Hubungan JK vs Jokowi Memanas, Gibran Terancam Terseret Dampak Politik

Deadline – Hubungan antara Jusuf Kalla dan basis pendukung Joko Widodo mulai memanas. Ketegangan ini juga melibatkan simpatisan Partai Solidaritas Indonesia yang selama ini dikenal loyal terhadap Jokowi.

Pemicunya jelas. Pernyataan JK yang mengeklaim peran besar dalam perjalanan politik Jokowi memicu reaksi keras. Klaim itu dianggap menabrak citra Jokowi sebagai pemimpin yang tumbuh dari bawah dan dekat dengan rakyat.

Peneliti senior dari Citra Institute, Efriza, melihat situasi ini tidak akan cepat reda. Ia memprediksi hubungan kedua kubu akan bergerak dalam pola panas dan dingin dalam waktu lama.

Efriza menilai pernyataan JK menyentuh titik sensitif. Pendukung Jokowi menganggap narasi tersebut merendahkan kerja keras dan capaian pribadi Jokowi selama ini.

Kelompok relawan seperti Projo dan kader PSI langsung merespons. Mereka menguatkan narasi bahwa keberhasilan Jokowi lahir dari dukungan rakyat, bukan dari dorongan elite tertentu. Reaksi ini mempertegas garis pemisah antara dua kubu yang sebelumnya tidak terlalu terlihat.

Di sisi lain, Efriza mengingatkan risiko kejenuhan publik. Polemik soal jasa elite dinilai bisa membuat masyarakat lelah. Namun ia juga melihat ada kemungkinan konflik ini sengaja dibiarkan terus hidup karena memberi keuntungan politik bagi pihak tertentu.

Situasi ini tidak berhenti di level elite. Dampaknya bisa melebar ke lingkar kekuasaan saat ini. Nama Gibran Rakabuming Raka ikut disebut berpotensi terkena imbas.

Baca  Politisi Wanita Kangana Ranaut Dituding Penyihir, Curhat Sang Artis Bongkar Luka Lama

Gibran berada dalam posisi rawan. Statusnya sebagai anak Jokowi membuatnya mudah dikaitkan dengan konflik ini. Jika sentimen publik berubah negatif, legitimasi politiknya bisa ikut terganggu.

Efriza menegaskan bahwa perdebatan soal siapa paling berjasa hanya memperdalam retakan politik. Polemik seperti ini juga menguji kredibilitas moral para elite di mata pemilih.

Jika konflik terus berlanjut, panggung politik nasional berpotensi diisi narasi saling klaim dan saling bantah. Situasi ini bisa menggeser fokus publik dari isu nyata ke drama elite yang berulang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER