Deadline – Momen Lebaran selalu identik dengan kebahagiaan, silaturahmi, dan reuni keluarga besar. Namun di balik suasana hangat itu, muncul fenomena yang kian terasa: flexing Lebaran, yakni kebiasaan memamerkan pencapaian, harta, dan gaya hidup demi pengakuan sosial.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Dalam banyak keluarga, percakapan saat Lebaran kerap berubah menjadi ajang perbandingan. Mulai dari pekerjaan, gaji, kendaraan, hingga kepemilikan rumah. Tanpa disadari, momen yang seharusnya penuh kehangatan justru menjadi ruang kompetisi sosial yang halus namun nyata.
Menurut psikolog klinis Phoebe Ramadina, situasi berkumpul seperti Lebaran memang memicu dorongan alami untuk menampilkan citra diri terbaik. Banyak orang ingin terlihat berhasil di hadapan keluarga, terutama setelah lama tidak bertemu.
Flexing Berawal dari Kebutuhan Validasi
Secara psikologis, flexing sering berakar dari kebutuhan validasi. Seseorang ingin diakui sebagai pribadi yang sukses atau setidaknya tidak tertinggal dibandingkan anggota keluarga lainnya.
Dalam lingkungan keluarga, pencapaian materi masih sering dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan. Akibatnya, tidak sedikit orang merasa perlu “menunjukkan hasil” agar mendapatkan penilaian positif.
Menariknya, perilaku ini tidak selalu berasal dari rasa percaya diri yang tinggi. Justru dalam banyak kasus, flexing muncul dari rasa tidak aman. Ada kekhawatiran dianggap belum sukses, sehingga individu berusaha menutupi dengan citra yang terlihat meyakinkan.
Tekanan Sosial dan Fear of Missing Out
Tekanan sosial juga memainkan peran besar dalam fenomena ini. Pertanyaan sederhana seperti “kerja di mana?”, “sudah punya rumah belum?”, atau “gajinya berapa?” dapat memicu rasa tidak nyaman.
Dorongan ini bahkan bisa membuat seseorang membangun citra yang lebih tinggi dari kondisi sebenarnya. Misalnya dengan menonjolkan barang bermerek, kendaraan sewaan, atau gaya hidup tertentu demi terlihat mapan.
Phoebe menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan harga diri yang belum stabil dan dorongan Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari orang lain. Di era media sosial, paparan terhadap pencapaian orang lain semakin memperkuat tekanan tersebut.
Akibatnya, penampilan eksternal sering dianggap lebih penting daripada keaslian diri.
Mudik Jadi “Panggung” Pertunjukan Sosial
Tradisi mudik di Indonesia tidak hanya soal perjalanan pulang kampung, tetapi juga membawa dinamika sosial yang kompleks. Dalam perspektif sosiologi, mudik bisa menjadi “panggung depan” tempat individu menampilkan identitas terbaiknya.
Konsep ini sejalan dengan pemikiran Erving Goffman dalam teori dramaturgi melalui karyanya The Presentation of Self in Everyday Life. Ia menggambarkan interaksi sosial seperti pertunjukan teater, di mana setiap orang adalah aktor yang memainkan peran tertentu di depan audiens.
Dalam konteks mudik, pemudik menjadi aktor yang menampilkan simbol kesuksesan. Mulai dari mobil, pakaian baru, perhiasan, hingga oleh-oleh mahal. Semua itu menjadi “properti panggung” untuk memperkuat citra diri.
Akibatnya, makna mudik perlahan bergeser. Dari yang awalnya fokus pada silaturahmi, kini juga menjadi ajang menunjukkan status sosial.
Gengsi dan Beban Ekonomi yang Tersembunyi
Fenomena flexing saat mudik juga berdampak pada meningkatnya pengeluaran masyarakat. Banyak orang rela mengeluarkan biaya besar demi menjaga gengsi.
Mulai dari menyewa mobil, membeli pakaian baru, hingga membawa oleh-oleh berlebihan. Semua dilakukan agar terlihat sukses di kampung halaman, meski kondisi keuangan sebenarnya belum tentu mendukung.
Dampaknya, kebutuhan pasca Lebaran sering kali membengkak. Tidak sedikit orang harus menanggung beban finansial setelah kembali ke perantauan.
Padahal, mudik sejatinya bisa dilakukan secara sederhana tanpa harus menonjolkan kemewahan.
Dampak Sosial: Kecemburuan hingga Urbanisasi
Flexing Lebaran juga memicu dampak sosial yang lebih luas. Cerita kesuksesan yang belum tentu sesuai realita dapat menimbulkan kecemburuan sosial di kampung halaman.
Hal ini sering mendorong masyarakat desa untuk ikut merantau ke kota, meski tanpa persiapan matang. Akibatnya, jumlah perantau terus meningkat setiap tahun pasca Lebaran.
Dalam beberapa kasus, pemudik bahkan mengajak sanak saudara ikut kembali ke kota, sehingga mempercepat arus urbanisasi tanpa perencanaan yang jelas.
Fenomena ini menciptakan ilusi bahwa kesuksesan di kota mudah diraih, padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Antara Motivasi dan “Penyakit Sosial”
Di satu sisi, fenomena ini bisa menjadi motivasi bagi masyarakat untuk berkembang. Namun di sisi lain, jika tidak diimbangi dengan realita dan kesiapan, flexing justru berubah menjadi “penyakit sosial” tahunan.
Lebaran yang seharusnya menjadi momen kehangatan dan kebersamaan berisiko kehilangan makna jika terlalu dibebani dengan pencitraan.
Kesederhanaan, kejujuran, dan keaslian justru menjadi nilai yang mulai langka di tengah budaya pamer yang semakin menguat.



