Deadline – Serangan rudal Iran kembali mengguncang kota Tel Aviv di Israel. Rentetan ledakan dan sirene darurat terdengar berkali-kali, sementara militer Israel memberlakukan sensor ketat terhadap laporan media mengenai kondisi sebenarnya di lapangan.
Laporan langsung dari jurnalis Kasra Naji pada Selasa, 10 Maret 2026, menggambarkan situasi yang semakin menegangkan di pusat ekonomi Israel tersebut. Ia menyebutkan bahwa serangan rudal Iran masih berlangsung secara berkala, memicu kepanikan di sejumlah wilayah kota.
Kasra menjelaskan bahwa tidak semua rudal berasal langsung dari Iran. Beberapa di antaranya juga diluncurkan oleh kelompok milisi Hezbollah dari wilayah Lebanon. Karena jarak Lebanon dengan Israel relatif dekat, waktu peringatan dari sirene udara menjadi sangat singkat.
Akibatnya, banyak warga hanya memiliki beberapa detik untuk mencari tempat perlindungan sebelum ledakan terjadi.
Korban Jiwa dan Puluhan Orang Terluka
Serangan terbaru dilaporkan menewaskan dua pekerja konstruksi yang sedang bekerja di sebuah bangunan di Tel Aviv saat rudal menghantam area tersebut.
Selain korban tewas, setidaknya 76 orang dilaporkan mengalami luka-luka dalam 24 jam terakhir. Sebagian korban terkena serpihan bangunan dan pecahan kaca akibat gelombang ledakan.
Kasra menggambarkan situasi kota yang berubah drastis. Banyak toko memilih menutup usahanya, kantor-kantor bisnis berhenti beroperasi, dan aktivitas warga menurun drastis.
Jalan-jalan utama yang biasanya padat kini terlihat lengang. Hanya beberapa kendaraan yang masih melintas di tengah suasana tegang.
“Situasi menjadi sulit bagi warga di sini,” kata Kasra dalam laporannya.
Sekolah Ditunda, Aktivitas Kota Lumpuh
Serangan rudal Iran juga berdampak pada sektor pendidikan. Pemerintah Israel awalnya berencana membuka kembali sekolah pada pekan depan.
Namun situasi keamanan yang memburuk memaksa rencana tersebut ditunda.
Banyak keluarga memilih tetap tinggal di rumah atau dekat dengan bunker perlindungan. Kondisi ini membuat aktivitas kota besar seperti Tel Aviv hampir berhenti total.
Iran Ubah Taktik Perang
Di sisi lain, Iran mengumumkan perubahan besar dalam strategi militernya. Komandan Angkatan Udara Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC, Majid Mousavi, menyatakan bahwa Iran akan meningkatkan kekuatan rudal yang digunakan dalam serangan berikutnya.
Menurut Mousavi, Iran kini hanya akan meluncurkan rudal dengan hulu ledak sangat besar, minimal berbobot satu ton.
Ia menyatakan keputusan ini diambil setelah Iran mengklaim berhasil menembus dan menghancurkan lapisan sistem pertahanan udara musuh.
“Mulai sekarang tidak ada rudal dengan hulu ledak kurang dari satu ton yang akan diluncurkan. Durasi peluncuran akan meningkat dan area serangan akan lebih luas,” kata Mousavi dalam pernyataan yang diunggah di platform X.
Operasi Janji Setia 4 Dilanjutkan
Militer Iran sebelumnya juga merilis video peluncuran rudal sebagai bagian dari operasi militer besar yang dinamakan Operasi Janji Setia 4.
Dalam gelombang serangan ke-31, sejumlah rudal berat diluncurkan menuju target yang disebut sebagai aset Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Menurut pernyataan resmi IRGC, serangan tersebut didedikasikan kepada Mojtaba Khamenei dengan slogan militer “Labbaik Ya Khamenei.”
Serangan ini menunjukkan eskalasi konflik yang semakin serius antara Iran, Israel, dan sekutu mereka.
Konflik Timur Tengah Memasuki Fase Baru
Serangan rudal yang terus berlangsung membuat situasi keamanan di Israel semakin tidak stabil. Aktivitas ekonomi terganggu, warga hidup dalam ketakutan, dan pemerintah menghadapi tekanan besar untuk mengendalikan situasi.
Di tengah sensor ketat militer terhadap media, informasi mengenai kondisi sebenarnya di Tel Aviv menjadi sangat terbatas.
Namun laporan dari jurnalis di lapangan memperlihatkan satu hal yang jelas: konflik Timur Tengah kini memasuki fase yang jauh lebih berbahaya dan tidak terduga.



