Deadline – KISAH LUKMAN menjadi pelajaran abadi tentang bahaya kekuasaan dan kesombongan. Dalam sebuah riwayat, saat Lukman tertidur, Allah memerintahkan malaikat untuk menawarkan jabatan sebagai khalifah di muka bumi. Namun jawaban Lukman justru mengejutkan.
Ia tidak serta-merta menerima. Lukman berkata, jika diberi pilihan, ia lebih memilih keselamatan daripada kekuasaan. Baginya, jabatan adalah beban paling berat, penuh risiko kezaliman, dan sangat menentukan nasib seseorang di akhirat.
Sikap ini menunjukkan satu hal penting: orang berilmu justru paling takut terhadap kekuasaan, karena sadar besarnya tanggung jawab yang akan dipikul.
Kekuasaan: Ujian Berat yang Sering Menjerumuskan
Lukman menjelaskan bahwa kekuasaan dikelilingi oleh potensi kezaliman dari segala arah. Jika mampu menjalankannya dengan adil, seseorang akan selamat. Namun jika tergelincir, maka jalan menuju keselamatan pun menyimpang.
Realitas ini terbukti hingga hari ini. Banyak pemimpin yang awalnya baik dan religius, tetapi berubah saat berada di lingkaran kekuasaan. Nilai moral runtuh, integritas hilang, dan kesombongan perlahan tumbuh.
Di tingkat kecil seperti desa hingga jabatan tinggi negara, fenomena ini terus berulang. Kekuasaan sering kali mengubah karakter, bukan memperbaikinya.
Kesombongan: Penyakit Hati yang Menghancurkan
Dalam ajaran Islam, kesombongan (takabbur) bukan sekadar sikap buruk, tetapi penyakit hati yang berbahaya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
Artinya, orang sombong bukan hanya merasa lebih tinggi, tetapi juga menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.
Kesombongan sering muncul dari:
- Rasa kagum pada diri sendiri (‘ujub)
- Merendahkan orang lain
- Keinginan menonjolkan diri
- Mengikuti hawa nafsu
Semua ini menjadi pintu awal kehancuran, baik di dunia maupun akhirat.
Adigang, Adigung, Adiguna: Wajah Kesombongan Modern
Dalam budaya Jawa dikenal istilah Adigang, Adigung, Adiguna—tiga bentuk kesombongan yang sangat relevan hingga kini:
- Adigang: sombong karena kekuatan atau kekuasaan
- Adigung: sombong karena status, keturunan, atau kekayaan
- Adiguna: sombong karena kepintaran
Ketiganya sering terlihat dalam kehidupan modern. Pejabat merasa paling berkuasa, orang kaya merasa paling mulia, dan orang pintar merasa paling benar.
Padahal, semua itu hanyalah titipan yang bisa hilang kapan saja.
Dari Puncak Kekuasaan ke Liang Kubur
KISAH KEHIDUPAN banyak menunjukkan betapa singkatnya kekuasaan. Hari ini seseorang bisa menjabat sebagai panglima, jenderal, atau pejabat tinggi. Namun esok hari, semua itu hilang tanpa sisa.
Tidak ada lagi bintang di bahu. Tidak ada lagi penghormatan. Semua gelar lenyap.
Yang tersisa hanyalah amal.
Ketika sakaratul maut datang, tidak ada pasukan, senjata, atau jabatan yang mampu menolong. Bahkan, orang yang dahulu ditakuti pun tak berdaya menghadapi ajal.
Di alam kubur, manusia akan menghadapi pertanyaan mendasar. Bukan tentang jabatan, harta, atau kekuasaan, melainkan tentang iman dan amal.
Bahaya Kesombongan: Dari Dunia hingga Akhirat
Kesombongan bukan hanya merusak kehidupan sosial, tetapi juga berdampak besar di akhirat:
- Menjadi dosa pertama dalam sejarah (kesombongan Iblis)
- Menghalangi seseorang menerima kebenaran
- Menutup hati dari petunjuk
- Menjadi sebab kebinasaan
- Menghalangi masuk surga
Orang sombong juga sulit menerima nasihat, cenderung meremehkan orang lain, dan mudah terjerumus dalam kezaliman.
Pemimpin Bijak: Rendah Hati dan Takut kepada Allah
Sebaliknya, para pemimpin sejati justru menunjukkan kerendahan hati. Mereka sadar bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan kehormatan pribadi.
Seperti Lukman yang memilih keselamatan daripada jabatan, atau para tokoh saleh yang menjadikan kekuasaan sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Mereka memahami bahwa jabatan hanyalah jembatan menuju pertanggungjawaban, bukan tujuan akhir.
Refleksi: Jangan Terlambat Menyesal
KESOMBONGAN sering baru disadari saat semuanya telah hilang. Banyak orang menyesal setelah pensiun, ketika kekuasaan tak lagi ada.
Penyesalan datang terlambat:
- Menyesal telah menzalimi orang
- Menyesal menolak kebenaran
- Menyesal menyia-nyiakan kesempatan
Namun waktu tidak bisa diulang.
Rendah Hati adalah Jalan Keselamatan
Pesan utama dari kisah Lukman dan berbagai peringatan ini sangat jelas:
jangan pernah menyombongkan diri, terutama saat memiliki kekuasaan, harta, atau ilmu.
Semua itu hanyalah ujian.
Manusia terbaik bukan yang paling tinggi kedudukannya, tetapi yang paling rendah hatinya. Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan apa yang kita miliki di dunia, melainkan apa yang kita bawa ke akhirat.



