Deadline – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu peringatan keras dari kalangan analis militer. AS Invasi Iran dinilai bukan langkah mudah dan bahkan berpotensi menimbulkan korban besar di pihak Amerika Serikat.
Pakar militer sekaligus mantan kepala badan intelijen eksternal India Research and Analysis Wing (RAW), A.S. Dulat, mengatakan Amerika Serikat harus siap menghadapi konsekuensi besar jika benar-benar mengirim pasukan darat ke Iran.
Menurut Dulat, invasi darat ke Iran berarti Washington harus menerima kenyataan pahit: banyak tentara Amerika kemungkinan akan kembali dalam peti mati.
Invasi Darat Iran Berisiko Besar bagi AS
Dalam wawancara dengan mantan Menteri Luar Negeri India Salman Khurshid di program In Conversation RT India, Dulat menilai langkah militer langsung di Iran akan sangat sulit diterima publik Amerika.
Ia menegaskan bahwa perang darat selalu membawa konsekuensi berat.
“Begitu Anda menempatkan pasukan di lapangan, itu berarti Anda harus siap menerima peti mati yang akan kembali, dan itu tidak akan disukai oleh orang Amerika,” kata Dulat.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa invasi darat ke Iran berpotensi menimbulkan korban besar di pihak militer Amerika Serikat, sesuatu yang sangat sensitif bagi opini publik di Amerika.
Dugaan Peran CIA dan Mossad
Dalam wawancara yang sama, Dulat juga menyebut kemungkinan keterlibatan badan intelijen Barat dalam konflik dengan Iran.
Ia menduga CIA Amerika Serikat kemungkinan telah memberi informasi kepada Mossad Israel dan berperan dalam operasi yang berujung pada pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada akhir Februari.
Dulat menegaskan bahwa pandangannya tersebut didasarkan pada informasi intelijen yang pernah ia pelajari selama kariernya di dunia keamanan.
Iran Dinilai Sudah Siap Perang Panjang
Menurut mantan kepala intelijen India itu, Iran tidak datang ke konflik ini tanpa persiapan.
Ia mengatakan bahwa kepemimpinan Iran telah menyiapkan skenario jika terjadi perang jangka panjang, termasuk struktur kepemimpinan setelah konflik.
“Khamenei telah menyiapkan daftar lengkap penerus, bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk berbagai posisi penting setelahnya,” kata Dulat.
Hal ini menunjukkan bahwa Iran telah memikirkan kemungkinan terburuk dalam konflik dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
AS Disebut Selalu Meremehkan Iran
Dulat juga mengingatkan bahwa Amerika Serikat kerap meremehkan kemampuan Iran.
Ia mengingat kembali pernyataan mantan diplomat dan tokoh geopolitik Amerika Henry Kissinger saat berkunjung ke India pada 2005.
Saat itu, Kissinger disebut mengatakan bahwa jika Iran tidak berperilaku sesuai keinginan Barat, negara tersebut bisa “lenyap dari muka bumi”.
Namun, dua dekade kemudian Iran masih tetap bertahan.
“Sekarang sudah 21 tahun sejak pernyataan itu,” kata Dulat.
Dukungan Rusia dan China untuk Iran
Dalam analisisnya, Dulat juga menyoroti perkembangan geopolitik global.
Ia menilai poros Rusia dan China semakin kuat dan memberikan dukungan terhadap Iran.
“Rusia dan China sangat mendukung Iran, tidak diragukan lagi,” ujarnya.
Dukungan dari dua kekuatan besar dunia tersebut membuat konflik di Timur Tengah semakin kompleks dan berpotensi melibatkan banyak negara.
Proposal Perdamaian Trump Ditolak Iran
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut telah mengirim proposal perdamaian kepada Iran.
Proposal tersebut disampaikan secara sepihak melalui Pakistan sebelum diteruskan ke Teheran.
Namun Iran dilaporkan menolak 15 poin proposal yang diajukan Washington dan justru mengajukan lima tuntutan baru.
Situasi ini membuat peluang kesepakatan damai masih belum jelas.
AS Tambah Pasukan di Timur Tengah
Sementara upaya diplomatik berlangsung, laporan lain menyebut Amerika Serikat menambah sekitar 1.000 personel militer ke kawasan Timur Tengah.
Langkah tersebut memicu spekulasi bahwa Washington memiliki kepentingan strategis lain, termasuk kemungkinan ingin menguasai Pulau Kharg, yang merupakan basis utama ekspor minyak Iran.
Pulau tersebut memiliki nilai strategis tinggi dalam perdagangan energi global.
Pakistan Tawarkan Diri Jadi Mediator
Di tengah meningkatnya ketegangan, Pakistan menyatakan kesediaannya untuk membantu proses perdamaian.
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri menegaskan bahwa solusi diplomatik adalah jalan terbaik untuk mengakhiri konflik.
“Kami percaya krisis saat ini hanya dapat diselesaikan melalui negosiasi dan upaya diplomatik,” ujar Chaudhri saat berkunjung ke Antara Heritage Center di Jakarta.
Pakistan bahkan menyatakan siap menjadi tuan rumah dialog antara Iran dan Amerika Serikat serta sekutunya.
“Kami sangat senang menjadi tuan rumah dialog seperti itu di Islamabad di mana semua pihak dapat duduk bersama dan menemukan solusi,” katanya.
Pakistan Dorong Solusi Diplomatik
Chaudhri menekankan bahwa Pakistan tetap percaya diplomasi masih memiliki peluang untuk mengakhiri konflik.
Negaranya terus berkomunikasi dengan berbagai negara sahabat untuk mendorong dialog damai.
Sebelumnya, pada Selasa (24/3), Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menyatakan bahwa Islamabad siap menjadi tuan rumah pembicaraan yang “bermakna dan konklusif” antara Amerika Serikat dan Iran.
“Pakistan menyambut dan sepenuhnya mendukung upaya dialog guna mengakhiri perang di Timur Tengah demi perdamaian dan stabilitas kawasan,” kata Sharif melalui akun media sosial X.
Masa Depan Konflik Masih Tidak Pasti
Dengan meningkatnya aktivitas militer dan kegagalan proposal damai awal, masa depan konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih belum jelas.
Para analis memperingatkan bahwa invasi darat dapat memperluas perang dan memicu keterlibatan kekuatan besar dunia.
Karena itu, banyak pihak kini mendorong agar diplomasi menjadi pilihan utama sebelum konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas.



