Deadline – Donald Trump lontarkan ancaman akan tarik pasukan AS dari Jerman, pernyataan Trump ini menjadi isu panas yang memicu sorotan global. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang meninjau kemungkinan pengurangan pasukan militernya di Jerman. Pernyataan ini muncul di tengah konflik geopolitik yang melibatkan Iran.
Ancaman Donald Trump ini disampaikan setelah kritik keras datang dari Kanselir Jerman Friedrich Merz. Ia menilai kebijakan Washington dalam konflik Iran tidak tepat. Kritik ini langsung memicu reaksi dari Gedung Putih.
Donald Trump menilai sikap Jerman tidak sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat. Ia bahkan menyebut pandangan Merz terkait isu senjata nuklir Iran sebagai tidak tepat. Pernyataan ini memperjelas perbedaan posisi antara dua sekutu lama tersebut.
Ketegangan meningkat saat Merz menyebut Iran mampu “mempermalukan” Amerika Serikat di meja perundingan. Ia juga menilai kemampuan negosiasi Teheran lebih kuat dalam situasi tersebut. Pernyataan ini dianggap sebagai sindiran langsung terhadap strategi diplomasi Washington.
Merz juga mengkritik langkah Amerika Serikat yang dinilai terlalu cepat memulai konflik tanpa rencana penyelesaian yang jelas. Kritik ini memperkuat kesan bahwa Eropa tidak sepenuhnya mendukung pendekatan Amerika dalam konflik Iran.
Trump merespons keras. Ia menuduh Merz seolah tidak mempermasalahkan jika Iran memiliki senjata nuklir. Sehari kemudian, melalui platform Truth Social, Trump mengeluarkan pernyataan tegas terkait masa depan pasukan Amerika di Jerman.
“Amerika Serikat sedang mempelajari kemungkinan pengurangan pasukan di Jerman, keputusan akan diambil dalam waktu dekat,” ujar Trump, dikutip dari Agence France-Presse pada Rabu, 29 April 2026.
Data dari Congressional Research Service mencatat lebih dari 35.000 personel militer Amerika Serikat berada di Jerman pada 2024. Sejumlah media Jerman memperkirakan jumlah itu kini mendekati 50.000 personel.
Selama masa kepemimpinannya, Trump memang berulang kali mengancam akan mengurangi pasukan di Eropa. Ia menilai aliansi NATO tidak adil dalam pembagian beban pertahanan.
Langkah ini dinilai sebagai tekanan politik terhadap sekutu yang tidak sejalan dengan kebijakan Amerika Serikat. Isu ini juga terkait dengan konflik Iran dan keamanan kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Di tengah situasi ini, Merz mencoba meredakan ketegangan. Dalam konferensi pers di Berlin, ia menegaskan hubungan pribadinya dengan Trump tetap baik.
“Hubungan pribadi kami tetap sama baiknya seperti sebelumnya,” ujarnya.
Namun Merz tetap konsisten dengan kritiknya. Ia menegaskan sejak awal meragukan langkah Amerika dalam konflik tersebut. Ia juga menyebut Eropa ikut menanggung dampak dari kebijakan itu.
“Kami di Jerman dan Eropa sangat menderita akibat konsekuensinya,” kata Merz.
Ketegangan ini menunjukkan perbedaan tajam antara Amerika Serikat dan Eropa dalam menangani konflik global. Isu Iran kembali membuka celah dalam hubungan transatlantik yang selama ini dianggap solid.



