BerandaINTERNASIONALIntelijen AS Bongkar Fakta: Rezim Iran Tetap Kuat Meski Dibombardir

Intelijen AS Bongkar Fakta: Rezim Iran Tetap Kuat Meski Dibombardir

Deadline – Intelijen AS menyimpulkan rezim Iran tetap kuat meski dibombardir selama hampir dua pekan oleh Amerika Serikat dan Israel. Laporan terbaru menyebut pemerintahan Iran masih mampu mengendalikan situasi dalam negeri dan tidak berada di ambang keruntuhan.

Informasi tersebut berasal dari sejumlah laporan intelijen Amerika Serikat yang dikutip dari sumber yang mengetahui isi analisis tersebut. Para analis intelijen menilai struktur kekuasaan Iran masih stabil meski tekanan militer terus meningkat.

Intelijen AS: Pemerintahan Iran Masih Mengendalikan Negara

Intelijen AS menyatakan rezim Iran tidak berada dalam bahaya untuk runtuh dalam waktu dekat. Analisis ini muncul setelah hampir dua minggu serangan militer intensif yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Salah satu sumber yang mengetahui laporan tersebut mengatakan bahwa berbagai laporan intelijen memberikan kesimpulan yang sama. Pemerintah Iran dinilai masih mampu mengendalikan publik dan menjaga stabilitas politik di dalam negeri.

Laporan terbaru itu diselesaikan dalam beberapa hari terakhir. Dokumen tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan penting bagi pemerintah Amerika Serikat dalam menentukan langkah militer selanjutnya.

Ayatollah Khamenei Tewas, Kepemimpinan Iran Tetap Bertahan

Ayatollah Ali Khamenei tewas pada 28 Februari, tepat pada hari pertama serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Meski kehilangan pemimpin tertinggi, sistem kekuasaan ulama di Iran dinilai masih bertahan.

Baca  Qatar Airways Selamatkan Turis Terjebak di Timur Tengah, Penerbangan Terbatas Mulai Dibuka

Serangan militer juga menewaskan puluhan pejabat senior dan beberapa komandan berpangkat tinggi di Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Pasukan elit ini dikenal memiliki pengaruh besar dalam sektor militer dan ekonomi Iran.

Namun laporan intelijen menyebut IRGC tetap memegang kendali penting dalam pemerintahan. Struktur komando masih berjalan dan pemerintahan sementara mampu menjaga stabilitas politik.

Mojtaba Khamenei Resmi Menjadi Pemimpin Baru Iran

Majelis Pakar Iran yang berisi ulama Syiah senior telah menunjuk Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.

Penunjukan ini dilakukan pada awal pekan setelah kematian Khamenei. Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa mekanisme suksesi kepemimpinan di Iran tetap berjalan meski negara sedang berada dalam situasi perang.

Para analis intelijen Amerika menilai keputusan tersebut membantu menjaga kesinambungan kekuasaan di Iran.

Israel Akui Tidak Ada Jaminan Rezim Iran Tumbang

Seorang pejabat senior Israel mengakui dalam pembicaraan tertutup bahwa perang tidak menjamin kejatuhan pemerintahan Iran.

Israel dan Amerika Serikat telah menyerang berbagai target strategis di Iran sejak dimulainya operasi militer. Target serangan meliputi sistem pertahanan udara, fasilitas nuklir, serta pusat komando militer.

Meski begitu, hasil analisis intelijen menunjukkan serangan udara saja belum cukup untuk menggulingkan pemerintahan Iran.

Perubahan Rezim Dinilai Butuh Serangan Darat

Sumber yang mengetahui analisis tersebut mengatakan bahwa perubahan rezim kemungkinan membutuhkan operasi militer darat.

Baca  Serangan Balasan Iran Hantam Target Israel dan Pangkalan AS

Serangan darat dinilai dapat membuka ruang bagi masyarakat Iran untuk melakukan protes di jalan tanpa tekanan keamanan.

Pemerintahan Presiden Donald Trump sejauh ini belum menutup kemungkinan pengerahan pasukan darat Amerika Serikat ke Iran. Namun belum ada keputusan resmi terkait langkah tersebut.

Trump sebelumnya juga mengisyaratkan operasi militer Amerika Serikat di Iran dapat berakhir dalam waktu dekat, terutama karena tekanan politik akibat kenaikan harga minyak global.

Situasi Iran Masih Bisa Berubah

Sumber intelijen menegaskan situasi di Iran masih sangat dinamis. Kondisi politik dan keamanan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan di lapangan.

Kantor Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat dan Badan Intelijen Pusat atau CIA sejauh ini menolak memberikan komentar resmi terkait isi laporan tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini