Deadlne – Rencana menjadikan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat C-130 Hercules memicu perhatian DPR RI. Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin meminta pemerintah berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait kerja sama dengan Amerika Serikat tersebut.
TB Hasanuddin menegaskan proyek MRO pesawat Hercules tidak bisa dipandang sekadar kerja sama industri penerbangan biasa. Menurutnya, proyek itu memiliki dimensi strategis yang berkaitan dengan pertahanan dan kedaulatan negara.
Ia mengatakan keputusan menerima tawaran Amerika Serikat untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat MRO pesawat C-130 di Asia harus dilakukan secara transparan dan penuh kehati-hatian. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangannya pada Kamis, 21 Mei 2026.
Sorotan utama datang dari potensi penggunaan fasilitas tersebut untuk mendukung operasional pesawat militer Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik. TB Hasanuddin menilai kondisi itu dapat memunculkan persepsi bahwa Indonesia menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Menurutnya, jika fasilitas MRO hanya dipakai untuk kepentingan pesawat militer AS di kawasan Indo-Pasifik, maka persoalan hukum dan politik strategis bisa muncul. Ia mengingatkan langkah tersebut dapat berbenturan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dianut Indonesia.
TB Hasanuddin juga menyoroti status Bandara Kertajati yang saat ini merupakan bandara sipil. Karena itu, ia meminta pemerintah membuat aturan yang jelas apabila nantinya fasilitas tersebut dipakai untuk perawatan pesawat militer.
Ia menilai fungsi pelayanan penerbangan sipil untuk masyarakat Jawa Barat tidak boleh terganggu akibat aktivitas perawatan pesawat militer asing.
Dalam penjelasannya, TB Hasanuddin membandingkan model kerja sama serupa di sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Jepang, dan Filipina. Negara-negara tersebut memang mendukung operasional pesawat militer AS di kawasan Indo-Pasifik, namun fasilitasnya ditempatkan di kawasan industri khusus atau fasilitas milik industri perawatan domestik.
Karena itu, ia meminta pemerintah memastikan adanya manfaat langsung bagi industri pertahanan nasional, khususnya PT Dirgantara Indonesia atau PTDI.
Menurutnya, kepentingan nasional dan kedaulatan negara harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kerja sama pertahanan dengan negara lain.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menawarkan kepada pemerintah Indonesia agar program MRO pesawat C-130 Hercules untuk kawasan Asia dipusatkan di Indonesia.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan menyatakan tengah menyiapkan rencana tersebut. Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan kawasan Bandara Kertajati dipilih karena memiliki lahan luas dan fasilitas pendukung penerbangan yang memadai.
Menurut Rico, keberadaan pusat MRO Hercules di Indonesia juga dinilai strategis untuk memperkuat hubungan diplomasi dan kerja sama dengan negara-negara Asia pengguna pesawat Hercules.
Ringkasan Berita
DPR RI meminta pemerintah berhati-hati terkait rencana menjadikan Bandara Kertajati sebagai pusat MRO pesawat C-130 Hercules milik Amerika Serikat di Asia. TB Hasanuddin menilai proyek tersebut memiliki dampak strategis terhadap pertahanan dan kedaulatan Indonesia. Ia mengingatkan potensi munculnya persepsi bahwa Kertajati menjadi pangkalan militer AS jika fasilitas dipakai khusus untuk operasional militer Amerika di kawasan Indo-Pasifik. Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan menyebut Kertajati dipilih karena fasilitas dan lahan yang memadai.



