Tragis PIP Gagal Cair, Siswa SD di NTT Akhiri Hidup

Deadline – Siswa SD di NTT bunuh diri mengungkap masalah serius pada pencairan Program Indonesia Pintar atau PIP. Peristiwa ini terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Korban bernama Yohanes Bastian Roja, berusia 10 tahun.

Siswa SD di NTT bunuh diri setelah permintaannya membeli buku dan pena tidak dipenuhi ibunya. Penyebabnya sederhana dan menyakitkan. Keluarga tidak memiliki uang saat itu.

Bupati Ngada, Raymundus Bena, menyampaikan hasil temuan tim lapangan. Ia menyebut korban berulang kali menanyakan pencairan dana PIP kepada ibunya. Dana itu dibutuhkan untuk keperluan sekolah.

Menurut Raymundus, ibu korban berniat mencairkan PIP di bank kabupaten. Namun proses itu gagal. Data administrasi menjadi penghalang utama.

Siswa SD di NTT bunuh diri karena dana PIP tidak bisa dicairkan. KTP ibu korban masih tercatat sebagai warga Kabupaten Nagekeo. Padahal domisilinya sudah pindah ke Kabupaten Ngada. Bank meminta administrasi diselesaikan lebih dulu.

Permintaan itu belum sempat dipenuhi. Setiap kali korban bertanya, jawaban ibunya sama. Tunggu pencairan setelah urusan administrasi selesai.

Masalah administrasi ini tidak terjadi pada semua anak. Dua kakak korban dari ayah berbeda sudah lebih dulu dipindahkan datanya ke Ngada. Sementara kakak ketiga hingga korban belum diurus.

Pada hari kejadian, korban pergi ke rumah neneknya di kebun. Nenek tidak berada di tempat. Korban sendirian.

Baca  CPNS 2026 Ditunda, Rekrutmen 30.000 SPPI Justru Dikebut, Publik Soroti "Ketidakadilan Pemerintah"

Beberapa warga sempat melihat korban. Mereka bertanya mengapa ia tidak masuk sekolah. Korban menjawab sakit kepala.

Tidak lama setelah itu, korban ditemukan meninggal dunia. Ia diduga mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Siswa SD di NTT bunuh diri meski beasiswa PIP sebenarnya sudah tersedia. Raymundus menegaskan dana itu ada. Namun pencairan terkendala administrasi kependudukan.

Kasus ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Ngada. Raymundus menyatakan akan bertindak tegas. Ia berencana melakukan rapat koordinasi dan pendataan ulang.

Ia juga menyebut pendekatan door to door akan dilakukan. Tujuannya memastikan seluruh warga melengkapi administrasi kependudukan.

Selain itu, pemerintah daerah menyiapkan PIP versi daerah. Bantuan seragam sekolah juga akan disediakan. Raymundus berencana hadir langsung dalam acara adat pemakaman korban.

Tim juga menemukan fakta lain. Korban merupakan anak yatim. Ayahnya meninggal saat korban masih kecil. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Dalam keseharian, korban lebih banyak tinggal bersama neneknya di kebun. Ia hanya sesekali mengunjungi ibunya. Sang ibu tinggal di kampung lain bersama ayah tiri dan empat anak lainnya.

Siswa SD di NTT bunuh diri diduga dipengaruhi kondisi psikologis. Pengalaman hidup, kehilangan orang tua, dan keterbatasan ekonomi menjadi faktor yang membebani korban.

Raymundus menyebut pengalaman tersebut kemungkinan menimbulkan trauma. Kondisi itu diperparah oleh situasi hidup yang terpisah dari ibu kandungnya.

Baca  10 Proyektil Rudal Balistik Korea Utara Ditembakkan ke Laut Jepang, Asia Memanas

Kasus ini membuka mata banyak pihak. Administrasi yang terhambat ternyata bisa berdampak fatal bagi anak.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER

Â