Sidang Chromebook Nadiem Makarim Memanas, Dugaan Strategi Alih Isu Terkuak

Deadline – Kasus korupsi pengadaan Chromebook Nadiem Makarim memasuki fase krusial. Persidangan mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi itu menunjukkan eskalasi tensi. Isu kesehatan terdakwa hingga ancaman pelaporan terhadap hakim muncul di tengah pembuktian perkara.

Pengamat hukum Fajar Trio menilai dinamika tersebut tidak berdiri sendiri. Ia melihat pola klasik dalam perkara korupsi besar. Pola ini kerap menggeser fokus publik dari substansi perkara ke isu prosedural.

Keluhan reinfeksi pasca-operasi yang dikaitkan dengan higienitas tahanan dinilai sebagai narasi lama. Fajar menyebut klaim ini sering dipakai untuk membangun simpati publik. Dampaknya, kepercayaan terhadap penegak hukum ikut dipertaruhkan.

Fajar menegaskan, jika Kejaksaan telah memberi layanan medis sesuai SOP, tudingan perlakuan tidak manusiawi menjadi tidak relevan. Ia menyebut narasi tersebut berpotensi menyudutkan jaksa dan memengaruhi objektivitas hakim.

Dalam persidangan sebelumnya, saksi Jumeri mengungkap istilah “Kopi Hitam”. Istilah ini disebut sebagai kode kebijakan pengadaan Chromebook. Kebijakan itu diduga disusun sepihak oleh menteri dan staf khusus. Jajaran eselon tidak dilibatkan secara substansial.

Fajar menilai penguncian spesifikasi sejak awal berpotensi memenuhi unsur niat jahat atau mens rea. Ia menegaskan, kebijakan yang diarahkan pada merek atau spesifikasi tertentu tanpa kajian teknis terbuka masuk kategori korupsi kebijakan.

Menurut Fajar, istilah “Kopi Hitam” menunjukkan adanya rekayasa yang melompati prosedur birokrasi formal. Praktik ini tidak bisa dipandang sebagai kesalahan administrasi biasa. Ia melihat indikasi kuat perbuatan melawan hukum.

Baca  VIRAL Wanita di Lebak Injak Al-Qur’an Saat Sumpah, Polisi Langsung Amankan Pelaku

Langkah kuasa hukum Nadiem Makarim juga menjadi sorotan. Pelaporan saksi ke KPK dan ancaman melaporkan hakim ke Komisi Yudisial dinilai berlebihan. Ancaman itu muncul setelah larangan merekam sidang dari meja pengacara.

Fajar menyebut tindakan tersebut sebagai fenomena corruptor fights back. Ia menilai strategi ini bertujuan merusak kredibilitas proses peradilan. Fokus publik berpotensi dialihkan dari dugaan kerugian negara ke isu teknis persidangan.

Fajar mengingatkan Kejaksaan Agung agar tetap konsisten. Ia meminta jaksa fokus membedah kerugian negara yang ditaksir mencapai triliunan rupiah. Ia juga meminta publik bersikap kritis terhadap narasi HAM yang kerap muncul.

Kasus pengadaan Chromebook ini menyita perhatian luas. Nilai proyek yang besar dan dampaknya pada sektor pendidikan menjadi alasan utama. Hingga berita ini diturunkan, kuasa hukum Nadiem Makarim belum memberi tanggapan terbaru terkait tudingan strategi corruptor fights back.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER