Donald Trump Tidak Mau Dikritik Paus Leo, Membalas Kritik dengan Serangan

Deadline – Ketegangan antara Donald Trump dan Paus Leo XIV memanas. Kritik soal perang berubah menjadi serangan terbuka di ruang publik.

Konflik ini muncul setelah Paus menyerukan penghentian perang. Ia menyinggung “khayalan kemahakuasaan” yang mendorong konflik global. Pernyataan itu disampaikan dalam kebaktian doa dan langsung memicu reaksi keras.

Donald Trump membalas lewat media sosial. Ia menyebut Paus “buruk dalam kebijakan luar negeri” dan menuduhnya melayani kelompok kiri radikal. Serangan ini jarang terjadi terhadap pemimpin Gereja Katolik.

Donald Trump juga mengaitkan kritik Paus dengan isu Iran. Ia menegaskan tidak ingin Iran memiliki senjata nuklir. Namun, klaim ini bertentangan dengan temuan intelijen AS yang menyatakan Iran tidak sedang mengembangkan senjata tersebut.

Dalam pernyataannya, Donald Trump bahkan mengklaim Paus berutang posisi kepadanya. Ia menyebut pemilihan Paus Leo dipengaruhi statusnya sebagai orang Amerika. Pernyataan ini memperkeruh hubungan antara politik dan otoritas keagamaan.

Pentagon Turun Tangan, Hubungan Kian Tegang

Ketegangan tidak berhenti di media sosial. Pentagon ikut terlibat.

Laporan menyebut Pentagon mengundang utusan Vatikan, Kardinal Christophe Pierre, untuk pertemuan khusus. Undangan ini disebut tidak biasa dalam hubungan diplomatik.

Dalam pertemuan tertutup, pejabat AS menyampaikan kritik langsung terhadap pernyataan Paus. Elbridge Colby menegaskan kekuatan militer Amerika Serikat dan menyarankan Gereja Katolik mendukung posisi AS.

Pernyataan itu memperlihatkan tekanan politik terhadap Vatikan. Salah satu pejabat bahkan menyinggung konflik sejarah antara gereja dan kekuasaan negara pada abad ke-14.

Baca  Houthi Siap Perang: Sinyal Keras Dukung Iran Lawan AS dan Israel

Vatikan menilai kritik Paus terhadap kebijakan luar negeri AS, termasuk versi baru Doktrin Monroe, menjadi pemicu utama ketegangan ini. Paus menilai diplomasi berbasis kekuatan mulai menggantikan dialog.

Paus Pilih Jauh dari AS

Respons Paus tidak hanya lewat pernyataan. Ia menolak undangan Donald Trump untuk menghadiri perayaan 250 tahun Amerika Serikat.

Sebagai gantinya, Paus memilih mengunjungi Lampedusa, wilayah yang menjadi pintu masuk migran Afrika ke Eropa. Pilihan ini memperlihatkan fokusnya pada isu kemanusiaan.

Seorang pejabat Vatikan menyebut Paus kemungkinan tidak akan mengunjungi AS selama Donald Trump masih menjabat. Ini menjadi sinyal jelas bahwa hubungan keduanya sedang berada di titik rendah.

Ancaman Iran Jadi Titik Panas

Ketegangan mencapai puncak saat Trump mengeluarkan ancaman terhadap Iran. Ia sempat menyebut kemungkinan menghancurkan peradaban Iran.

Paus merespons cepat. Ia menyebut pernyataan tersebut “tidak dapat diterima” dan menyoroti risiko terhadap rakyat sipil.

Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam sebelum pengumuman gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran. Ini menunjukkan perbedaan pendekatan antara kekuatan militer dan seruan moral.

Bantahan Pentagon

Pihak Pentagon membantah laporan yang menyebut adanya tekanan keras terhadap Vatikan. Mereka menyebut pertemuan berlangsung normal dan penuh hormat.

Meski begitu, rangkaian peristiwa ini menunjukkan satu hal. Hubungan antara kekuasaan politik dan otoritas moral global sedang diuji secara terbuka.

Baca  Deklarasi Kemenangan Iran atas Amerika Serikat, Trump Harus Terima 10 Poin Gencatan Senjata

Ketika kritik dibalas dengan serangan, ruang dialog menyempit. Konflik ini tidak hanya soal dua tokoh. Ini menyangkut arah diplomasi dunia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER