Prostitusi Batavia dari Awal Kekuasaan Belanda: Dari Coen hingga Krisis 1930

Bagian Ketiga

Deadline – Prostitusi Batavia sudah muncul sejak awal kekuasaan Belanda di kota yang kini dikenal sebagai Jakarta. Sejak abad ke-17, praktik ini berkembang karena jumlah perempuan Eropa dan Cina jauh lebih sedikit dibanding pria. Ketimpangan ini mendorong permintaan terhadap layanan seksual.

Pada masa pemerintahan Jan Pieterszoon Coen, praktik prostitusi sudah terlihat. Ia menolak keras perilaku tersebut. Ia bahkan menghukum putri angkatnya sendiri, Sarah, karena berhubungan dengan perwira VOC. Sang perwira dihukum mati, sementara Sarah dihukum dera. Namun penolakan ini tidak menghentikan praktik prostitusi. Fenomena ini terus tumbuh seiring perkembangan Batavia.

Prostitusi Batavia awalnya terkonsentrasi di kawasan Macao Po, yang kini dikenal sebagai Jakarta Kota. Pada abad ke-17, wilayah ini menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus lokasi awal praktik prostitusi. Seiring pertumbuhan kota, lokasi prostitusi menyebar ke berbagai wilayah lain.

Salah satu lokasi yang terkenal adalah Gang Mangga, di sebelah timur Macao Po, sekitar Jalan Jayakarta saat ini. Tempat ini dikenal sebagai pusat prostitusi kelas rendah. Bahkan penyakit sifilis saat itu dikenal dengan sebutan “sakit mangga”. Ini menunjukkan kuatnya asosiasi kawasan tersebut dengan praktik prostitusi.

Prostitusi Batavia

Memasuki abad ke-20, muncul rumah bordil yang dikelola oleh komunitas Cina, dikenal sebagai soehian. Kompleks ini berkembang cepat dan tersebar di berbagai wilayah Batavia. Namun sering terjadi keributan di dalamnya.

Baca  Kopi Pangku Pantura: Jejak Lama yang Hidup di Warung Remang-Remang dan Semerbak Bau Tubuh Wanita

Pada tahun 1919, terjadi pembunuhan seorang pelacur Indo bernama Fientje de Ferick di sebuah soehian di Petamburan. Peristiwa ini memicu pemerintah kolonial Belanda menutup soehian, terutama di sekitar Gang Mangga.

Setelah penutupan tersebut, pusat prostitusi bergeser ke lokasi lain seperti Gang Hauber di Petojo dan Kaligot di Sawah Besar. Gang Hauber masih aktif hingga awal 1970-an, sementara Kaligot ditutup pada akhir 1950-an.

Prostitusi Batavia juga dipicu faktor demografi. Pada tahun 1930, jumlah perempuan jauh lebih sedikit dibanding pria. Perbandingan menunjukkan bahwa dari 1.000 pria Eropa hanya ada 884 perempuan, Cina 646 perempuan, dan Arab 841 perempuan. Ketimpangan ini memperbesar permintaan terhadap prostitusi.

Faktor ekonomi memperparah situasi. Krisis global pada 1930 menghantam Hindia Belanda. Harga komoditas seperti gula dan kopi jatuh. Ekspor menurun. Banyak orang kehilangan pekerjaan.

Di Jakarta, dampaknya tidak separah Surabaya karena tidak bergantung pada industri gula. Namun pengangguran tetap meningkat. Industri yang berkembang hanya mampu menyerap sekitar 19 persen tenaga kerja. Dari jumlah itu, hanya 13 persen pekerja berasal dari pribumi.

Sebagian besar tenaga kerja yang tidak terserap bekerja di sektor transportasi seperti kapal, trem, dan kereta api. Namun banyak yang tetap menganggur. Kondisi ini mendorong pertumbuhan sektor informal.

Prostitusi Batavia pada 1930-an menjadi bagian dari sektor informal yang berkembang pesat. Banyak perempuan masuk ke dunia ini karena tekanan ekonomi. Kemiskinan dan minimnya lapangan kerja menjadi faktor utama.

Baca  Putri Campa: Istri Brawijaya V yang Diam-Diam Membuka Jalan Islam di Majapahit

Fenomena ini menunjukkan bahwa prostitusi di Batavia bukan sekadar masalah moral. Praktik ini terkait erat dengan struktur sosial, ketimpangan gender, dan tekanan ekonomi pada masa kolonial.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER