Deadline – Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kembali melontarkan ancaman keras terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pernyataan terbaru, IRGC menegaskan mereka akan terus mengejar dan membunuh Netanyahu selama konflik dengan Israel dan Amerika Serikat masih berlangsung.
Pernyataan Garda Revolusi Iran tersebut dipublikasikan melalui situs resmi militer Iran, Sepah News, pada Ahad. IRGC menyebut Netanyahu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan terhadap warga sipil di wilayah konflik.
“Jika penjahat pembunuh anak ini masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh,” demikian pernyataan yang disampaikan Garda Revolusi Iran.
Ancaman tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah, yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Isu Netanyahu Terluka Dibantah Pemerintah Israel
Sebelum ancaman itu disampaikan, sempat beredar spekulasi di media sosial yang menyebut Netanyahu terluka bahkan tewas akibat serangan Iran. Rumor itu muncul setelah beredar rekaman konferensi pers Netanyahu yang memperlihatkan jari tangannya tampak berjumlah enam.
Cuplikan video tersebut memicu dugaan bahwa teknologi kecerdasan buatan atau AI digunakan dalam tayangan tersebut, sehingga muncul spekulasi bahwa pemerintah Israel menyembunyikan kondisi sebenarnya dari Netanyahu.
Namun, kantor pemerintahan Israel segera membantah rumor tersebut.
Pihak kantor perdana menteri menegaskan bahwa kabar mengenai luka atau kematian Netanyahu adalah informasi palsu.
“Ini adalah berita palsu. Perdana Menteri baik-baik saja,” demikian pernyataan resmi dari kantor pemerintahan Israel.
Iran Serang Pangkalan Militer Amerika di Timur Tengah
Sementara itu, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Pasukan Iran dilaporkan terus melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat.
Serangan tersebut dilaporkan terjadi di beberapa negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika, termasuk Irak, Bahrain, dan Kuwait.
Menurut IRGC, operasi militer itu dilakukan sebagai respons atas keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang sedang berlangsung.
Komando militer Iran menyatakan drone tempur mereka saat ini aktif melakukan pencarian target militer Amerika di berbagai wilayah Timur Tengah.
“Drone mematikan kami mencari titik demi titik tempat persembunyian tentara Amerika. Setelah informasi intelijen diperoleh, serangan akan dilakukan secara tepat terhadap setiap target,” ujar juru bicara militer Iran.
Warga Sipil Diminta Menjauhi Fasilitas Amerika
Pemerintah di Tehran juga memperingatkan warga sipil agar menjauhi fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Peringatan ini dikeluarkan karena konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat belum menunjukkan tanda-tanda mereda bahkan setelah memasuki hari ke-16.
Militer Iran menyebut setiap fasilitas yang berkaitan dengan militer Amerika dapat menjadi target serangan berikutnya jika eskalasi konflik terus meningkat.
Trump Sebut Serangan Iran Mengejutkan
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa serangan balasan Iran terhadap negara-negara sekutu yang menampung pangkalan militer Amerika menjadi perkembangan yang tidak terduga.
Trump menyebut tindakan Iran sebagai kejutan besar dalam dinamika konflik di Timur Tengah saat ini.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih berada pada level tinggi dan berpotensi memicu eskalasi militer yang lebih luas di kawasan.
Konflik Memasuki Fase Berbahaya
Dengan ancaman langsung terhadap pemimpin Israel, serangan terhadap pangkalan militer Amerika, serta meningkatnya aktivitas militer di kawasan, konflik Timur Tengah kini memasuki fase yang semakin berbahaya.
Para pengamat keamanan internasional menilai situasi ini berpotensi memicu konfrontasi terbuka antara negara-negara besar jika tidak segera dikendalikan melalui jalur diplomasi.
Ketegangan yang terus meningkat juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan kawasan dan keselamatan warga sipil di negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer.



