Deadline – Gaza kembali memanas setelah seorang siswa perempuan tewas ditembak saat sedang belajar di sekolah darurat di Gaza utara, Kamis (9/4/2026). Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata yang sudah berjalan sejak Oktober 2025, namun terus diwarnai kekerasan.
Siswa perempuan tewas ditembak itu bernama Ritaj Rihan, siswa kelas 3 sekolah dasar. Ia ditembak di depan teman-temannya saat mengikuti pelajaran di dalam tenda di kota Beit Lahiya. Peristiwa ini langsung menimbulkan trauma berat bagi siswa lain yang menyaksikan kejadian tersebut.
Kementerian Pendidikan Gaza mengecam keras penembakan ini. Mereka menyebut tindakan tersebut sebagai kejahatan brutal dan mengerikan. Dalam pernyataannya, kementerian menilai insiden ini bukan kejadian tunggal, melainkan bagian dari kebijakan sistematis yang menargetkan warga Palestina.
Pihak kementerian juga menegaskan bahwa Israel bertanggung jawab penuh atas kematian Rihan. Mereka mengkritik sikap diam komunitas internasional yang dinilai memperburuk situasi.
Hingga saat ini, militer Israel belum memberikan komentar terkait insiden tersebut.
Kondisi Gaza semakin terdesak. Israel masih menguasai lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza. Hampir seluruh bangunan di area yang dikuasai telah diratakan, dan warga dipaksa mengungsi.
Akibatnya, lebih dari 2 juta penduduk kini terkonsentrasi di sekitar sepertiga wilayah Gaza. Sebagian besar hidup di tenda darurat atau bangunan yang rusak.
Sekolah darurat jadi harapan terakhir. Anak-anak di Palestina kini belajar di tenda yang padat, dengan bantuan guru sukarelawan. Kegiatan belajar berlangsung dalam kondisi terbatas, menghadapi cuaca ekstrem, kekurangan fasilitas, dan ancaman keamanan setiap saat.
Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak gencatan senjata Oktober 2025, sedikitnya 738 warga Palestina tewas dan 2.036 lainnya terluka akibat serangan Israel.
Secara keseluruhan, sejak perang dimulai pada Oktober 2023, jumlah korban tewas telah melampaui 72 ribu orang. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.
Di sisi lain, pada Minggu (5/4/2026), sayap bersenjata Hamas menegaskan tidak akan melucuti senjata. Mereka menyatakan keputusan itu akan bertahan sampai Israel menjalankan penuh tahap pertama gencatan senjata. Mereka menilai tuntutan pelucutan senjata berpotensi memperpanjang konflik di Palestina.



