Deadline – India mencatat pencapaian besar dalam upaya pengentasan kemiskinan. Berdasarkan laporan India Poverty and Equity Brief: October 2026 yang dirilis pada Jumat (30/10/2026), sekitar 496 juta penduduk India berhasil keluar dari kemiskinan sepanjang 2011 hingga 2023.
Penurunan tersebut terlihat dari berkurangnya persentase penduduk yang hidup dengan penghasilan di bawah 4,20 dolar AS atau sekitar Rp76.020 per hari. Angkanya turun drastis dari 57,7 persen pada 2011 menjadi 16,1 persen pada 2023.
Capaian ini menunjukkan perubahan besar dalam kondisi ekonomi masyarakat India. Dalam kurun waktu 12 tahun, ratusan juta penduduk berhasil melewati batas kemiskinan berdasarkan standar pengukuran tersebut.
Kemiskinan Ekstrem Turun Tajam
Penurunan kemiskinan juga terjadi pada kelompok masyarakat yang hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Dengan menggunakan ambang penghasilan 3 dolar AS atau sekitar Rp54.300 per hari, persentase penduduk miskin ekstrem di India menyusut dari 27,1 persen menjadi hanya 2,6 persen.
Sementara itu, pengukuran kemiskinan multidimensi yang dilakukan Inisiatif Kemiskinan dan Pembangunan Manusia Oxford (OPHI) menunjukkan penurunan dari 53,8 persen pada periode 2005–2006 menjadi 16,4 persen pada 2019–2021.
Pengukuran tersebut tidak hanya memperhitungkan pendapatan, tetapi juga kondisi pendidikan, kesehatan, dan sanitasi masyarakat.
Adapun berdasarkan metode pengukuran multidimensi Bank Dunia, tingkat kemiskinan India tercatat sebesar 15,5 persen pada periode 2022–2023. Data ini sebagaimana dikutip Firstpost.
Tiga Faktor Utama Penurunan Kemiskinan India
Ada tiga faktor utama yang dinilai berkontribusi terhadap keberhasilan India mengurangi angka kemiskinan.
Pertama, meningkatnya konsumsi rumah tangga. Kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu indikator penting dalam perubahan tingkat kesejahteraan.
Kedua, bertambahnya kesempatan kerja. Semakin banyak penduduk yang memperoleh pekerjaan dan penghasilan sehingga memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan taraf hidup.
Ketiga, meluasnya bantuan sosial pemerintah, termasuk subsidi pangan yang membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok.
Peningkatan jumlah perempuan yang bekerja dan menerima upah, terutama di kawasan pedesaan, juga menjadi bagian penting dari perkembangan tersebut.
Data menunjukkan India berhasil menambah sekitar 134 juta orang ke dalam kelompok penduduk bekerja sepanjang 2017–2023.
Jumlah tersebut hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan pertumbuhan populasi usia kerja pada periode yang sama.
Bank Dunia Prediksi Kemiskinan Terus Menurun
Keberhasilan menekan angka kemiskinan diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa tahun mendatang.
Dalam proyeksi terbarunya, Bank Dunia memperkirakan persentase penduduk India yang hidup dengan penghasilan di bawah 4,20 dolar AS per hari akan turun dari 14,2 persen pada 2026 menjadi 12,1 persen pada 2028.
Artinya, jika proyeksi tersebut tercapai, semakin sedikit masyarakat India yang berada di bawah ambang kemiskinan tersebut.
Menteri Keuangan India, Nirmala Sitharaman, menilai capaian itu merupakan hasil dari kebijakan pemerintah yang dijalankan secara berkelanjutan.
Menurutnya, berbagai kebijakan tersebut mulai memberikan dampak nyata dalam memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif sekaligus membuka kesempatan ekonomi lebih luas bagi masyarakat.
“Upaya kebijakan berkelanjutan pemerintah membuahkan hasil nyata, memperkuat fondasi untuk pertumbuhan inklusif dan peluang ekonomi yang lebih besar,” katanya.
Sitharaman juga menghubungkan keberhasilan tersebut dengan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan koalisi National Democratic Alliance (NDA).
“Inilah alasan mengapa pemerintahan NDA memenangkan kepercayaan rakyat dan mandat dari warga kami,” ujarnya, sebagaimana dikutip News Indian Express.
Kemiskinan Masih Terkonsentrasi di Wilayah Tertentu
Meski berhasil mengurangi kemiskinan secara signifikan, India masih menghadapi persoalan ketimpangan ekonomi.
Sekitar 57 persen penduduk miskin masih terkonsentrasi di kawasan yang membentang dari Uttar Pradesh hingga Benggala Barat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hasil pembangunan ekonomi belum dirasakan secara merata oleh seluruh wilayah dan kelompok masyarakat.
Ketimpangan pendapatan juga masih terlihat jelas. Pada 2023, pendapatan median 10 persen pekerja dengan penghasilan tertinggi tercatat 13 kali lebih besar dibandingkan pendapatan kelompok 10 persen pekerja terbawah.
Kemiskinan lebih banyak ditemukan pada rumah tangga dengan tingkat pendidikan rendah, kepemilikan aset terbatas, serta kesulitan mendapatkan pekerjaan yang stabil.
Persoalan tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah India untuk memastikan pertumbuhan ekonomi dapat memberikan manfaat lebih merata.
Pengangguran Anak Muda Masih Menjadi Tantangan
Selain ketimpangan pendapatan, India juga menghadapi persoalan kualitas lapangan pekerjaan.
Tingkat pengangguran pemuda meningkat dari 14,6 persen menjadi 15,9 persen antara kuartal pertama Tahun Fiskal 2026 dan Tahun Fiskal 2027.
Perempuan muda di kawasan pedesaan menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak oleh persoalan tersebut.
Di sisi lain, pendapatan riil masyarakat secara keseluruhan cenderung stagnan. Penyerapan tenaga kerja juga masih banyak berlangsung pada sektor-sektor dengan produktivitas rendah.
Situasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan mengurangi angka kemiskinan belum otomatis menyelesaikan persoalan pengangguran, ketimpangan, dan rendahnya kualitas pekerjaan.
Karena itu, peningkatan kesempatan kerja yang stabil dan produktif masih menjadi pekerjaan penting bagi pemerintah India.
Bank Dunia Ingatkan Keterbatasan Penghitungan Kemiskinan
Bank Dunia juga menjelaskan bahwa angka kemiskinan dalam proyeksi terbarunya memiliki sejumlah keterbatasan.
Perkiraan tersebut bersifat indikatif karena menggunakan metode mikrosimulasi. Metode ini memanfaatkan data rumah tangga dalam skala tertentu untuk memperkirakan perkembangan kondisi ekonomi dan tingkat kemiskinan masyarakat.
Hasil penghitungan masih dapat berubah apabila terdapat pembaruan informasi mengenai pasar tenaga kerja maupun kondisi ekonomi makro.
Selain itu, pengukuran kemiskinan menggunakan survei konsumsi rumah tangga yang mencatat pengeluaran keluarga untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Dengan metode tersebut, perubahan angka kemiskinan dapat dipengaruhi oleh penyesuaian metode pengukuran maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya.
Artinya, penurunan angka kemiskinan yang tercatat tidak seluruhnya dapat langsung diartikan sebagai peningkatan konsumsi rumah tangga.
Meski demikian, penurunan persentase penduduk miskin dari 57,7 persen menjadi 16,1 persen dalam kurun 2011–2023 tetap menunjukkan perubahan besar berdasarkan indikator yang digunakan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan keberhasilan tersebut diikuti pemerataan pendapatan, peningkatan kualitas pekerjaan, serta kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat India.




