Pernyataan Prabowo Soal Anjloknya Rupiah Hingga Rp 17.600 Dinilai Remehkan Dampak Ekonomi Desa

Deadline – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal pelemahan rupiah memicu kritik tajam dari publik dan ekonom. Ucapan Prabowo yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar dianggap terlalu menyederhanakan dampak ekonomi yang sedang terjadi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat disebut telah menyentuh level Rp17.600 per dolar AS. Kondisi itu dinilai berpotensi memicu kenaikan biaya hidup hingga ke wilayah pedesaan.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, menilai pemerintah tidak boleh menganggap pelemahan rupiah sebagai persoalan ringan.

Bhima mengatakan dampak pelemahan rupiah akan langsung terasa melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat. Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih terhubung dengan pasar global dibanding masa krisis 1998.

Ia menyebut masyarakat desa tetap bergantung pada barang yang memiliki komponen impor. Mulai dari telepon genggam, kendaraan bermotor, alat elektronik rumah tangga, hingga pupuk pertanian.

Bhima juga menilai pemerintah terlalu mengandalkan subsidi energi untuk menahan tekanan ekonomi. Padahal, ketergantungan masyarakat terhadap energi modern saat ini jauh lebih besar dibanding masa lalu.

Menurut Bhima, saat krisis 1998 masyarakat masih memiliki alternatif penggunaan energi seperti kayu bakar ketika harga minyak tanah naik. Situasi sekarang dinilai berbeda karena kebutuhan masyarakat sudah berubah.

Selain ancaman kenaikan harga barang, Bhima memperingatkan potensi gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK jika tekanan ekonomi terus berlanjut. Kondisi itu disebut dapat memicu arus pekerja dari kota kembali ke desa tanpa pekerjaan tetap.

Baca Juga  Potongan Ojol Dipangkas 8 Persen, Driver Tetap Waswas: Janji Prabowo Tak Sesuai Realita

Ia menilai desa bisa menanggung beban sosial baru akibat meningkatnya jumlah pengangguran dari wilayah perkotaan.

Bhima juga meminta pemerintah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi kemungkinan memburuknya ekonomi global. Ia menekankan pentingnya stimulus ekonomi serta komunikasi publik yang realistis kepada masyarakat.

Sebelumnya, Prabowo menanggapi kekhawatiran terkait pelemahan rupiah saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Sabtu 16 Mei 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih kuat karena ditopang ketahanan pangan dan energi nasional. Ia juga mengatakan masyarakat desa dinilai lebih tahan menghadapi gejolak ekonomi global.

Pernyataan Prabowo yang menyebut “orang rakyat di desa enggak pakai dolar” kemudian ramai dikritik netizen di media sosial karena dianggap tidak mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat saat ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Teratas

spot_img

TERPOPULER