Deadline – Pernyataan pedas Rhoma Irama terhadap Habib Rizieq Shihab mendadak mengguncang media sosial. Sang Raja Dangdut secara terbuka menilai Habib Rizieq berbahaya bagi agama dan bangsa setelah polemik pidato Presiden Prabowo Subianto soal “kabur ke Yaman” memanas.
Kontroversi bermula ketika Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Cilacap pada 29 April 2026 menyinggung pengkritiknya yang disebut bisa “kabur ke Yaman”. Ucapan itu langsung memicu reaksi keras dari Habib Rizieq Shihab atau HRS.
HRS menilai ucapan tersebut bernada fasis dan rasis. Ia juga menganggap pernyataan itu tidak pantas disampaikan oleh seorang kepala negara.
Namun, Rhoma Irama justru mengambil posisi berbeda. Dalam unggahan video di Youtube dan Instagram, Rhoma membela Prabowo sekaligus menyerang balik tudingan HRS.
Rhoma mempertanyakan tuduhan rasisme yang diarahkan kepada Presiden Prabowo. Menurutnya, praktik yang justru bernuansa rasis ada di lingkungan Ba’alawi yang selama ini dikaitkan dengan keturunan Arab Hadramaut.
Dengan nada tinggi, Rhoma menyebut perempuan Ba’alawi disebut haram menikah dengan pribumi. Ia menilai pandangan seperti itu lebih layak disebut sebagai tindakan rasis.
“Perempuan-perempuan Ba’alawi haram dinikahi oleh pribumi. Ini rasis pakai banget!” ujar Rhoma dalam videonya.
Ucapan itu langsung menjadi perdebatan luas. Banyak pihak menilai Rhoma secara terang-terangan menyinggung isu sensitif soal nasab dan identitas keturunan Arab di Indonesia.
Rhoma juga menolak pandangan HRS yang menyebut bangsa Indonesia harus berterima kasih kepada Ba’alawi. Menurut Rhoma, justru kelompok Ba’alawi yang seharusnya bersyukur karena dapat hidup nyaman di Indonesia.
Dalam pernyataannya, Rhoma bahkan menyindir HRS sebagai “aktor antagonis” yang dianggap memecah belah masyarakat dan membahayakan kehidupan berbangsa.
Pernyataan keras Rhoma membuat publik terbelah. Sebagian warganet mendukung keberaniannya karena dinilai menyuarakan keresahan masyarakat. Namun, sebagian lain menganggap pertikaian antarfigur agama hanya memperkeruh suasana.
Kolom komentar media sosial dipenuhi perdebatan panas. Ada yang memuji Rhoma sebagai tokoh yang berani bicara terbuka, ada pula yang meminta semua pihak menghentikan isu nasab sebagai bahan konflik.
Polemik semakin melebar ketika HRS menuding ucapan Prabowo soal “kabur ke Yaman” berasal dari pengaruh Dudung Abdurachman.
Nama Dudung kembali disorot karena sebelumnya pernah dijuluki “Jenderal Baliho” setelah penertiban baliho ormas oleh TNI AD saat dirinya menjabat KSAD.
Dudung membantah keras tuduhan tersebut. Ia menegaskan tidak memiliki persoalan pribadi dengan Habib Rizieq Shihab.
Menurut Dudung, semua pihak seharusnya menjaga komunikasi yang meneduhkan dan tidak saling merendahkan.
“Kalau dikatakan sebagai ulama, ulama itu yang selalu meneduhkan… bukan merendahkan orang lain,” ujar Dudung.
Pidato Prabowo sendiri masih menjadi bahan perdebatan hingga kini. Sebagian publik menilai ucapan “kabur ke Yaman” hanya sindiran spontan dalam suasana pidato politik. Namun, ada juga yang menganggap ucapan itu sensitif karena menyangkut negara lain.
Politisi PDIP Guntur Romli ikut memberikan tanggapan. Ia mengingatkan bahwa Yaman merupakan negara sahabat Indonesia sehingga ucapan tersebut dinilai perlu dijaga dari sisi etika diplomatik.
Perseteruan Rhoma Irama dan Habib Rizieq akhirnya menunjukkan bagaimana isu identitas, agama, dan politik dapat dengan cepat berubah menjadi polemik nasional. Dalam hitungan jam, perdebatan yang awalnya berasal dari pidato politik berubah menjadi konflik terbuka antarfigur publik yang sama-sama memiliki pengaruh besar di masyarakat.



