Deadline – Program Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) di Kota Malang mulai menghadapi ujian berat sejak tahun ajaran berjalan. Dari kuota awal 75 siswa, kini hanya tersisa 69 orang. Sejumlah siswa memilih keluar karena tidak mampu beradaptasi dengan kehidupan asrama.
Sistem pendidikan di Sekolah Rakyat berbasis asrama menjadi tantangan terbesar bagi para siswa. Banyak dari mereka belum terbiasa hidup bersama dalam satu lingkungan tertutup selama 24 jam penuh.
Guru Sosiologi sekaligus Wakil Kepala Kurikulum Sekolah Rakyat Menengah Atas, Hilwa Uchti Millinia, mengatakan sebagian siswa merasa tidak nyaman tinggal bersama teman sebaya dalam satu kamar.
“Awalnya kuota 75 siswa, sekarang tersisa 69. Ada yang keluar karena tidak terbiasa berasrama, sakit, hingga kangen rumah,” ujar Hilwa, Minggu (10/5/2026).
Kehidupan Asrama Jadi Tekanan Baru
Kehidupan di asrama ternyata tidak mudah dijalani semua siswa. Adaptasi dengan aturan baru, berbagi ruang tidur, hingga kebiasaan sederhana seperti penggunaan kipas angin memicu ketidaknyamanan.
Menurut Hilwa, beberapa siswa kesulitan menghadapi perubahan pola hidup yang mendadak. Mereka harus tinggal jauh dari keluarga dan hidup bersama banyak orang dengan karakter berbeda.
“Tidak semua siswa terbiasa tidur bersama teman. Hal-hal kecil seperti penggunaan kipas saja bisa jadi masalah,” katanya.
Kondisi itu membuat sebagian siswa memilih kembali pulang. Ada pula yang memutuskan mencari pekerjaan dibanding melanjutkan pendidikan di sekolah asrama tersebut.
Pihak sekolah tidak dapat memaksa siswa bertahan. Namun SRMA tetap berharap mereka mau melanjutkan pendidikan di tempat lain.
“Sebagian merasa lebih nyaman kembali ke luar dan mencari penghidupan sendiri,” tambah Hilwa.
Guru Hadapi Tantangan Bangun Semangat Belajar
Tantangan di Sekolah Rakyat Menengah Atas Malang tidak hanya soal adaptasi asrama. Para guru juga harus membangun kembali motivasi belajar siswa yang memiliki latar belakang pendidikan berbeda-beda.
Beberapa siswa bahkan sempat lama berhenti sekolah sebelum masuk SRMA. Kondisi itu membuat proses belajar membutuhkan pendekatan khusus.
“Ada yang tidak terbiasa belajar, motivasinya rendah. Ini menjadi PR kami untuk membangun semangat mereka agar konsisten,” ujar Hilwa.
Saat ini SRMA Malang didukung 17 guru dan 32 tenaga kependidikan. Mereka tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga melakukan pendekatan personal kepada siswa.
Guru berusaha memahami kebutuhan setiap anak agar proses pendidikan berjalan lebih efektif.
“Kami tidak hanya mengajar, tapi juga belajar bersama. Mendiagnosis kebutuhan siswa dan mencari pendekatan yang tepat,” katanya.
Fasilitas Masih Serba Sementara
Di tengah tantangan pendidikan dan adaptasi siswa, Sekolah Rakyat Menengah Atas Malang juga masih menghadapi keterbatasan fasilitas.
Gedung sekolah yang digunakan saat ini masih bersifat pinjaman. Akibatnya, beberapa ruangan digunakan untuk berbagai kebutuhan sekaligus.
“Gedung ini masih meminjam, jadi beberapa ruang difungsikan ganda, seperti ruang makan yang juga digunakan untuk kegiatan lain,” jelas Hilwa.
Kondisi tersebut membuat aktivitas sekolah berlangsung dinamis. Meski terbatas, kegiatan belajar tetap berjalan setiap hari.
Siswa Dipilih Lewat Program PKH
Sekolah Rakyat Menengah Atas Malang tidak membuka pendaftaran umum bagi masyarakat. Seluruh siswa direkrut melalui program pemerintah pusat menggunakan data Program Keluarga Harapan atau PKH dari Kementerian Sosial.
Karena itu, sekolah tidak dapat menerima siswa secara mandiri meski banyak orangtua datang langsung untuk mendaftar.
“Kami tidak membuka pendaftaran mandiri. Siswa yang masuk sudah ditentukan dari Kemensos melalui PKH,” jelas Hilwa.
Sekolah Rakyat Menengah Atas Malang dijadwalkan kembali menerima siswa baru pada semester mendatang yang dimulai Juli 2026. Mekanisme penerimaan tetap mengikuti kebijakan pemerintah pusat.
Di balik berbagai keterbatasan dan tantangan, SRMA Malang terus berupaya menjadi tempat pendidikan alternatif bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sekolah ini juga berusaha membentuk karakter serta kemandirian siswa melalui sistem pendidikan berbasis asrama.



