Rekam Jejak Arifah Fauzi Disorot: Usulan Gerbong Perempuan Usai Tragedi Bekasi

Deadline – Arifah Fauzi menjadi sorotan publik setelah mengusulkan perubahan posisi gerbong khusus perempuan di KRL. Usulan itu muncul setelah kecelakaan tragis antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur yang menewaskan 15 orang.

Arifah Fauzi menyampaikan langsung gagasan tersebut saat mengunjungi korban di RSUD Bekasi. Ia meminta agar gerbong perempuan tidak lagi ditempatkan di ujung rangkaian kereta.

Menurutnya, posisi di tengah rangkaian lebih aman saat terjadi keadaan darurat. Ia menilai gerbong depan dan belakang memiliki risiko lebih tinggi saat tabrakan.

“Kalau bisa gerbong perempuan ditempatkan di tengah,” ujarnya.

Tragedi Bekasi Jadi Titik Balik

Kecelakaan Bekasi Timur terjadi pada Senin malam, 27 April 2026 sekitar pukul 20.52 WIB. KRL tujuan Cikarang dengan nomor PLB 5568A bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek rute Gambir–Surabaya Pasar Turi.

Insiden itu terjadi di KM 28+920, tepat di emplasemen Stasiun Bekasi Timur.

Sebanyak 15 penumpang KRL meninggal dunia. Sebanyak 81 orang mengalami luka-luka. Sementara 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat.

Korban luka dirawat di berbagai rumah sakit di Bekasi. Di antaranya RSUD Bekasi, RS Bella, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, dan RS Mitra Keluarga.

Tragedi Bekasi Timur ini membuka kembali diskusi soal keselamatan penumpang, terutama perempuan.

Baca Juga  Hubungan JK vs Jokowi Memanas, Gibran Terancam Terseret Dampak Politik

Usulan Gerbong Perempuan di Tengah

Usulan gerbong perempuan yang diajukan Arifah langsung ditujukan kepada PT Kereta Api Indonesia.

Selama ini, gerbong khusus perempuan ditempatkan di bagian paling depan dan belakang. Tujuannya untuk menghindari penumpukan dan perebutan tempat.

Namun, Arifah melihat sisi lain dari kebijakan itu.

Ia menilai posisi di tengah memberi perlindungan lebih saat kecelakaan. Dengan skema baru, penumpang laki-laki berada di ujung depan dan belakang, sementara perempuan di bagian tengah.

Usulan ini masih dalam tahap pembahasan dengan pihak terkait.

Profil Arifah Fauzi: Jejak Panjang di Dunia Sosial

Profil Arifah Fauzi menunjukkan perjalanan panjang di bidang pemberdayaan perempuan.

Ia lahir di Madura pada 28 Juli 1969 dengan nama lengkap Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi, M.Si.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Jakarta, termasuk di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah As Syafiiyah Jatiwaringin.

Ia lulus dari Fakultas Dakwah IAIN Yogyakarta pada 1994. Kemudian meraih gelar Magister Komunikasi dari Universitas Indonesia pada 2002 melalui beasiswa Ford Foundation.

Aktif di Organisasi dan Gerakan Sosial

Sejak muda, Arifah aktif di organisasi.

Ia pernah menjabat Ketua Umum Ikatan Pelajar Putri NU DIY pada 1989–1991. Ia juga menjadi Sekjen Pimpinan Pusat Fatayat NU dan Sekretaris Pimpinan Pusat Muslimat NU.

Ia terlibat di Majelis Alimat Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia. Ia juga ikut dalam Gerakan Nasional Anti Korupsi bersama NU dan Muhammadiyah.

Baca Juga  Anggaran MBG Diusulkan Dialihkan 1 Minggu Saja, DPR: untuk Pemulihan Daerah Terdampak Bencana

Kiprahnya menunjukkan fokus kuat pada isu perempuan dan masyarakat.

Karier di Media dan Seni Budaya

Selain organisasi, Arifah juga aktif di dunia kreatif.

Ia pernah menjadi produser program “Syair Dzikir” di TPI dan “Hikmah Pagi” di TVRI.

Ia juga menjadi Show Manager konser kolaborasi Ki Ageng Ganjur dengan musisi internasional seperti Tony Blackman dan Mary McBride.

Ia memimpin tur seni budaya Indonesia ke Qatar, Uni Emirat Arab, dan Belanda.

Peran di Dunia Usaha dan Akademik

Arifah menjabat Direktur PT Arzast Media Utama dan PT Rimang Hayu Malini.

Ia terlibat dalam program pemberdayaan desa melalui kerja sama Muslimat NU dengan Kementerian Desa.

Ia juga menulis buku berjudul “Kabar Kekerasan Dari Bali”.

Ia memiliki sertifikat kompetensi di bidang MICE dan pernah menerima beasiswa Ford Foundation.

Harapan di Tengah Duka

Arifah Fauzi kini memegang jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam Kabinet Prabowo-Gibran.

Usulan yang ia sampaikan lahir dari peristiwa nyata yang memakan korban jiwa.

Usulan gerbong perempuan menjadi bagian dari upaya mendorong perubahan sistem keselamatan transportasi publik.

Di tengah duka keluarga korban, gagasan ini membuka ruang diskusi baru. Banyak pihak menunggu apakah kebijakan ini akan benar-benar diterapkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER