Deadline – Rakyat takut bicara politik menjadi sorotan setelah pendiri SMRC, Saiful Mujani, menyebut mayoritas warga kini enggan menyampaikan pandangan politik. Data survei menunjukkan tren ketakutan itu meningkat sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Saiful Mujani mengungkapkan, pada Oktober 2024 saat Prabowo dilantik, sebanyak 51 persen warga menyatakan takut berbicara politik. Angka ini naik menjadi 53 persen dalam survei Maret 2026.
“Sekarang lebih banyak orang yang menyatakan masyarakat takut bicara politik,” kata Saiful dalam keterangannya, Minggu (3/5/2026).
Data Panjang Sejak 2004, Tren Ketakutan Terlihat Jelas
Survei dengan pertanyaan yang sama telah dilakukan sejak 2004. Saat itu, hanya 24 persen warga yang merasa takut berbicara politik.
Angka sempat turun menjadi 14 persen pada Juli 2004. Namun, tren berubah dalam beberapa tahun terakhir. Pada Mei 2019, ketakutan naik menjadi 43 persen.
Sejak Oktober 2024 hingga Maret 2026, mayoritas warga konsisten menyatakan ada rasa takut dalam membicarakan politik.
Persepsi Abaikan Konstitusi Meningkat
Survei juga mengukur pandangan publik terhadap kepatuhan pemerintah pada konstitusi dan hukum.
Hasil Maret 2026 menunjukkan 51 persen warga menilai pemerintah sering atau selalu mengabaikan konstitusi dan peraturan.
Sebaliknya, 38 persen menyatakan pemerintah jarang atau tidak pernah melanggar. Angka ini menunjukkan adanya perbedaan tajam dalam persepsi publik.
Ketakutan Penangkapan Semena-mena Ikut Naik
Rasa takut tidak hanya terkait bicara politik. Survei juga mencatat kekhawatiran terhadap tindakan aparat.
Pada Februari 2024, hanya 36 persen warga merasa takut akan penangkapan semena-mena.
Angka itu naik menjadi 51 persen pada Oktober 2024. Pada Maret 2026, jumlahnya kembali meningkat menjadi 58 persen.
Saiful menyebut lonjakan ini terjadi dalam waktu singkat dan menunjukkan perubahan persepsi publik yang signifikan.
Dinamika Politik dan Respons Publik
Pernyataan Saiful Mujani memicu reaksi dari berbagai pihak. Presidium 08 mendatangi Bareskrim untuk meminta perkembangan laporan terhadap Saiful.
Di sisi lain, aktivis dan akademisi juga berkumpul di Ciputat untuk menyatakan dukungan terhadapnya.
Situasi ini memperlihatkan dinamika politik yang terus berkembang, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap kebebasan berpendapat.



