Mahasiswi di Surabaya Terpaksa Mencuri Demi Bertahan Hidup

Deadline – Tangis seorang mahasiswi pecah di hadapan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan. Suaranya bergetar, dadanya sesak, dan air mata jatuh tanpa henti. Ia mengaku bersalah. Ia mengaku bingung. Ia mengaku mencuri demi bertahan hidup.

Mahasiswi menangis di hadapan Kapolrestabes Surabaya itu didampingi ibunya. Mereka duduk berhadapan dengan orang yang barangnya ia curi. Momen itu terekam dan diunggah langsung melalui akun Instagram @luthfie.daily, memperlihatkan proses mediasi yang sarat keharuan.

Dengan suara lirih, mahasiswi itu menjelaskan alasan di balik perbuatannya. Ia tidak punya uang sama sekali. Tidak ada pilihan lain yang terlintas di kepalanya saat itu.

“Terpaksa apa gimana kok sampai mencuri?” tanya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan.

“Nggak ada uang,” jawab mahasiswi itu singkat, sambil menahan tangis.

Kasus pencurian mahasiswi di Surabaya itu tidak berakhir di ruang penyidikan. Kapolrestabes memilih jalan mediasi. Ia bertanya kepada korban mengenai langkah yang ingin diambil.

“Mbak mau pengennya bagaimana?” tanya Luthfie.

“Iya kekeluargaan Pak,” jawab korban tanpa ragu.

Jawaban itu seketika meruntuhkan pertahanan mahasiswi tersebut. Ia menangis semakin keras. Sang ibu ikut meneteskan air mata. Dengan suara terbata, mahasiswi itu memohon ampun.

“Maaf ya Mbak,” ucapnya kepada korban.

Fakta kehidupan mahasiswi ini membuka mata banyak orang. Selama sebulan penuh, ia bertahan hidup hanya dengan uang Rp 200 ribu. Jumlah itu digunakan untuk makan sehari-hari.

Baca  Kisah Heroik Praka Farizal, Penjaga Perdamaian Dunia yang Gugur di Lebanon Pulang dalam Kehormatan

“Rp 200 ribu per bulan cukup emang, gimana caranya?” tanya Luthfie.

“Masak nasi,” jawabnya.

“Lauknya apa biasanya?” lanjut Luthfie.

“Telur dadar sama mi,” katanya pelan.

Ayah mahasiswi itu bekerja sebagai buruh tani. Ibunya adalah ibu rumah tangga. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit membuatnya harus berhemat ekstrem demi tetap bisa kuliah.

Ironisnya, prestasi akademik mahasiswi tersebut tergolong luar biasa. Saat ditanya, ia menyebut IPK-nya mencapai 3,85.

“IPK 3.85. Nggak tahu kok tiba-tiba kepikiran nyuri,” ucapnya jujur.

“Nilai IPK 3.85 itu luar biasa,” kata Luthfie mengapresiasi.

Kapolrestabes Surabaya menunjukkan empati. Ia memahami bahwa perbuatan salah bisa lahir dari kondisi hidup yang terdesak. Ia menanyakan barang curian itu akan digunakan untuk apa.

“Dijual ya? Terus untuk apa? Bayar kosan?” tanyanya.

Mahasiswi itu mengangguk.

Luthfie kemudian mengambil langkah konkret. Ia memberikan bantuan uang untuk biaya kos dan kebutuhan hidup lainnya. Ia juga meminta mahasiswi itu berjanji tidak mengulangi perbuatannya.

“Nanti saya bantu biaya kosan dan lain-lain ya,” ucapnya.

“Makasih Pak,” jawab mahasiswi itu dengan suara bergetar.

Di akhir pertemuan, pesan sederhana namun dalam disampaikan Luthfie. Ia meminta mahasiswi tersebut tetap fokus belajar, segera lulus, dan kelak membantu keluarganya.

“Bantu orang tua sama adiknya ya,” pesan Luthfie.

Kisah ini bukan hanya tentang pencurian. Ini adalah potret getir perjuangan hidup, empati aparat, dan kemanusiaan yang masih memberi ruang bagi harapan.

Baca  Viral! Menu MBG Balita di Pamekasan Nasi Bungkus Pakai Sambal, Bikin Publik Geram

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER