23 Kasus Hantavirus Tercatat Kemenkes di Indonesia, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Deadline | Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah wabah di kapal pesiar MV Hondius menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia. Kasus itu memicu respons kesehatan internasional karena melibatkan penumpang dari berbagai negara dan berkaitan dengan varian Andes Virus yang dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi.

Kapal pesiar MV Hondius memulai perjalanan dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026 dan membawa sekitar 150 penumpang serta awak dari 28 negara. Setelah wabah terdeteksi, berbagai negara mulai melacak penumpang yang sempat turun dari kapal maupun orang yang melakukan kontak erat dengan mereka.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut lima dari delapan kasus suspek di kapal tersebut telah terkonfirmasi. Tiga pasien meninggal dunia, termasuk pasangan asal Belanda dan seorang perempuan asal Jerman.

Situasi ini membuat banyak negara meningkatkan pengawasan terhadap potensi penyebaran hantavirus lintas negara. Indonesia termasuk salah satu negara yang memperketat pemantauan, terutama terhadap pelaku perjalanan internasional dan kontak erat penumpang kapal.

Indonesia Catat 23 Kasus Positif Hantavirus

Di tengah meningkatnya perhatian global, Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya sudah mendeteksi kasus hantavirus dalam beberapa tahun terakhir.

Sepanjang periode 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026, tercatat 251 kasus suspek hantavirus di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 23 kasus dinyatakan positif, 225 kasus negatif, dan tiga lainnya tidak dapat diperiksa.

Dari 23 pasien positif, sebanyak 20 orang sembuh dan tiga orang meninggal dunia.

Kasus terbanyak terjadi pada 2025 dengan 17 kasus positif. Sementara itu, pada 2026 hingga minggu ke-16 ditemukan lima kasus, dan pada 2024 tercatat satu kasus.

Penyebaran kasus terkonfirmasi terjadi di beberapa daerah, yaitu:

  • Jakarta: 6 kasus
  • Yogyakarta: 6 kasus
  • Jawa Barat: 5 kasus
  • Jawa Timur: 1 kasus
  • Banten: 1 kasus
  • Sumatra Barat: 1 kasus
  • Nusa Tenggara Timur: 1 kasus
  • Sulawesi Utara: 1 kasus
  • Kalimantan Barat: 1 kasus

Jakarta dan Yogyakarta menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak selama periode tersebut.

Dua Kasus Suspek Terbaru Dipastikan Negatif

Di tengah kekhawatiran publik akibat wabah di MV Hondius, Kementerian Kesehatan memastikan dua kasus suspek terbaru di Jakarta dan Yogyakarta tidak terkait infeksi hantavirus.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut kedua pasien telah diperiksa dan hasilnya negatif. Keduanya juga sudah dinyatakan sembuh.

Pemerintah menegaskan pasien tersebut tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. Hal ini penting karena perhatian dunia saat ini tertuju pada potensi penyebaran Andes Virus dari Amerika Selatan.

Baca Juga  6 Ciri Vertigo karena Asam Lambung, Jangan Sampai Diabaikan

Meski hasilnya negatif, munculnya dua kasus suspek dalam waktu berdekatan menunjukkan bahwa sistem pengawasan terhadap penyakit zoonosis masih terus berjalan.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami hidup pada hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Virus ini dapat menular ke manusia melalui kontak dengan air liur, urine, atau kotoran hewan yang terinfeksi.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa orthohantavirus memiliki sekitar 50 varian. Dari jumlah tersebut, setidaknya 24 varian diketahui dapat menginfeksi manusia.

Beberapa varian yang dikenal antara lain:

  • Seoul Virus
  • Hantaan Virus
  • Andes Virus
  • Sin Nombre Virus

Tidak semua varian memiliki tingkat keganasan yang sama. Beberapa hanya menyebabkan gejala ringan, sementara lainnya dapat memicu gangguan paru-paru atau ginjal yang fatal.

Andes Virus menjadi perhatian khusus karena berbeda dibanding sebagian besar hantavirus lain. Varian ini diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak langsung.

Dua Bentuk Penyakit Akibat Hantavirus

Infeksi hantavirus pada manusia umumnya terbagi menjadi dua bentuk klinis utama.

Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

Jenis pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS. Penyakit ini menyerang paru-paru dan dikenal memiliki tingkat kematian tinggi.

Gejala HPS meliputi:

  • Demam
  • Nyeri badan
  • Lemas
  • Batuk
  • Sesak napas

Masa inkubasi penyakit ini berkisar 14 hingga 17 hari. Tingkat kematiannya dapat mencapai sekitar 60 persen.

Andes Virus yang ditemukan pada kasus MV Hondius termasuk tipe penyebab HPS.

Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

Jenis kedua adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS.

Gejalanya meliputi:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri badan
  • Tubuh lemas
  • Kulit atau tubuh menguning

Masa inkubasi HFRS berkisar satu hingga dua minggu. Tingkat kematian penyakit ini sekitar 5 hingga 15 persen.

Kementerian Kesehatan menyebut seluruh kasus hantavirus yang terdeteksi di Indonesia termasuk tipe HFRS yang berasal dari Seoul Virus.

Artinya, kasus di Indonesia berbeda dengan wabah Andes Virus yang muncul di kapal pesiar MV Hondius.

Mengapa Andes Virus Dianggap Berbahaya?

Epidemiolog Masdalina Pane menjelaskan bahwa Andes Virus termasuk salah satu hantavirus paling virulen atau paling ganas.

Varian ini banyak ditemukan di kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, termasuk Argentina.

Tingkat kematian Andes Virus disebut berada di kisaran 12 hingga 60 persen, tergantung kondisi pasien dan kecepatan penanganan medis.

Yang membuatnya lebih mengkhawatirkan adalah kemampuan penularan dari manusia ke manusia.

Baca Juga  Cara Mengatasi Buang Air Kecil Terus-Menerus: Solusi Ampuh, Aman, dan Terbukti Efektif

Menurut Masdalina, penularan itu tidak terjadi semudah Covid-19. Virus ini umumnya membutuhkan kontak langsung dengan durasi cukup lama.

Contoh kontak yang berisiko meliputi:

  • Hubungan seksual
  • Berciuman
  • Kontak intens dalam waktu lama
  • Penularan dari ibu ke anak melalui ASI

Karena membutuhkan kontak dekat, penyebaran Andes Virus dinilai lebih terbatas dibanding penyakit saluran napas seperti Covid-19.

Meski begitu, mobilitas manusia antarnegara tetap membuka kemungkinan penyebaran lintas wilayah.

Apakah Andes Virus Bisa Masuk ke Indonesia?

Kemungkinan masuknya Andes Virus ke Indonesia menjadi pertanyaan yang muncul setelah wabah di MV Hondius.

Masdalina Pane menjelaskan bahwa keberadaan virus sangat bergantung pada reservoir atau hewan pengerat tempat virus berkembang.

Spesies tikus di Indonesia berbeda dengan tikus yang menjadi reservoir Andes Virus di Amerika Selatan. Karena itu, peluang virus berkembang secara alami di Indonesia dinilai lebih kecil.

Namun, risiko penularan melalui manusia tetap ada.

Jika seseorang yang terinfeksi datang ke Indonesia dan melakukan kontak langsung dengan orang lain, potensi penularan masih mungkin terjadi.

Masa inkubasi Andes Virus juga cukup panjang, yaitu sekitar 9 hingga 40 hari. Rata-rata gejala muncul setelah 18 hari hingga tiga minggu.

Rentang waktu yang panjang ini membuat proses pelacakan kontak menjadi lebih rumit. Seseorang bisa saja terlihat sehat saat bepergian, tetapi sebenarnya masih berada dalam masa inkubasi.

Kontak Erat Penumpang MV Hondius Dipantau di Indonesia

Kementerian Kesehatan memastikan satu kontak erat terkait kasus di MV Hondius telah menjalani pemantauan di Indonesia.

Pria warga negara asing berinisial KE disebut tidak menunjukkan gejala dan hasil pemeriksaannya negatif Andes Virus.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa yang bersangkutan langsung menjalani karantina mandiri setibanya di Indonesia setelah mendapat notifikasi dari Inggris.

KE juga disebut bekerja dari rumah dan tinggal sendiri selama masa pemantauan.

Menurut Andi, pasien bersikap kooperatif dan memahami risiko penularan hantavirus. Karena itu, kemungkinan kontak dengan orang lain sangat minim.

Meski pedoman WHO memperbolehkan karantina mandiri di rumah, pemerintah tetap melakukan pemantauan di RSPI Sulianti Saroso untuk meningkatkan kewaspadaan.

Kondisi pasien dievaluasi setiap hari karena masa inkubasi virus bisa berlangsung lebih dari dua pekan.

Mengapa Hantavirus Sulit Diabaikan?

Hantavirus bukan penyakit baru di Indonesia. Namun, jumlah suspek yang mencapai lebih dari 250 kasus dalam tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa penyakit ini tidak bisa dianggap sepele.

Baca Juga  Kenapa Burger Tidak Sehat? Ini Bahaya Tersembunyi yang Sering Diabaikan

Penyakit ini juga memiliki karakter yang berbeda dibanding infeksi virus lain.

Pada tipe ganas seperti HPS, virus dapat menyerang paru-paru, jantung, dan pembuluh darah. Pasien bisa mengalami gangguan pernapasan berat dalam waktu singkat.

Sementara pada tipe HFRS yang banyak ditemukan di Asia, termasuk Indonesia, virus menyerang ginjal dan memicu gejala demam berdarah dengan sindrom ginjal.

Kelompok lanjut usia dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu dinilai lebih rentan mengalami komplikasi berat.

Karena itu, deteksi dini menjadi faktor penting untuk menekan angka kematian.

Langkah Pencegahan yang Perlu Dilakukan Masyarakat

Pencegahan utama hantavirus berfokus pada pengendalian hewan pengerat dan menjaga kebersihan lingkungan.

Virus dapat menyebar melalui partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang mencemari area rumah dan tempat penyimpanan makanan.

Beberapa langkah yang disarankan antara lain:

Menjaga Kebersihan Rumah

Sisa makanan yang tercecer harus segera dibersihkan agar tidak mengundang tikus.

Area yang diduga terkena kotoran atau urine tikus juga perlu dibersihkan dengan hati-hati.

Mengurangi Populasi Tikus

Lubang atau celah yang memungkinkan tikus masuk ke rumah perlu ditutup.

Penyimpanan makanan juga harus diperhatikan agar tidak menjadi sumber makanan bagi hewan pengerat.

Memperhatikan Hewan Pengerat Peliharaan

Hamster dan hewan pengerat lain juga perlu dijaga kesehatannya.

Meski kasus pada hewan peliharaan belum banyak dilaporkan, kewaspadaan tetap diperlukan.

Menjaga Daya Tahan Tubuh

Orang lanjut usia dan kelompok rentan perlu menjaga kondisi tubuh agar tidak mudah terinfeksi.

Selain itu, kontak erat dengan orang yang baru datang dari wilayah terjangkit juga sebaiknya dibatasi sementara waktu jika muncul gejala mencurigakan.

Pemerintah Siapkan Sistem Skrining dan Laboratorium

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan WHO untuk memperkuat langkah antisipasi.

Kementerian Kesehatan juga meminta panduan deteksi dini dan skrining terkait hantavirus.

Pemerintah saat ini mempertimbangkan penggunaan rapid test maupun reagen PCR untuk mendeteksi infeksi hantavirus lebih cepat.

Menurut Budi, kapasitas laboratorium Indonesia kini jauh lebih siap dibanding beberapa tahun lalu karena infrastruktur PCR sudah tersebar di banyak daerah sejak pandemi Covid-19.

Selain pemeriksaan laboratorium, pemerintah juga diminta memperkuat sistem surveilans.

Jika ditemukan pasien dengan gejala yang mengarah pada hantavirus, pemeriksaan harus segera dilakukan, terutama pada orang yang baru datang dari wilayah endemis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Teratas

spot_img

TERPOPULER

Â