Deadline – Donald Trump kembali jadi sorotan setelah mengunggah video rasis di platform Truth Social. Video itu menyinggung mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Michelle Obama.
Konten tersebut menampilkan gambaran yang menyamakan Barack dan Michelle Obama dengan kera. Visual ini langsung memicu kemarahan publik.
Dalam sejarah Amerika Serikat, simbol itu melekat sebagai bentuk penghinaan rasial terhadap warga kulit hitam. Banyak pihak menilai unggahan tersebut sebagai tindakan dehumanisasi yang menyentuh luka lama bangsa itu.
Reaksi datang cepat dan keras. Politisi, pengamat, hingga masyarakat umum menyuarakan kecaman. Sorotan membesar karena video itu muncul dari akun resmi presiden. Publik menilai unggahan tersebut mencerminkan standar komunikasi dan sikap kepemimpinan negara.
Pada awalnya, Gedung Putih membela unggahan Trump. Sikap itu justru memperkeruh suasana. Kritik terus mengalir dari berbagai arah.
Beberapa jam kemudian, konten tersebut akhirnya dihapus. Langkah ini jarang terjadi, mengingat Trump dikenal kerap mempertahankan unggahan kontroversialnya.
Pemerintah menyebut video itu diunggah oleh staf yang tidak disebutkan namanya. Penjelasan tersebut gagal meredakan kemarahan publik. Banyak pihak menilai alasan itu tidak cukup menjelaskan tanggung jawab presiden.
Kecaman juga datang dari internal Partai Republik. Senator Tim Scott dari Carolina Selatan menyebut unggahan tersebut sebagai “hal paling rasis” yang pernah ia lihat berasal dari Gedung Putih.
Para pengamat menyoroti dampak lebih luas dari kasus ini. Penggunaan media sosial untuk menyebarkan materi bernuansa rasis dinilai merusak citra institusi kepresidenan. Polarisasi politik yang sudah tinggi di Amerika Serikat dinilai semakin dalam.
Kritik juga diarahkan pada penanganan awal Gedung Putih. Pembelaan yang dilakukan sebelum penghapusan konten dianggap menunjukkan lemahnya sensitivitas terhadap isu rasial.
Donald Trump Tolak Minta Maaf
Di tengah tekanan politik, Donald Trump menolak meminta maaf. Sikap itu ia sampaikan secara terbuka kepada awak media.
Saat ditanya soal permintaan maaf, Trump menjawab singkat.
“Tidak. Saya tidak membuat kesalahan,” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan sikap defensif. Trump menilai kritik terhadap unggahannya tidak berdasar.
Namun, saat didesak lebih jauh, Trump menyatakan tidak mendukung unsur rasis dalam video tersebut. Ia mengaku mengutuk bagian yang dianggap bermuatan rasial. Pernyataan itu tidak disertai pengakuan tanggung jawab atas unggahan yang memicu polemik nasional.
Donald Trump juga menepis anggapan bahwa kontroversi ini akan merugikan Partai Republik, terutama di kalangan pemilih kulit hitam. Ia membela rekam jejak pemerintahannya selama menjabat.
“Ngomong-ngomong, saya adalah presiden yang paling tidak rasis yang pernah Anda miliki dalam waktu yang lama,” klaim Donald Trump.
Pengamat politik menilai ada pola lama dalam sikap tersebut. Trump dikenal jarang mengakui kesalahan secara terbuka. Ia melihat permintaan maaf sebagai tanda kelemahan di hadapan pendukungnya.
Penolakan meminta maaf juga dinilai sebagai strategi menjaga citra kepemimpinan yang keras dan tidak tunduk pada tekanan media. Sikap itu dianggap mampu mempertahankan basis pendukung inti yang selama ini memandang kritik terhadap Trump sebagai serangan politik.
Namun, konsekuensinya tidak kecil. Keputusan itu berpotensi memperluas kritik dari pemilih moderat dan memperdalam polarisasi politik di Amerika Serikat.
Kontroversi video rasis ini menambah daftar panjang polemik komunikasi publik Donald Trump. Isu ini diperkirakan masih akan menjadi sorotan, terutama terkait persepsi publik terhadap kepemimpinan presiden dan sensitivitas terhadap persoalan rasial.



