Deadline – Komentar Trump soal NATO Afghanistan memicu reaksi keras Pemerintah Inggris. Pernyataan itu muncul dalam wawancara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Fox News yang tayang Kamis lalu.
Dalam wawancara tersebut, Trump menyatakan tentara NATO tidak bertempur di garis depan Afghanistan. Ia juga kembali menyebut NATO tidak akan membantu Amerika Serikat jika diminta.
Pernyataan itu langsung dibantah Inggris. Fakta resmi menunjukkan 457 tentara Inggris tewas di Afghanistan sejak operasi militer pasca serangan teror 11 September 2001 di Amerika Serikat.
Trump mengatakan kepada Fox News bahwa negara lain hanya mengirim “beberapa pasukan” ke Afghanistan. Pernyataan itu dikutip kantor berita AFP pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Inggris menegaskan keterlibatan militernya terjadi sejak 2001. Saat itu, Amerika Serikat mengaktifkan Pasal 5 NATO tentang keamanan kolektif. Pasal ini hanya pernah diaktifkan sekali, yaitu untuk membantu Amerika Serikat setelah 11 September.
Selain Inggris, pasukan dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Denmark, dan negara sekutu NATO lain juga kehilangan personel di Afghanistan. Semua negara tersebut terlibat dalam operasi yang dipimpin Amerika Serikat.
Menteri Kesehatan Inggris Stephen Kinnock menyebut komentar Trump keliru. Ia menyampaikan hal itu dalam wawancara dengan Radio LBC.
Kinnock menyatakan Perdana Menteri Keir Starmer kemungkinan akan membahas isu ini langsung dengan Trump. Ia menegaskan Starmer bangga terhadap angkatan bersenjata Inggris dan akan menjelaskan fakta tersebut.
Kepada Sky News, Kinnock menyebut pernyataan Trump “jelas salah” dan “sangat mengecewakan”. Ia menekankan bahwa Pasal 5 NATO diaktifkan demi membantu Amerika Serikat.
Emily Thornberry, Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Inggris, menyampaikan kecaman lebih keras. Ia menyebut pernyataan Trump sebagai penghinaan.
Dalam program Question Time BBC, Thornberry mengatakan komentar itu menghina 457 keluarga tentara Inggris yang kehilangan anggota keluarganya di Afghanistan. Ia menegaskan pasukan Inggris bertempur di garis depan.
Data resmi pemerintah Inggris mencatat 405 dari 457 tentara yang tewas gugur akibat aksi militer musuh. Angka ini menegaskan intensitas keterlibatan Inggris di medan perang Afghanistan.
Amerika Serikat sendiri kehilangan lebih dari 2.400 tentara selama perang Afghanistan. Data ini menunjukkan konflik tersebut menelan korban besar dari semua pihak yang terlibat.



