Deadline – Motor listrik MBG langsung memicu gelombang kritik setelah proyek bernilai besar ini jatuh ke satu perusahaan. Publik tidak hanya mempertanyakan harga, tetapi juga siapa yang berada di balik perusahaan pemenang tender.
Motor listrik MBG menjadi bagian dari program Makan Bergizi Gratis yang dikelola Badan Gizi Nasional. Proyek ini mencakup pengadaan puluhan ribu kendaraan operasional untuk menunjang distribusi layanan gizi di berbagai daerah.
Siapa Pengendali Perusahaan Pemenang Tender
Tender dimenangkan oleh PT Yasa Artha Trimanunggal. Perhatian publik tertuju pada tiga nama yang mengendalikan perusahaan ini.
Andri Mulyono menguasai 72,5 persen saham dan menjabat Komisaris Utama. Yenna Yuniana memegang 27,5 persen saham sekaligus menjadi Direktur Utama yang menjalankan operasional harian.
Nama lain yang ikut disorot adalah A. Budiharja R. Ia menjabat Komisaris tanpa kepemilikan saham. Ia merupakan purnawirawan Perwira Tinggi TNI Angkatan Laut yang pernah menjadi Staf Ahli Menteri Pertahanan pada era Ryamizard Ryacudu serta Staf Khusus KSAL pada 2020.
Pengamat sekaligus Ketua Forsiber, Hamdi Putra, menilai komposisi ini berisiko memicu pertanyaan publik. Ia menyoroti adanya keterkaitan sejumlah nama dengan lingkaran kasus mantan Menteri Sosial Juliari Batubara.
Detail Anggaran dan Harga Motor
Dalam sistem pengadaan nasional dengan kode ID 45401, perusahaan ini ditugaskan menyuplai motor listrik tipe Emmo JVX GT dan Emmo JVH Max.
Harga resmi tercatat Rp49,95 juta per unit termasuk PPN 12 persen. Namun Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyatakan pemerintah memperoleh harga Rp42 juta per unit.
Harga tersebut masih berstatus off the road. Artinya, biaya tambahan untuk BPKB dan STNK belum termasuk dalam angka tersebut.
Total pengadaan mencapai 21.800 unit. Nilai anggaran menembus sekitar Rp1,2 triliun dari uang negara.
Kantor Dijaga Polisi, Aktivitas Tertutup
Sorotan publik meningkat saat kantor perusahaan di Jalan Indraloka II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, dijaga aparat.
Sejumlah polisi berseragam dan sipil terlihat melakukan apel di lokasi. Pengamanan dipimpin perwira berpangkat AKP. Setelah apel, personel menyebar di sekitar area kantor.
Saat dimintai keterangan, AKP Madi hanya menyebut ada pengamanan. Hingga sore hari, aparat masih berjaga sebelum akhirnya meninggalkan lokasi.
Pimpinan kepolisian setempat belum memberikan penjelasan rinci terkait alasan pengamanan tersebut.
Di sisi lain, aktivitas kantor terlihat terbatas. Hanya beberapa orang terlihat keluar masuk gedung.
Jejak Bisnis dan Ekspansi Perusahaan
PT Yasa Artha Trimanunggal berdiri sejak 2016 dan bergerak di bidang logistik, pengadaan alat kesehatan, serta ekspor-impor.
Perusahaan ini pernah terlibat kerja sama pengadaan pesawat dengan PT Dirgantara Indonesia. Pada 2025, perusahaan ini juga mengakuisisi maskapai perintis SAM Air.
Rekam jejak ini menunjukkan perusahaan memiliki pengalaman di proyek besar, tetapi tetap memicu perdebatan terkait transparansi.
Minim Layanan, Publik Pertanyakan Kesiapan
Kritik juga muncul terkait kesiapan layanan purnajual motor listrik yang digunakan.
Merek EMMO diketahui baru memiliki satu dealer di Indonesia, berlokasi di Grogol, Jakarta Barat. Showroom bahkan dilaporkan belum sepenuhnya beroperasi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan soal perawatan ribuan unit motor yang akan digunakan di berbagai daerah.
Penjelasan Resmi Badan Gizi Nasional
Dadan Hindayana menegaskan pengadaan ini bukan keputusan mendadak. Proyek sudah masuk dalam perencanaan anggaran 2025.
Dari total kontrak 25.644 unit, sebanyak 21.801 unit atau 85,01 persen telah diselesaikan hingga 20 Maret 2026.
Motor diproduksi di dalam negeri dengan tingkat komponen lokal mencapai 48,5 persen di fasilitas Citeureup, Bogor.
Saat ini seluruh unit masih dalam tahap administrasi sebagai Barang Milik Negara sebelum didistribusikan.



