Deadline – Pemadaman internet Iran sejak 8 Januari 2026 mengubah negara itu menjadi wilayah tertutup tanpa saksi. Akses internet nasional diputus total oleh pemerintah di Teheran. Sejak hari itu, arus informasi berhenti dan kekerasan negara berlangsung tanpa pengawasan publik.
Data terbaru dari jaringan informasi bawah tanah mencatat lebih dari 3.400 orang tewas. Puluhan ribu warga lain ditahan dan dikirim ke penjara rahasia. Banyak fasilitas penahanan dilaporkan sudah kelebihan kapasitas.
Kebijakan ini muncul di tengah krisis ekonomi berat. Inflasi melonjak, nilai tukar Rial Iran jatuh ke level terendah, dan harga kebutuhan pokok naik tajam. Pemadaman internet memperparah kondisi tersebut karena menutup satu-satunya saluran ekonomi digital yang masih bertahan.
Langkah mematikan internet kali ini bersifat jangka panjang. Elite kekuasaan Iran, termasuk unsur Korps Garda Revolusi Islam IRGC, disebut menargetkan isolasi digital hingga Maret 2026, bertepatan dengan perayaan Nowruz, tahun baru Persia yang jatuh pada 20 sampai 21 Maret.
Strategi ini diarahkan untuk memaksa warga masuk ke sistem internet nasional yang sepenuhnya dikontrol negara. Tujuannya jelas. Pemerintah ingin memutus koordinasi demonstrasi dan menutup bukti kekerasan dari pantauan dunia internasional.
Di dalam sistem tertutup ini, hanya informasi resmi yang boleh beredar. Kondisi ekonomi, keamanan, dan sosial yang memburuk disembunyikan di balik narasi ancaman asing. Kritik publik dibungkam sejak sumbernya.
Dampak paling nyata terjadi di sektor ekonomi. Lebih dari 80 persen usaha kecil dan menengah di Iran bergantung pada media sosial dan aplikasi pesan instan untuk berjualan. Dengan internet mati, aktivitas mereka berhenti total.
Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 4 juta dolar AS per hari. Sektor jasa, logistik, dan industri kreatif yang tumbuh dalam sepuluh tahun terakhir runtuh hanya dalam hitungan hari. Jutaan ibu rumah tangga dan anak muda kehilangan penghasilan utama.
Tanpa pembayaran digital dan akses rantai pasok global, perdagangan kembali bersifat lokal dan manual. Di saat yang sama, inflasi terus naik tanpa kendali.
Dunia sempat berharap pada Amerika Serikat. Pada pertengahan Januari, kapal induk USS Abraham Lincoln bergerak menuju Teluk Persia. Langkah ini sempat dibaca sebagai sinyal tekanan militer serius ke Teheran.
Namun, rencana itu menguap. Sejumlah negara kawasan seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Turkiye menolak wilayahnya digunakan untuk operasi militer. Mereka khawatir menjadi sasaran balasan rudal Iran.
Amerika Serikat akhirnya kehilangan pijakan regional. Kekuatan laut ada, tetapi dukungan darat dan udara tidak tersedia. Washington memilih jalur lain.
Langkah yang ditempuh adalah menekan sistem shadow banking Iran, sumber pendanaan elite penguasa. Strategi ini mengandalkan perang ekonomi jangka panjang dengan harapan tekanan publik menjatuhkan rezim dari dalam.
Namun, realitas di lapangan berbeda. IRGC bukan sekadar militer, tetapi juga penguasa ekonomi. Mereka mengendalikan sektor minyak, infrastruktur, dan telekomunikasi. Runtuhnya rezim berarti kehancuran finansial bagi mereka. Loyalitas internal tetap solid.
Di sisi lain, oposisi Iran masih terpecah. Nama Reza Pahlavi memang populer di diaspora dan jalanan, tetapi belum mampu menyatukan faksi lain. Kelompok republikan sekuler, kiri, serta gerakan etnis Kurdi dan Baluchi berjalan sendiri-sendiri.
Ketiadaan dewan transisi menciptakan kekosongan kepemimpinan. Situasi ini menguntungkan pemerintah. Perlawanan rakyat bersifat horizontal tanpa komando terpusat.
Kondisi ini menyulitkan rezim untuk memadamkan protes sepenuhnya, tetapi juga membuat rakyat sulit merebut kekuasaan. Pemerintah memanfaatkan celah ini dengan menargetkan tokoh lokal. Aktivis yang mulai berpengaruh ditangkap, dihilangkan, atau dipaksa mengaku di televisi pemerintah.
Masa depan Iran kini dibayangi pemiskinan struktural dan isolasi intelektual. Tanpa internet, peluang pemulihan ekonomi nyaris tertutup. Talenta muda terus mencari jalan keluar lewat jalur ilegal yang berisiko tinggi.
Keputusan mematikan internet menjadi pengakuan bahwa pemerintah Iran tidak lagi memerintah lewat persetujuan publik. Kekuasaan dijaga dengan intimidasi penuh.
Risiko terbesarnya bukan hanya jatuhnya korban, tetapi hilangnya satu generasi dari arus ilmu pengetahuan dan ekonomi global. Iran berpotensi menjadi laboratorium otokrasi digital.
Jika strategi ini berhasil tanpa konsekuensi internasional, model serupa bisa ditiru rezim otoriter lain. Dunia sedang menyaksikan preseden berbahaya.
Bagi rakyat Iran, realitasnya pahit. Kebebasan dapat dipadamkan hanya dengan satu sakelar. Sementara dunia memilih diam.



