Trump Minta Sekutu Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, Jepang dan Australia Tegas Menolak

Deadline – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meminta negara-negara sekutu Washington mengirimkan kapal perang untuk mengamankan Selat Hormuz. Permintaan tersebut muncul setelah Iran memblokir jalur laut strategis itu di tengah konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Namun, dua sekutu utama Amerika di kawasan Indo-Pasifik, yaitu Jepang dan Australia, langsung menolak permintaan tersebut. Kedua negara menegaskan tidak memiliki rencana mengirim kapal perang ke Timur Tengah.

Trump Desak Koalisi Global Amankan Selat Hormuz

Presiden Donald Trump menyerukan pembentukan koalisi internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia.

Trump menilai negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk Persia memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga keamanan jalur tersebut.

Dalam pernyataan kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One saat terbang dari Florida menuju Washington DC, Trump menyampaikan tuntutannya secara tegas.

Menurutnya, negara-negara yang mendapatkan energi dari wilayah tersebut harus turut serta melindungi jalur perdagangan energi dunia.

Trump juga mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah menghubungi sedikitnya tujuh negara sekutu untuk ikut serta dalam operasi pengamanan Selat Hormuz. Namun, ia tidak menyebutkan secara rinci negara mana saja yang telah diminta bergabung.

Dalam unggahan media sosialnya, Trump menyebut sejumlah negara yang diharapkan berpartisipasi, antara lain China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, serta beberapa negara lain yang memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Baca  Rudal Iran Hancurkan Pesawat AS: Kerugian Triliunan dan 12 Tentara Terluka

Selat Hormuz Jadi Jalur Energi Paling Vital Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20 persen pasokan energi dunia melewati perairan sempit tersebut setiap hari.

Blokade yang dilakukan Iran memicu kekhawatiran global karena berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi.

Pasar keuangan Asia pada Senin (16/3/2026) merespons situasi ini dengan hati-hati. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak lebih dari 100 persen hingga berada di atas level US$104,50 per barel.

Di sisi lain, sebagian besar pasar saham regional Asia justru melemah karena meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Jepang Tegaskan Tidak Akan Kirim Kapal Perang

Pemerintah Jepang langsung menanggapi permintaan Washington dengan sikap hati-hati. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan bahwa Tokyo belum memiliki rencana mengirim kapal angkatan laut ke Timur Tengah.

Dalam pernyataannya di parlemen Jepang, Takaichi mengatakan pemerintah masih mempelajari opsi yang memungkinkan sesuai dengan kerangka hukum nasional.

Jepang diketahui memiliki konstitusi yang menolak perang dan membatasi penggunaan kekuatan militer di luar negeri. Karena itu, keputusan pengiriman kapal perang menjadi isu sensitif dalam kebijakan pertahanan negara tersebut.

Pemerintah Jepang juga menegaskan bahwa setiap langkah terkait keamanan internasional harus tetap sejalan dengan hukum domestik dan prinsip konstitusi negara.

Baca  Garda Revolusi Iran Bersumpah Bunuh Netanyahu, Serangan ke Pangkalan AS Meluas

Australia Ikut Menolak Permintaan Trump

Sikap serupa juga disampaikan oleh pemerintah Australia. Negara sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik itu menyatakan tidak memiliki rencana mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.

Menteri kabinet Australia, Catherine King, menegaskan bahwa Canberra bahkan belum menerima permintaan resmi untuk bergabung dalam operasi militer tersebut.

Dalam wawancara dengan televisi nasional ABC, Catherine King mengatakan pemerintah Australia memahami pentingnya Selat Hormuz bagi perdagangan energi dunia. Namun, keterlibatan militer bukan opsi yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah saat ini.

Ketegangan Timur Tengah Guncang Pasar Global

Permintaan Trump kepada sekutu-sekutunya memperlihatkan kekhawatiran Washington terhadap dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi global. Jika Selat Hormuz tetap tertutup, distribusi minyak dunia dapat terganggu secara serius.

Para analis energi memperingatkan bahwa ketegangan di kawasan tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak yang lebih tinggi serta meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global.

Hingga kini, belum ada tanda bahwa negara-negara sekutu utama Amerika akan mengikuti permintaan Washington untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.

Situasi ini membuat stabilitas jalur energi global tetap berada dalam kondisi penuh ketidakpastian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER