Deadline – Program Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi perhatian media internasional. Dua program unggulan pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), mendapat sorotan karena dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Program Prabowo tersebut bahkan menjadi bahan pembahasan sejumlah media asing. Dalam wawancara khusus dengan media Prancis atlantico.fr, Prabowo mengakui pemerintah masih memiliki kelemahan dalam menyampaikan berbagai kebijakan kepada publik.
Prabowo mengatakan pemerintah sedang menjalankan berbagai perubahan besar, termasuk penerapan kebijakan ekspor satu pintu. Menurutnya, perubahan dalam skala besar membutuhkan pengawasan yang ketat agar seluruh program dapat berjalan sesuai tujuan.
Ia menjelaskan bahwa koordinasi antar kementerian terus dilakukan secara intensif. Pertemuan dengan para menteri disebut berlangsung hampir tanpa jeda guna memastikan berbagai program pemerintah berjalan selaras.
Sorotan lebih tajam datang dari media internasional The Economist. Dalam artikelnya, media tersebut menilai program Makan Bergizi Gratis dan pembentukan 80 ribu koperasi desa membutuhkan anggaran yang sangat besar.
The Economist memperkirakan kedua program tersebut dapat menghabiskan sekitar 10 persen dari total anggaran negara. Angka itu dinilai cukup besar dan berpotensi menimbulkan risiko terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Menurut media tersebut, tekanan terhadap anggaran negara semakin berat setelah ruang fiskal pemerintah menyempit akibat berbagai tantangan ekonomi global, termasuk dampak krisis energi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam artikelnya, The Economist menyebut pemerintah menghadapi tiga pilihan yang tidak mudah. Pilihan pertama adalah mengurangi proyek-proyek unggulan. Pilihan kedua adalah memangkas subsidi energi. Sementara pilihan ketiga adalah memperlebar defisit anggaran melebihi batas yang selama ini ditetapkan sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Media itu menilai setiap pilihan memiliki konsekuensi politik yang tidak ringan. Pengurangan proyek unggulan dapat menimbulkan kesan pemerintah tidak mampu menjalankan janji-programnya. Di sisi lain, pengurangan subsidi energi berpotensi memicu kenaikan harga dan menimbulkan keresahan di masyarakat.
Karena itu, The Economist menilai terdapat kemungkinan pemerintah memilih untuk memperbesar defisit anggaran guna menjaga keberlangsungan program-program prioritas.
Selain persoalan anggaran, media tersebut juga menyoroti reaksi pasar terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia. Investor disebut mulai menunjukkan perhatian terhadap kondisi fiskal dan pembiayaan pemerintah.
The Economist menyatakan pembayaran bunga utang pemerintah mengalami peningkatan. Media tersebut juga menyebut adanya kekhawatiran bahwa lembaga pemeringkat kredit dapat mempertimbangkan peninjauan terhadap peringkat Indonesia.
Dalam artikelnya, media itu menuliskan bahwa selama pemerintahan Prabowo, modal asing senilai 6 miliar dolar AS telah keluar dari Indonesia. Selain itu, nilai tukar rupiah disebut melemah sekitar 11 persen terhadap dolar Amerika Serikat hingga mencapai titik terendah sepanjang sejarah.
The Economist menilai pelanggaran terhadap batas defisit anggaran dapat memperburuk situasi karena berpotensi meningkatkan biaya pinjaman pemerintah di masa mendatang.
Media tersebut juga menyoroti kebijakan subsidi bahan bakar yang dinilai membebani keuangan negara. Menurut penilaian mereka, subsidi energi memang populer secara politik, tetapi dapat mendorong konsumsi ketika pasokan energi berada dalam kondisi terbatas.
Kritik juga diarahkan kepada program Makan Bergizi Gratis. The Economist berpendapat program tersebut sebaiknya lebih difokuskan kepada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin agar penanganan stunting dapat dilakukan secara lebih terarah.
Meski demikian, pemerintah Indonesia tetap melanjutkan berbagai program prioritas yang telah dirancang. Prabowo menegaskan bahwa koordinasi dan pengawasan terus dilakukan untuk memastikan kebijakan pemerintah berjalan sesuai rencana.



