Deadline – Ribuan tentara Israel mengalami gangguan jiwa setelah konflik panjang melawan Hamas di Jalur Gaza. Perang ini tidak hanya melukai tubuh, tetapi juga merusak kondisi psikologis para prajurit yang terjun langsung ke medan tempur.
Konflik Gaza yang berkepanjangan menciptakan tekanan ekstrem. Banyak tentara pulang dengan beban batin yang berat. Luka itu tidak selalu terlihat. Namun dampaknya nyata dan mendalam.
PTSD Menghantui Prajurit Israel
Gangguan jiwa paling banyak dialami tentara Israel adalah PTSD. Gejalanya muncul dalam bentuk kilas balik traumatis, mimpi buruk berulang, dan kewaspadaan berlebihan. Banyak prajurit menghindari situasi yang mengingatkan mereka pada pertempuran.
Selain PTSD, tentara Israel juga mengalami gangguan kecemasan umum, depresi berat, dan gangguan penyesuaian. Sebagian kesulitan kembali ke kehidupan sipil. Ada pula yang terjerumus pada penyalahgunaan zat sebagai pelarian dari tekanan mental.
Trauma muncul dari pengalaman langsung di medan perang. Prajurit menyaksikan kematian rekan sendiri. Mereka terlibat pertempuran jarak dekat. Serangan mendadak terjadi tanpa peringatan. Semua itu terjadi berulang kali dalam intensitas tinggi.
Durasi perang yang panjang tanpa kemenangan jelas memperparah kondisi. Rasa frustrasi dan tidak berdaya tumbuh di dalam diri prajurit. Beban moral juga menghantui mereka saat operasi berlangsung di wilayah sipil padat penduduk.
Stigma di lingkungan militer ikut memperparah keadaan. Banyak prajurit enggan mencari bantuan karena gangguan jiwa dianggap sebagai kelemahan.
Kerugian Besar Tentara Israel
Kerugian tentara Israel dalam perang melawan Hamas bersifat fisik dan non-fisik. Ribuan prajurit mengalami luka berat. Cedera itu mencakup kehilangan anggota tubuh, cedera otak traumatis, dan luka bakar. Banyak dari mereka membutuhkan perawatan seumur hidup.
Peralatan militer juga mengalami keausan serius. Kendaraan lapis baja, sistem pertahanan udara, dan persenjataan individu rusak berat. Kesiapan tempur menurun, seperti diberitakan al Mayadeen.
Kerugian non-fisik terasa lebih dalam. Moral pasukan merosot. Kepercayaan diri terkikis karena Hamas belum berhasil dinetralisir secara tuntas. Kredibilitas deterensi Israel di kawasan ikut menurun.
Banyak prajurit mulai mempertanyakan makna pengabdian mereka. Tujuan perang tidak kunjung jelas. Pengorbanan terasa sia-sia. Kondisi ini memicu krisis legitimasi internal di tubuh militer.
Upaya Israel Menangani Krisis Mental
Pemerintah Israel membangun sistem layanan kesehatan mental khusus untuk prajurit. Kementerian Pertahanan dan IDF mengerahkan unit intervensi krisis dekat zona konflik. Unit ini memberikan konseling segera setelah trauma terjadi.
Untuk jangka panjang, Israel membentuk pusat rehabilitasi psikiatri militer. Layanan ini mencakup terapi individu, terapi kelompok, dan terapi keluarga. Tujuannya memulihkan kondisi psikologis prajurit dan keluarga mereka.
Pemerintah juga memperkuat dukungan teman sebaya di unit militer. Prajurit dilatih mengenali tanda gangguan jiwa pada rekan mereka. Kampanye anti-stigma digencarkan agar prajurit berani mencari bantuan.
Israel mengembangkan aplikasi digital untuk pemantauan kesehatan mental. Terapi daring disediakan untuk prajurit di lokasi terpencil. Knesset mengalokasikan anggaran khusus untuk penelitian PTSD dan meningkatkan tunjangan disabilitas veteran.
Kolaborasi dengan organisasi sipil seperti Thank Israeli Soldiers dan Brothers in Arms turut diperluas. Dukungan sosial dan bantuan hukum diberikan kepada prajurit terdampak.
Namun lonjakan kasus terjadi terlalu cepat. Kapasitas layanan kewalahan. Antrean perawatan memanjang. Jumlah tenaga psikiatri militer masih terbatas.
Masalah Sistemik di Tubuh Militer Israel
Militer Israel menghadapi krisis kepercayaan internal. Banyak prajurit menilai IDF semakin dipolitisasi. Misi militer dianggap melayani agenda politik tertentu, bukan murni kepentingan keamanan nasional.
Konflik asimetris yang berkepanjangan juga menekan mental prajurit. IDF dirancang untuk perang singkat dan menentukan. Kenyataannya, mereka terjebak dalam perang tanpa ujung yang jelas.
Di tingkat sosial, jarak antara militer dan warga sipil makin lebar. Beban perang dipikul kelompok tertentu. Banyak prajurit merasa kurang mendapat dukungan nasional.
Keterbatasan anggaran memperburuk kondisi. Israel harus menghadapi ancaman dari Hamas, Hezbollah, dan Iran secara bersamaan. Laporan kekurangan alat pelindung dan kegagalan intelijen menurunkan kepercayaan prajurit pada komando.
Masalah kepemimpinan muncul di berbagai level. Promosi berbasis loyalitas politik menciptakan kesenjangan kompetensi. Budaya tutup mulut menghambat perbaikan struktural.
Dilema moral operasi di wilayah sipil Gaza meninggalkan trauma kolektif. Banyak prajurit bergulat dengan konflik batin. Pemulihan psikologis pasca-tugas sering tidak memadai. Tekanan untuk kembali bertugas datang terlalu cepat.
Waspada Agenda Amerika dan Israel
Isu Gaza juga memicu kewaspadaan di tingkat global. Pendiri FPCI Dino Patti Djalal menilai Dewan Perdamaian gagasan Presiden AS Donald Trump bukan solusi akhir bagi kemerdekaan Palestina.
Dino menyoroti sikap Trump yang sulit diprediksi dan penolakan Israel terhadap negara Palestina. Ia menyebut kondisi ini berpotensi menghambat tujuan Dewan Perdamaian sesuai mandat DK PBB.
Melalui pernyataan di media sosial X, Dino mendesak Indonesia bersikap tegas. Indonesia menjadi perwakilan negara mayoritas Muslim di Dewan Perdamaian.
Dino mengingatkan Indonesia untuk waspada terhadap agenda Trump dan Israel. Ia menegaskan pentingnya menjaga opsi keluar dari Dewan Perdamaian jika kepentingan Palestina terancam.
Ia mengakui Dewan Perdamaian dan Rencana 20 Poin Trump menjadi satu-satunya kesepakatan internasional yang ada untuk gencatan senjata Gaza. Keikutsertaan Indonesia dinilai realistis dalam situasi terbatas.
Resolusi DK PBB 2803 memberi peluang kecil bagi kemerdekaan Palestina melalui jaminan hak menentukan nasib sendiri. Dino meminta Indonesia terus menggelorakan perjuangan Palestina di semua forum internasional.
Ia juga mengingatkan risiko Dewan Perdamaian hanya menjadi kedok proyek kepentingan lain di Gaza. Indonesia diminta menjaga sikap agar Palestina tidak kembali dibungkam.



