Petani Terjepit Tekanan Rupiah, Harga-Harga Melambung, Ancaman Gagal Panen Kian Nyata

Deadline – Tekanan ekonomi global, pelemahan rupiah, dan ancaman El Nino mulai menghimpit petani di berbagai daerah. Harga bahan bakar, bibit, hingga pestisida naik tajam. Di sisi lain, hasil panen tidak mengalami peningkatan. Kondisi ini membuat banyak petani mulai khawatir menghadapi musim kemarau 2026.

Petani di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Tengah mengaku biaya produksi terus melonjak dalam beberapa bulan terakhir. Mereka tetap menanam karena tidak memiliki sumber penghasilan lain. Namun keuntungan semakin menipis.

Roni Nubatonis, petani di Desa Bena, Amanuban Selatan, Timor Tengah Selatan, NTT, mengatakan kenaikan harga solar menjadi beban paling berat. Saat stok solar di SPBU sempat kosong, petani terpaksa membeli secara eceran dengan harga jauh lebih mahal.

“Biaya produksi tinggi dengan hasil panen tetap sama itu mengurangi pendapatan dari petani. Tidak bicara untung,” ujar Roni.

Roni saat ini menunggu panen padi pada Juni 2026. Namun ia mulai cemas menghadapi musim kemarau panjang. Wilayahnya hanya mengandalkan air sungai untuk irigasi sawah.

Menurutnya, jika panas berlangsung lama maka debit air sungai akan turun drastis. Dampaknya, luas tanam menyusut dan risiko gagal panen meningkat.

Pada kekeringan tahun 2019 dan 2023, sekitar 20% hingga 30% lahannya terdampak. Produksi panen saat itu turun sekitar 10% sampai 20%.

Kondisi serupa dirasakan Katarina Dima di Desa Oefafi, Kupang, NTT. Ia tetap bertani meski biaya produksi naik akibat kelangkaan bahan bakar.

Baca Juga  Gaji 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Merah Putih Dibayar Siapa?

Katarina mulai mengurangi risiko dengan menanam komoditas yang lebih tahan cuaca kering seperti terung dan kacang-kacangan. Ia juga memilih tanaman dengan masa panen pendek agar kerugian bisa ditekan.

“Kita waspada mengurangi tanam. Takutnya air tidak mencukupi,” kata Katarina.

Ia mengaku belum menerima sosialisasi khusus terkait mitigasi kekeringan dari pemerintah. Bantuan yang diterima sejauh ini hanya berupa subsidi pupuk dan bibit.

Di Jawa Tengah, petani jagung dan padi juga menghadapi tekanan serupa. Hardiono, petani di Desa Ngaringan, Grobogan, mengatakan harga benih jagung naik lebih dari Rp10.000 per kilogram dibanding sebelumnya.

Benih jagung yang dulu dijual Rp105.000 per kilogram kini mencapai Rp118.000. Sementara biaya pestisida terus meningkat.

Hardiono mengaku pendapatan panen padi musim sebelumnya turun hampir 50% akibat tingginya biaya produksi. Ia juga khawatir ancaman kekeringan akan menambah biaya karena petani harus menggunakan pompa air.

“Kalau harga produksi tinggi tapi harga jual rendah, petani bisa gulung tikar,” ujarnya.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026. Sebanyak 445 Zona Musim diperkirakan mengalami kemarau. Sebagian wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua bahkan mulai merasakan dampaknya sejak Mei hingga Juni.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut peluang El Nino tahun ini berada pada kategori lemah hingga moderat dengan kemungkinan berkembang menjadi kuat.

Baca Juga  Nilai Tukar Rupiah Makin Terpuruk Hingga Rp17.738, Ancaman PHK dan Naiknya Harga Pangan Mengintai

Menurut BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dan lebih kering dibanding kondisi normal.

Lembaga Oseanografi dan Atmosfer Amerika Serikat atau NOAA juga memperingatkan perkembangan El Nino yang cepat di Samudra Pasifik tropis. Bahkan sejumlah lembaga cuaca internasional memperkirakan potensi munculnya “super El Nino”.

Fenomena ini berisiko memicu kekeringan ekstrem, penurunan produksi pertanian, hingga lonjakan harga pangan global.

Guru Besar IPB University, Dwi Andreas Santosa, menilai situasi saat ini jauh lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, tekanan ekonomi, konflik global, pelemahan rupiah, dan ancaman iklim terjadi secara bersamaan.

“Situasinya tidak baik-baik saja. Pemerintah harus ekstra hati-hati,” katanya.

Dwi meminta pemerintah tidak hanya fokus pada besarnya stok beras Bulog yang kini disebut mencapai 5,3 juta ton. Pemerintah juga diminta memeriksa kualitas dan kondisi stok agar bisa dipakai saat produksi pangan terganggu.

Dekan Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono, juga mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan program cetak sawah baru. Menurutnya, membangun ekosistem sawah produktif membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Ia menambahkan ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil dan impor bahan baku membuat biaya pupuk rentan naik saat harga energi global melonjak.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menilai subsidi pupuk sekitar Rp46 triliun per tahun belum cukup melindungi petani dari gejolak harga energi dunia.

Baca Juga  Tom Lembong Ingatkan Risiko Kasus Nadiem Makarim terhadap Kepercayaan Investor

“Kita menghadapi perfect storm karena krisis energi bertemu dengan krisis pangan dan tekanan ekonomi sekaligus,” ujarnya.

Sementara itu, Kementerian Pertanian menyiapkan berbagai langkah mitigasi menghadapi ancaman kekeringan. Program yang disiapkan meliputi bantuan pompa air, rehabilitasi irigasi, pembangunan embung, sumur bor, dan distribusi benih tahan kekeringan.

Kementan menargetkan distribusi 94.813 unit pompa air di seluruh Indonesia. Pemerintah juga berupaya menjaga harga gabah kering panen di kisaran Rp6.500 per kilogram.

Meski demikian, data Kementan menunjukkan luas panen padi pada Maret 2026 turun 3,16% dibanding periode yang sama tahun lalu. Potensi luas panen April hingga Juni 2026 juga diperkirakan turun 7,64%.

Penurunan luas panen juga terjadi pada komoditas jagung dan bawang merah. Dampaknya, harga beberapa komoditas mulai naik, termasuk cabai merah dan bawang merah.

Saat ini harga beras medium tercatat Rp13.756 per kilogram, sedangkan beras premium mencapai Rp15.400 per kilogram.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Teratas

spot_img

TERPOPULER