Deadline – Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih menuai sorotan. Sejumlah peserta mengaku kecewa setelah mengalami kendala teknis saat mengikuti computer assisted test (CAT), Rabu 6 Mei 2026.
Keluhan muncul dari peserta seleksi Manajer Koperasi Merah Putih di berbagai daerah. Di Bandar Lampung, tes digelar di dua lokasi, yaitu Universitas Malahayati dan Sekolah Al-Kautsar. Khusus di Al-Kautsar, ujian dibagi tiga sesi: pukul 08.00 WIB, 10.00 WIB, dan 13.00 WIB.
Peserta diminta hadir 30 menit sebelum ujian. Mereka mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan sepatu hitam. Panitia memeriksa kelengkapan, lalu peserta menunggu di tenda sebelum masuk ruang tes.
Setelah ujian, ekspresi peserta berbeda. Sebagian tampak puas. Sebagian lain terlihat murung. Mereka mengaku tidak bisa mengerjakan soal secara optimal karena gangguan sistem.
Gangguan Teknis Jadi Sorotan
Pratama (29), peserta asal Bandar Lampung, mengaku mengalami masalah saat mengikuti tes yang terdiri dari tujuh tahap.
Keluhan serupa ramai dibahas di media sosial. Salah satu peserta peserta seleksi Manajer Koperasi Merah Putih membagikan pengalaman yang memicu kekhawatiran.
Ia mengaku sistem ujian tidak berjalan normal. Jawaban yang sudah dipilih disebut bisa berubah sendiri saat dibuka kembali.
“Jawaban yang sudah disimpan tiba-tiba berubah saat dicek lagi,” ujarnya.
Pernyataan ini memunculkan pertanyaan serius. Jika jawaban bisa berubah tanpa kendali peserta, maka hasil tes ikut dipertanyakan.
Kepercayaan Peserta Mulai Goyah
Gangguan teknis berdampak langsung pada sikap peserta seleksi Manajer Koperasi Merah Putih. Ada yang memilih mengerjakan soal secara asal karena merasa hasilnya tidak lagi bisa dikontrol.
“Yang penting terisi,” kata peserta tersebut.
Pernyataan ini menunjukkan penurunan kepercayaan. Dari awalnya berusaha maksimal, berubah menjadi sekadar menyelesaikan kewajiban.
Pada titik ini, masalah tidak lagi soal teknis. Ini menyangkut kepercayaan terhadap proses seleksi.
“Aku sudah tidak percaya sama prosesnya,” ujar peserta itu.
Program Besar, Tantangan Besar
Program Koperasi Desa Merah Putih sejak awal menarik minat tinggi. Ribuan peserta mendaftar dengan harapan bisa berkontribusi pada ekonomi desa.
Bagi banyak peserta, posisi manajer bukan sekadar pekerjaan. Ini peluang untuk terlibat langsung dalam pembangunan ekonomi berbasis desa.
Namun, kendala teknis dalam seleksi justru memunculkan keraguan.
Transparansi Jadi Kunci
Kasus ini menegaskan pentingnya sistem seleksi yang transparan. Teknologi seharusnya meningkatkan efisiensi, bukan menimbulkan masalah baru.
Gangguan teknis bisa terjadi. Namun, tanpa penjelasan resmi dan penanganan cepat, dampaknya bisa meluas.
Kini perhatian tertuju pada penyelenggara. Peserta menunggu kejelasan. Apakah akan ada evaluasi sistem atau klarifikasi resmi.
Di balik seleksi ini, ada harapan besar dari ribuan peserta. Harapan itu bergantung pada satu hal: proses yang adil dan bisa dipercaya.



