Deadline – Iran menjadi isu panas yang berpotensi mengguncang politik Amerika Serikat menjelang pemilu paruh waktu 2026. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran bukan hanya mengubah peta politik Timur Tengah, tetapi juga memicu perpecahan serius di tubuh Partai Republik.
Iran kini bukan sekadar konflik luar negeri. Perang ini berubah menjadi ujian politik bagi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan masa depan dukungan Washington terhadap Israel.
Perang Iran Picu Retak di Basis MAGA
Dukungan terhadap langkah militer memang datang dari sebagian besar basis utama Trump. Namun, sejumlah tokoh berpengaruh dari gerakan Make America Great Again (MAGA) justru terang-terangan menolak perang tersebut.
Jurnalis konservatif terkenal, Tucker Carlson, menyebut konflik ini sebagai “perang Israel”. Ia menilai perang terjadi karena dorongan Israel demi mengamankan dominasi absolut di Timur Tengah.
Mantan anggota Kongres, Marjorie Taylor Greene, juga mengecam serangan tersebut dan menyebutnya bertentangan dengan prinsip “America First”. Sementara itu, komentator konservatif Candace Owens aktif mengkritik perang dan menuding Israel mendorong Amerika masuk ke medan tempur.
Tokoh MAGA lain seperti Megyn Kelly, Matt Walsh, dan Hodge Twins juga menyuarakan penolakan.
Pandangan mereka berpengaruh besar. Ketiganya memiliki puluhan juta pengikut di media sosial dan menjadi suara penting di kalangan konservatif. Kritik mereka memperlihatkan perpecahan nyata di dalam Partai Republik.
Jejak Lama Trump Disorot Kembali
Penolakan terhadap perang juga diperkuat dengan mengangkat kembali pernyataan lama Trump dan para pejabatnya.
Pada 2016, Trump pernah berjanji menghentikan kebijakan menggulingkan rezim asing. Dalam sejumlah unggahan lama pada 2012 dan 2013, ia bahkan menuduh Presiden saat itu, Barack Obama, bisa saja menyerang Iran demi kepentingan politik domestik.
Wakil Presiden JD Vance pada 2023 menyebut invasi Irak sebagai “bencana” dan menolak kebijakan luar negeri yang terus menyeret Amerika ke perang baru. Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard juga sebelumnya dikenal keras menentang perang besar dengan Iran.
Kini, pernyataan-pernyataan lama itu kembali viral. Kritikus menilai keputusan perang bertentangan dengan janji ideologis yang membangun koalisi MAGA.
Ancaman Nyata di Pemilu Paruh Waktu 2026
Pemilu paruh waktu 2026 akan mempertaruhkan seluruh 435 kursi DPR dan 35 dari 100 kursi Senat. Saat ini, Partai Republik menguasai kedua kamar Kongres.
Jika Partai Republik kehilangan kursi, agenda politik Trump bisa terhambat. Lebih jauh lagi, posisi Israel di Washington juga bisa terdampak.
Data jajak pendapat terbaru dari Reuters menunjukkan hanya sekitar seperempat warga Amerika yang menyetujui keputusan perang. Bahkan di kalangan pemilih Republik sendiri, tingkat persetujuan hanya 55 persen.
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dukungan lebih dari 90 persen pemilih Republik kepada Presiden George W. Bush saat invasi Irak pada 2003.
Secara historis, pemilu paruh waktu hampir selalu menjadi referendum terhadap presiden yang sedang menjabat. Partai presiden hampir selalu kehilangan kursi, terutama bila tingkat persetujuan di bawah 50 persen. Persetujuan publik terhadap Trump saat ini berada di kisaran 36–38 persen.
Dukungan terhadap Israel Mulai Bergeser
Perubahan besar juga terjadi dalam opini publik Amerika terhadap Israel.
Selama periode 2001–2018, warga Amerika secara konsisten lebih bersimpati kepada Israel dibanding Palestina dengan selisih rata-rata 43 persen menurut survei Gallup.
Namun survei Gallup terbaru menunjukkan untuk pertama kalinya dalam sejarah, simpati publik Amerika lebih condong kepada Palestina dibanding Israel.
Perubahan ini didorong oleh penurunan dukungan dari pemilih Republik. Sejak 2024, dukungan Republik terhadap Israel turun 10 persen.
Padahal, pemilih Republik selama ini menjadi tulang punggung dukungan politik Amerika kepada Israel. Jika tren ini berlanjut, perlindungan politik Israel di Washington bisa melemah.
Dampak Jangka Panjang bagi Trump dan Israel
Trump menyebut dirinya sebagai “sahabat terbaik Israel”. Namun perang yang panjang dan mahal berisiko mengubah persepsi publik.
Jika konflik Iran berlangsung lama dan memakan biaya besar, publik bisa semakin melihatnya sebagai perang yang dijalankan demi kepentingan Israel.
Pemilu 2026 berpotensi menjadi bukan hanya referendum terhadap Trump, tetapi juga terhadap hubungan khusus Amerika Serikat dengan Israel.
Jika perpecahan internal Republik berujung kekalahan di Kongres, dampaknya tidak hanya menghantam agenda Trump. Kongres baru yang terbentuk bisa saja tidak lagi otomatis mendukung kebijakan pro-Israel seperti sebelumnya.
Perang Iran kini bukan sekadar konflik luar negeri. Perang Iran telah berubah menjadi ujian politik besar yang bisa menentukan masa depan kekuasaan Trump dan arah hubungan Amerika Serikat dengan Israel.



