teori likuiditas justru bisa membuat rupiah semakin melemah. Ia juga menilai pernyataan pejabat publik terkait pasar keuangan harus dijaga agar tidak mempengaruhi psikologi pasar.
Tekanan terhadap rupiah saat ini terjadi di tengah ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat, keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang, dan melemahnya sentimen investor terhadap aset berisiko.
Selain rupiah, pasar saham Indonesia juga mengalami tekanan sejak awal tahun. IHSG tercatat turun tajam dari level 9.000 menuju kisaran 6.000.
Meski demikian, kondisi ekonomi Indonesia saat ini dinilai belum berada di tepi krisis seperti 1998. Yang mulai terlihat justru erosi kepercayaan secara perlahan terhadap kemampuan Indonesia mempercepat produktivitas dan transformasi ekonomi nasional.
Pasar kini tidak hanya melihat inflasi atau cadangan devisa. Investor juga mulai mempertanyakan kemampuan Indonesia membangun industri yang lebih kompetitif dan menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Bayang-bayang krisis 1998 memang masih kuat dalam ingatan masyarakat Indonesia. Namun pelemahan rupiah saat ini belum otomatis berarti kehancuran ekonomi nasional. Yang menjadi tantangan terbesar justru bagaimana Indonesia membangun kepercayaan pasar melalui produktivitas dan transformasi ekonomi yang nyata.



