Farah Diba Pahlavi: Ratu Glamor Terakhir Iran yang Hidup di Pengasingan

Deadline – Farah Diba Pahlavi dikenal sebagai ratu glamor terakhir Iran sekaligus ikon kerajaan modern sebelum runtuhnya monarki Iran pada 1979. Sosok ini sering dijuluki “Jackie Kennedy dari Asia Barat” karena gaya hidup elegan, pengaruh budaya, serta kedekatannya dengan dunia seni internasional.

Farah Diba Pahlavi bukan sekadar permaisuri. Ia juga menjadi figur penting dalam transformasi budaya Iran pada era pemerintahan suaminya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, pemimpin terakhir Dinasti Pahlavi yang berkuasa dari 1925 hingga 1979.

Di balik citra glamor tersebut, perjalanan hidup Farah Diba Pahlavi dipenuhi kontroversi, kemewahan kerajaan, hingga tragedi politik yang memaksanya hidup di pengasingan selama puluhan tahun.

Dari Mahasiswi Arsitektur Menjadi Maharatu Iran

Farah Diba Pahlavi
Sumber Foto https://farahpahlavi.org/

Farah Diba Pahlavi lahir di Teheran pada 14 Oktober 1938 dari keluarga kelas atas. Ayahnya, Sohrab Diba, adalah perwira militer kerajaan Iran yang juga menempuh pendidikan hukum di Paris.

Namun kehidupan keluarga Farah Diba Pahlavi berubah drastis ketika ayahnya meninggal saat ia berusia 10 tahun. Keluarga mereka menghadapi kesulitan ekonomi hingga harus meninggalkan vila keluarga dan pindah ke apartemen milik kerabat.

Meski demikian, Farah tetap memperoleh pendidikan terbaik. Ia bersekolah di Sekolah Italia di Teheran, Jeanne d’Arc School, dan Lycee Razi, sebelum melanjutkan studi arsitektur di École Spéciale d’Architecture di Paris.

Pertemuan yang mengubah hidupnya terjadi pada 1959, ketika Farah bertemu Shah Mohammad Reza Pahlavi di Kedutaan Besar Iran di Paris. Saat itu Farah masih berusia 21 tahun dan masih berstatus mahasiswa.

Baca  Putri Campa: Istri Brawijaya V yang Diam-Diam Membuka Jalan Islam di Majapahit

Pertunangan mereka diumumkan pada 23 November 1959, dan sebulan kemudian digelar pernikahan kerajaan yang mewah. Farah mengenakan gaun rancangan Yves Saint Laurent serta tiara berlian Noor-ol-Ain yang berisi lebih dari 300 butir berlian dengan berat sekitar 2 kilogram emas putih.

Dinobatkan sebagai Maharatu Iran

Farah Diba Pahlevi

Tahun 1967, Farah Diba Pahlavi mencatat sejarah sebagai perempuan pertama dalam monarki modern Iran yang dinobatkan sebagai Shahbanu atau Maharatu.

Penobatan ini memberi Farah peran politik dan simbolik yang lebih besar dibanding permaisuri biasa. Ia memiliki otoritas tertentu dalam kerajaan serta aktif dalam berbagai program sosial dan budaya.

Selama pernikahannya dengan Shah Mohammad Reza Pahlavi, pasangan ini dikaruniai empat anak:

  • Pangeran Reza Pahlavi (lahir 31 Oktober 1960)
  • Putri Farahnaz Pahlavi (lahir 12 Maret 1963)
  • Pangeran Ali Reza Pahlavi (1966–2011)
  • Putri Leila Pahlavi (1970–2001)

Farah juga dikenal sebagai pendorong reformasi sosial, terutama yang berkaitan dengan pendidikan, seni, dan hak perempuan di Iran.

Farah Diba Pahlevi
sumber foto https://farahpahlavi.org/

Ratu Seni yang Berteman dengan Seniman Dunia

Farah Pahlavi memiliki hubungan dekat dengan tokoh seni dunia. Ia diketahui berteman dengan seniman legendaris seperti Salvador Dalí dan Andy Warhol.

Pengaruhnya di bidang seni sangat besar. Ia mendirikan Museum Seni Kontemporer Teheran yang kemudian mengumpulkan karya-karya bernilai tinggi dari seniman dunia seperti:

  • Pablo Picasso
  • Claude Monet
  • Andy Warhol
Baca  Prostitusi Batavia dari Awal Kekuasaan Belanda: Dari Coen hingga Krisis 1930

Di bawah kepemimpinannya, museum tersebut berhasil mengoleksi hampir 150 karya seni modern yang nilainya diperkirakan mencapai US$3 miliar.

Namun proses pengumpulan karya seni tersebut juga menimbulkan kontroversi. Catatan museum memunculkan dugaan adanya praktik lobi politik untuk memperoleh beberapa karya. Farah membantah tuduhan tersebut meski namanya sempat dikaitkan dengan isu korupsi pada masa pemerintahan kerajaan.

Kemewahan Persepolis yang Kontroversial

Salah satu peristiwa paling terkenal dari era Farah adalah perayaan 2.500 tahun monarki Persia di Persepolis pada Oktober 1971.

Pesta kerajaan itu berlangsung selama tiga hari dan disebut sebagai salah satu pesta negara paling mewah dalam sejarah modern.

Perayaan tersebut menyajikan sekitar 18 ton makanan, dihadiri para pemimpin dunia, serta menjadi simbol kemewahan rezim Pahlavi. Namun bagi banyak rakyat Iran, acara itu justru memperlihatkan jurang besar antara kehidupan elite kerajaan dan kondisi masyarakat.

Korupsi dan Krisis Politik Menjelang Revolusi Iran

Pada era pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi, isu korupsi semakin sering disorot. Lonjakan harga minyak pada 1973 memperkaya negara, tetapi juga memicu dugaan praktik korupsi di kalangan pejabat dan keluarga kerajaan.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa antara 1973 hingga 1976, skandal korupsi di Teheran diperkirakan mencapai US$1 miliar.

Kritikus menilai korupsi telah menjadi “lem politik” yang mempertahankan kekuasaan rezim Pahlavi. Ketidakpuasan rakyat terhadap kemewahan kerajaan dan ketimpangan ekonomi akhirnya memicu Revolusi Iran 1979.

Baca  Mustafa Kemal Atatürk: Sosok Revolusioner yang Mengubah Turki Modern

Revolusi tersebut dipimpin oleh ulama Syiah Ayatollah Ruhollah Khomeini yang berhasil menggulingkan monarki dan menggantinya dengan Republik Islam Iran.

Hidup di Pengasingan Setelah Runtuhnya Monarki

Farah Diba Pahlevi
sumber Foto https://farahpahlavi.org/

Setelah revolusi 1979, keluarga kerajaan kehilangan kekuasaan, status, dan bahkan kewarganegaraan mereka dalam waktu singkat.

Shah Mohammad Reza Pahlavi bersama keluarga akhirnya mengungsi ke Mesir. Sang shah meninggal dunia di negara tersebut pada 1981.

Sejak saat itu Farah Diba Pahlavi hidup di pengasingan, sebagian besar di Prancis. Meski tidak lagi memegang kekuasaan, ia tetap dianggap oleh sebagian kalangan monarkis sebagai figur simbolik kerajaan Iran.

Farah Diba Pahlavi bahkan pernah menyatakan bahwa pembentukan Republik Islam Iran pada 1979 tidak sah menurut Konstitusi Iran 1906, sehingga dirinya sebagai Shahbanu masih memiliki legitimasi historis sebagai kepala negara simbolik.

Warisan Sejarah Farah Pahlavi

Farah Diba Pahlavi tetap menjadi tokoh penting dalam sejarah modern Iran. Ia dikenang sebagai sosok yang membawa pengaruh besar dalam perkembangan seni, budaya, dan modernisasi sosial Iran.

Namun di sisi lain, kemewahan kerajaan dan berbagai kontroversi politik pada masa pemerintahannya juga menjadi bagian dari faktor yang memicu revolusi besar yang mengakhiri 2.500 tahun monarki Persia.

Kini, lebih dari empat dekade setelah revolusi tersebut, nama Farah Diba Pahlavi masih sering disebut dalam perdebatan sejarah tentang masa keemasan sekaligus keruntuhan monarki Iran.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER