Deadline – Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu guncangan besar di pasar energi global. Amerika Serikat langsung menyiapkan langkah darurat dengan menguras Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve atau SPR) untuk menahan lonjakan harga bensin di dalam negeri.
Keputusan ini muncul setelah harga minyak dunia melonjak tajam akibat konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan tersebut mengganggu jalur distribusi minyak global yang selama ini bergantung pada Selat Hormuz.
Harga Minyak Tembus US$100 Akibat Perang
Krisis energi mulai terasa sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Situasi semakin panas karena Iran menyerang kapal asing yang melintas di Selat Hormuz.
Gangguan ini membuat arus pengiriman minyak tersendat. Dampaknya, harga minyak dunia sempat melonjak hingga lebih dari US$100 per barel.
Harga sempat turun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang akan segera berakhir. Namun pasar kembali bergejolak karena situasi di lapangan masih belum stabil.
AS Belum Siap Lindungi Kapal Tanker
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright sempat menyatakan militer AS akan melindungi kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz. Pernyataan itu diunggah di media sosial pada 10 Maret, tetapi dihapus hanya 30 menit kemudian.
Pemerintah Iran menilai unggahan tersebut sebagai upaya manipulasi pasar minyak.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding langkah itu sebagai disinformasi untuk memicu kenaikan harga minyak global.
Ia menyebut kebijakan Amerika tidak akan melindungi rakyatnya dari dampak inflasi akibat konflik yang mereka ciptakan sendiri.
AS Akui Belum Siap Kawal Jalur Minyak
Pada 12 Maret, Chris Wright mengakui Angkatan Laut AS belum siap mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Ia menjelaskan seluruh aset militer Amerika saat ini fokus pada operasi militer untuk menghancurkan kemampuan ofensif Iran, termasuk fasilitas produksi rudal, drone, dan program nuklir.
Kondisi ini membuat jalur perdagangan minyak global tetap berada dalam ancaman.
Amerika Lepas 172 Juta Barel Cadangan Minyak
Untuk meredam kenaikan harga energi domestik, pemerintah Amerika Serikat memutuskan melepas cadangan minyak nasional.
Presiden Donald Trump memberi izin kepada Departemen Energi untuk melepas 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve.
Pelepasan cadangan ini akan dimulai minggu depan dan berlangsung sekitar 120 hari sesuai laju distribusi yang direncanakan.
Cadangan minyak strategis Amerika saat ini sekitar 415 juta barel. Cadangan tersebut disimpan di fasilitas gua bawah tanah besar di Texas dan Louisiana.
32 Negara Lepas 400 Juta Barel Minyak
Langkah Amerika merupakan bagian dari operasi energi global yang dikoordinasikan oleh 32 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA).
IEA berencana menyuntikkan total 400 juta barel minyak ke pasar dunia untuk menahan lonjakan harga.
Organisasi itu menyebut konflik Iran sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Total cadangan minyak negara-negara anggota IEA saat ini mencapai lebih dari 1,2 miliar barel.
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup
Situasi semakin tegang setelah pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup.
Pernyataan itu langsung memicu kenaikan harga minyak kembali di pasar global.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan memperingatkan harga minyak bisa melonjak hingga US$200 per barel.
Ancaman ini sangat serius karena lebih dari 20 persen perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Ekonom Prediksi Harga Bisa Tembus US$200
Mantan ekonom Dana Moneter Internasional (IMF), Olivier Blanchard, menilai pasar minyak menghadapi kekurangan pasokan yang sangat besar.
Ia menyebut kombinasi defisit pasokan dan rendahnya elastisitas permintaan minyak bisa membuat harga minyak mendekati US$150 hingga US$200 per barel, bahkan lebih tinggi dari harga saat ini yang berada di sekitar US$100.
Menurutnya ada dua alasan utama.
Pertama, melindungi seluruh kapal di Selat Hormuz hampir mustahil. Iran dapat terus mengancam kapal tanker yang melintas.
Kedua, pasar tidak lagi yakin pada pola kebijakan Presiden Trump yang sering menarik kembali keputusan yang mengguncang pasar. Fenomena ini dikenal di kalangan analis sebagai TACO (Trump Always Chickens Out).
Blanchard menilai konflik ini tidak bisa dihentikan hanya dengan pernyataan politik.
Wall Street Mulai Khawatir
Pandangan serupa datang dari Marko Kolanovic, mantan kepala analis kuantitatif di JPMorgan.
Ia mengatakan lonjakan harga minyak akibat perang membuat pasar tidak bisa berharap pada perubahan kebijakan mendadak dari Presiden Trump.
Selama konflik dengan Iran terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap ditutup, harga minyak global berpotensi bertahan pada level tinggi dalam waktu lama.



